alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Ipung Purwadi Qutbi, Pengacara yang Menguasai Enam Bahasa Asing

Ipung Purwadi Qutbi, 49 salah satu pengacara Banyuwangi yang masih eksis menangani sejumlah perkara. Tidak banyak yang tahu jika pria yang tinggal di Jalan Mataram nomor 9, Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Taman Baru ini menguasai berbagai bahasa asing.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Membaca adalah jendela dunia. Dari ketekunan membaca telah mengantarkan Ipung hingga keliling dunia. Itulah mungkin yang di rasakan dan dialami oleh H Ipung Purwadi Qutbi. Lelaki 49 tahun itu sudah rutin membaca koran sejak duduk di bangku kelas 1 SMP.

Karena tidak memiliki banyak uang, untuk sekadar dapat membaca koran Jawa Pos, dia kerap membeli eceran. Bahkan, juga ikut nimbrung membaca di tempat salah seorang guru yang telah berlangganan koran.

Kebiasaan membaca koran itu seolah sudah mendarah daging hingga saat ini. Tak heran, jika dalam sehari saja tidak melihat wajah koran terbaru, dia selalu kebingungan. ”Kalau tidak ada koran saya selalu tanyakan kepada istri dan anak saya. Kalau memang tidak ada, saya keluar cari dan beli koran,” ungkapnya.

Lulus SMA tahun 1990, Ipung kuliah di Balai Pengembangan Latihan Pariwisata, yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata di Jimbaran, Bali. Dia juga pernah menjadi wartawan di salah satu media ternama di Bali. Saat itu, dia yang bekerja sebagai public relation di Sahid Hotel Bali, kerap bertemu dengan artis dan tokoh nasional. Ketika itulah, Ipung kerap mewawancarai tokoh nasional dan artis yang bermalam di hotel tersebut.

Hebatnya, tulisan kliping koran hasil karyanya itu masih tersimpan dan tertata rapi hingga kini. Dari ketekunannya itu pada bulan April tahun 1994, dia memutuskan untuk bekerja di kapal pesiar dan mengantarkannya keliling dunia.

”Saat saya berlayar di tengah samudera, saya diberi kabar kakak saya jika ada koran lokal di Banyuwangi yang merupakan grup Jawa Pos. Sayang, saat itu saya tidak sempat membaca edisi pertama koran Radar Banyuwangi,” kenang Ipung.

Selama lebih kurang enam tahun berlayar dan keliling dunia, baru pada tahun 2000 dia akhirnya memutuskan untuk pulang kampung di Banyuwangi. Sejak itulah, dia langsung berlangganan koran Jawa Pos Radar Banyuwangi.    

Tidak sekadar berlangganan, koran Jawa Pos Radar Banyuwangi terbitan tahun 2001 hingga tahun 2011 dikumpulkan hingga sebanyak dua dos lemari es. Jika disusun, tinggi koran koleksi selama 10 tahun itu melebihi tinggi badannya.

Tumpukan koran bekas tersebut tidak hanya menjadi sebuah koleksi, tapi juga lebih dari catatan sejarah perjalanan kepemimpinan bangsa di Kabupaten ujung timur pulau Jawa ini. Terkadang, dia juga kembali membuka dan membaca kembali koran-koran edisi beberapa tahun silam tersebut. Tujuannya tak lain adalah kembali mengenang atau me-review kembali informasi kala itu.

Yang masih sering dia buka yakni koran edisi tahun 2010. Saat itu, visi/misi dan janji-janji Bupati tertuang jelas di koran. Dari situlah, dia kerap menganalisis program mana saja yang sudah terwujud dan belum dilakukan.

”Saya sering menulis opini di koran. Bahkan, opini yang dimuat Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi Jumat, 12 Februari 2010 silam, saya pernah menulis dengan judul ’Andai Aku Jadi Bupati Banyuwangi’. Pada tulisan itu, saya menuliskan angan-angan saya jika jadi Bupati. Kok tidak tahunya apa yang saya tulis saat itu, banyak sudah terwujud saat ini,” ujarnya terkekeh-kekeh.

Meski usianya tak muda lagi dan sudah berkeliling dunia, lantas tak membuat Ipung puas. Dia tetap menimba ilmu di Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi dan lulus mendapat gelar sarjana hukum tahun 2009 lalu.

