alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Berbekal Sepeda Tua Teguh Mukti Gowes dari Klaten, Mandalika, dan IKN

KALIPURO – Teguh Mukti Wibowo, 61, baru saja menuntaskan misi perjalanan menggunakan sepeda kayuh dari Klaten, Jawa Tengah menuju kota Sabang, Aceh pada akhir Maret 2022 lalu. Selang dua hari  kemudian, Teguh kembali melanjutkan misi kedua perjalanannya dengan tujuan calon Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Sepeda tua bermerek Phoenix dengan bermacam stiker terparkir di halaman salah satu rumah di Perumnas Kalipuro Asri, Kelurahan Kalipuro, kemarin siang (10/4). Di depan sepeda itu tertulis empat nama lokasi, Klaten, Mandalika, Toraja, dan IKN.

Sepeda itu rupanya milik Teguh Mukti Wibowo, 61, seorang pria asal Desa Belangwetan, Klaten Utara, Kabupaten Klaten yang berangkat sejak 1 April lalu menuju calon Ibu Kota Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Di dalam rumah, Teguh yang tengah melepas penat tampak duduk santai dengan kaus oblong dan celana pendeknya. “Saya baru saja sampai. Tadi mampir lewat Watudodol dulu,” kata Teguh.

Sambil menyandarkan punggungnya di kursi Teguh menegaskan akan menempuh perjalanan beratus-ratus kilometer dengan tujuan utama IKN. Sebelum ke IKN, Teguh ingin lebih dahulu menyambangi sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Baru setelah itu ke Toraja, lalu melanjutkan perjalanan menuju IKN. “Perjalanan kedua ini motivasi saya pribadi. Saya ingin melihat tempat-tempat yang dibangun Jokowi sebelum saya mati. Minimal saya lihat titik nolnya,” ucap Teguh tersenyum.

Tanpa menunjukkan gurat kelelahan, Teguh bercerita awalnya dirinya bukan pesepeda. Baru bulan Desember lalu dia mulai berlatih menggunakan sepeda untuk jarak jauh. Perjalanan panjangnya dimulai ketika iseng ke teman-temanya jika ingin bersepeda hingga ke masjid raya Baiturrahman Aceh. Teguh ingin merasakan perjalanan spiritual sekaligus bertobat ke masjid yang pernah diterjang Tsunami tahun 2004 silam tersebut.

Ucapan Teguh dianggap bahan guyonan oleh teman-temanya. Bukanya menciut, Teguh justru termotivasi. Hari itu dia pergi ke pasar sepeda Jatinom, Klaten untuk membeli sebuah sepeda. Akhirnya dibelinya sebuah sepeda lama merek Phoenix seharga Rp 570 ribu. Setelah itu, Teguh mulai belajar naik sepeda dengan jarak jauh. Dengan harapan tubuhnya bisa terbiasa.

Selama 19 hari, Teguh bersepeda dengan jarak tempuh antara 3 sampai 10 kilometer per hari. “Tanggal 21 Desember saya beranikan berangkat, tanggal 18 Februari saya sampai di Aceh. Saya lewat Lampung, Palembangm Jambi, Riau, Medan, Banda Aceh sampai ke Sabang,” ungkap Teguh.

Tanggal 30 Maret, Teguh tiba di Jogjakarta. Tiba-tiba terbersit keinginannya untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya dia pun kembali ke Klaten, kemudian esoknya pada tanggal 1 April kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah timur Indonesia. Melalui beberapa kota di Jawa hingga kemudian sampai ke Banyuwangi. “Kalau saya berhenti, takutnya justru malas. Jadi saya lanjutkan saja, saya ingin melihat seperti apa mandalika, seperti apa IKN,” kata Teguh.

Perjalanan kali ini tak kalah berat. Teguh  sudah memiliki pengalaman dari perjalanan sebelumnya. Selama perjalanan, Teguh mengaku tak pernah lupa mengonsumsi susu beruang. Sesekali dia juga mengonsumsi madu dan kurma. Untuk logistik, dia banyak dibantu oleh para dermawan, baik itu teman, kenalan, bahkan orang-orang selama perjalanan. “Kalau mengandalkan uang sendiri, ya sudah habis. Saya dibantu teman-teman dan orang baik selama perjalanan,’’ ungkapnya.