Selanjutnya pada tahun 2011 mulai magang sebagai pengacara. Saat baru menjadi pengacara, dia juga ikut datang ke acara Musyawarah Nasional (Munas) di Makassar bersama sembilan orang delegasi Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Banyuwangi.

Selama menjadi pengacara itu, dia juga pernah langsung terlibat menangani sejumlah perkara yang boleh dibilang cukup besar di Banyuwangi. Sebut saja kasus pembunuhan Rosan warga Desa Karangsari yang dibunuh oleh Habib. Kasus itu dia ikuti mulai dari tingkat penyidikan hingga putusan di Pengadilan Negeri Banyuwangi. ”Saat itu saya mengikuti persis kasus itu, karena masih magang di kantor pengacara Siti Nurhayati,” jelas alumni SMA 1 Giri ini.

Sejak menjadi pengacara dan tergabung dalam Peradi, Ipung pernah menyelesaikan perkara non-litigasi atau menyelesaikan masalah hukum di luar pengadilan. Kliennya adalah warga negara asing (WNA). Jalur non-litigasi dikenal dengan penyelesaian sengketa alternatif. Penyelesaian perkara di luar pengadilan ini diakui di dalam peraturan perundangan di Indonesia.  ”Alhamdulillah, berhasil dan tuntas,” terang bapak satu anak ini.

Kemampuannya dalam berbahasa asing sudah tak bisa diragukan lagi. Itu tak lain adalah berkah ilmu yang dipelajari saat masih menjadi karyawan di kapal pesiar. Sedikitnya ada enam bahasa asing yang telah dia pelajari, seperti di antaranya bahasa Inggris, Jerman, Itali, Spanyol, Tagalog (Filipina), dan Jamaika.

Tidak hanya itu, dia juga menguasai dengan mahir bahasa Bali, Madura, dan Sunda. ”Intinya saya senang membaca, dan setiap hal baru saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Termasuk mempelajari bahasa asing. Tapi memang kemampuan berbahasa asing itu harus sering dipraktikkan agar tidak luntur,” tandasnya.

Ipung Purwadi Qutbi, 49 salah satu pengacara Banyuwangi yang masih eksis menangani sejumlah perkara. Tidak banyak yang tahu jika pria yang tinggal di Jalan Mataram nomor 9, Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Taman Baru ini menguasai berbagai bahasa asing.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Membaca adalah jendela dunia. Dari ketekunan membaca telah mengantarkan Ipung hingga keliling dunia. Itulah mungkin yang di rasakan dan dialami oleh H Ipung Purwadi Qutbi. Lelaki 49 tahun itu sudah rutin membaca koran sejak duduk di bangku kelas 1 SMP.

Karena tidak memiliki banyak uang, untuk sekadar dapat membaca koran Jawa Pos, dia kerap membeli eceran. Bahkan, juga ikut nimbrung membaca di tempat salah seorang guru yang telah berlangganan koran.

Kebiasaan membaca koran itu seolah sudah mendarah daging hingga saat ini. Tak heran, jika dalam sehari saja tidak melihat wajah koran terbaru, dia selalu kebingungan. ”Kalau tidak ada koran saya selalu tanyakan kepada istri dan anak saya. Kalau memang tidak ada, saya keluar cari dan beli koran,” ungkapnya.

Lulus SMA tahun 1990, Ipung kuliah di Balai Pengembangan Latihan Pariwisata, yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata di Jimbaran, Bali. Dia juga pernah menjadi wartawan di salah satu media ternama di Bali. Saat itu, dia yang bekerja sebagai public relation di Sahid Hotel Bali, kerap bertemu dengan artis dan tokoh nasional. Ketika itulah, Ipung kerap mewawancarai tokoh nasional dan artis yang bermalam di hotel tersebut.

Hebatnya, tulisan kliping koran hasil karyanya itu masih tersimpan dan tertata rapi hingga kini. Dari ketekunannya itu pada bulan April tahun 1994, dia memutuskan untuk bekerja di kapal pesiar dan mengantarkannya keliling dunia.

”Saat saya berlayar di tengah samudera, saya diberi kabar kakak saya jika ada koran lokal di Banyuwangi yang merupakan grup Jawa Pos. Sayang, saat itu saya tidak sempat membaca edisi pertama koran Radar Banyuwangi,” kenang Ipung.

Selama lebih kurang enam tahun berlayar dan keliling dunia, baru pada tahun 2000 dia akhirnya memutuskan untuk pulang kampung di Banyuwangi. Sejak itulah, dia langsung berlangganan koran Jawa Pos Radar Banyuwangi.    

Tidak sekadar berlangganan, koran Jawa Pos Radar Banyuwangi terbitan tahun 2001 hingga tahun 2011 dikumpulkan hingga sebanyak dua dos lemari es. Jika disusun, tinggi koran koleksi selama 10 tahun itu melebihi tinggi badannya.

Tumpukan koran bekas tersebut tidak hanya menjadi sebuah koleksi, tapi juga lebih dari catatan sejarah perjalanan kepemimpinan bangsa di Kabupaten ujung timur pulau Jawa ini. Terkadang, dia juga kembali membuka dan membaca kembali koran-koran edisi beberapa tahun silam tersebut. Tujuannya tak lain adalah kembali mengenang atau me-review kembali informasi kala itu.

Yang masih sering dia buka yakni koran edisi tahun 2010. Saat itu, visi/misi dan janji-janji Bupati tertuang jelas di koran. Dari situlah, dia kerap menganalisis program mana saja yang sudah terwujud dan belum dilakukan.

”Saya sering menulis opini di koran. Bahkan, opini yang dimuat Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi Jumat, 12 Februari 2010 silam, saya pernah menulis dengan judul ’Andai Aku Jadi Bupati Banyuwangi’. Pada tulisan itu, saya menuliskan angan-angan saya jika jadi Bupati. Kok tidak tahunya apa yang saya tulis saat itu, banyak sudah terwujud saat ini,” ujarnya terkekeh-kekeh.

Meski usianya tak muda lagi dan sudah berkeliling dunia, lantas tak membuat Ipung puas. Dia tetap menimba ilmu di Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi dan lulus mendapat gelar sarjana hukum tahun 2009 lalu.

Selanjutnya pada tahun 2011 mulai magang sebagai pengacara. Saat baru menjadi pengacara, dia juga ikut datang ke acara Musyawarah Nasional (Munas) di Makassar bersama sembilan orang delegasi Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Banyuwangi.

Selama menjadi pengacara itu, dia juga pernah langsung terlibat menangani sejumlah perkara yang boleh dibilang cukup besar di Banyuwangi. Sebut saja kasus pembunuhan Rosan warga Desa Karangsari yang dibunuh oleh Habib. Kasus itu dia ikuti mulai dari tingkat penyidikan hingga putusan di Pengadilan Negeri Banyuwangi. ”Saat itu saya mengikuti persis kasus itu, karena masih magang di kantor pengacara Siti Nurhayati,” jelas alumni SMA 1 Giri ini.

Sejak menjadi pengacara dan tergabung dalam Peradi, Ipung pernah menyelesaikan perkara non-litigasi atau menyelesaikan masalah hukum di luar pengadilan. Kliennya adalah warga negara asing (WNA). Jalur non-litigasi dikenal dengan penyelesaian sengketa alternatif. Penyelesaian perkara di luar pengadilan ini diakui di dalam peraturan perundangan di Indonesia.  ”Alhamdulillah, berhasil dan tuntas,” terang bapak satu anak ini.

Kemampuannya dalam berbahasa asing sudah tak bisa diragukan lagi. Itu tak lain adalah berkah ilmu yang dipelajari saat masih menjadi karyawan di kapal pesiar. Sedikitnya ada enam bahasa asing yang telah dia pelajari, seperti di antaranya bahasa Inggris, Jerman, Itali, Spanyol, Tagalog (Filipina), dan Jamaika.

Tidak hanya itu, dia juga menguasai dengan mahir bahasa Bali, Madura, dan Sunda. ”Intinya saya senang membaca, dan setiap hal baru saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Termasuk mempelajari bahasa asing. Tapi memang kemampuan berbahasa asing itu harus sering dipraktikkan agar tidak luntur,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/