Teguh menargetkan, tak sampai dua bulan bisa kembali lagi ke Klaten setelah melewati pulau Sulawesi dan Kalimantan. Teguh berencana ke Pangkalan Bun sebelum kemudian kembali ke Klaten lewat Semarang. Pria yang memiliki hobi membaca itu berharap bisa melanjutkan gowes sampai ke Brunei dan Malaysia dengan catatan ada dermawan yang membantunya membuat paspor. “Inginya keliling lagi, tapi ya tidak tahu nanti. Ada yang membantu atau tidak, yang penting saya bisa melihat IKN,” cetusnya.

KALIPURO – Teguh Mukti Wibowo, 61, baru saja menuntaskan misi perjalanan menggunakan sepeda kayuh dari Klaten, Jawa Tengah menuju kota Sabang, Aceh pada akhir Maret 2022 lalu. Selang dua hari  kemudian, Teguh kembali melanjutkan misi kedua perjalanannya dengan tujuan calon Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Sepeda tua bermerek Phoenix dengan bermacam stiker terparkir di halaman salah satu rumah di Perumnas Kalipuro Asri, Kelurahan Kalipuro, kemarin siang (10/4). Di depan sepeda itu tertulis empat nama lokasi, Klaten, Mandalika, Toraja, dan IKN.

Sepeda itu rupanya milik Teguh Mukti Wibowo, 61, seorang pria asal Desa Belangwetan, Klaten Utara, Kabupaten Klaten yang berangkat sejak 1 April lalu menuju calon Ibu Kota Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Di dalam rumah, Teguh yang tengah melepas penat tampak duduk santai dengan kaus oblong dan celana pendeknya. “Saya baru saja sampai. Tadi mampir lewat Watudodol dulu,” kata Teguh.

Sambil menyandarkan punggungnya di kursi Teguh menegaskan akan menempuh perjalanan beratus-ratus kilometer dengan tujuan utama IKN. Sebelum ke IKN, Teguh ingin lebih dahulu menyambangi sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Baru setelah itu ke Toraja, lalu melanjutkan perjalanan menuju IKN. “Perjalanan kedua ini motivasi saya pribadi. Saya ingin melihat tempat-tempat yang dibangun Jokowi sebelum saya mati. Minimal saya lihat titik nolnya,” ucap Teguh tersenyum.

Tanpa menunjukkan gurat kelelahan, Teguh bercerita awalnya dirinya bukan pesepeda. Baru bulan Desember lalu dia mulai berlatih menggunakan sepeda untuk jarak jauh. Perjalanan panjangnya dimulai ketika iseng ke teman-temanya jika ingin bersepeda hingga ke masjid raya Baiturrahman Aceh. Teguh ingin merasakan perjalanan spiritual sekaligus bertobat ke masjid yang pernah diterjang Tsunami tahun 2004 silam tersebut.

Ucapan Teguh dianggap bahan guyonan oleh teman-temanya. Bukanya menciut, Teguh justru termotivasi. Hari itu dia pergi ke pasar sepeda Jatinom, Klaten untuk membeli sebuah sepeda. Akhirnya dibelinya sebuah sepeda lama merek Phoenix seharga Rp 570 ribu. Setelah itu, Teguh mulai belajar naik sepeda dengan jarak jauh. Dengan harapan tubuhnya bisa terbiasa.

Selama 19 hari, Teguh bersepeda dengan jarak tempuh antara 3 sampai 10 kilometer per hari. “Tanggal 21 Desember saya beranikan berangkat, tanggal 18 Februari saya sampai di Aceh. Saya lewat Lampung, Palembangm Jambi, Riau, Medan, Banda Aceh sampai ke Sabang,” ungkap Teguh.

Tanggal 30 Maret, Teguh tiba di Jogjakarta. Tiba-tiba terbersit keinginannya untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya dia pun kembali ke Klaten, kemudian esoknya pada tanggal 1 April kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah timur Indonesia. Melalui beberapa kota di Jawa hingga kemudian sampai ke Banyuwangi. “Kalau saya berhenti, takutnya justru malas. Jadi saya lanjutkan saja, saya ingin melihat seperti apa mandalika, seperti apa IKN,” kata Teguh.

Perjalanan kali ini tak kalah berat. Teguh  sudah memiliki pengalaman dari perjalanan sebelumnya. Selama perjalanan, Teguh mengaku tak pernah lupa mengonsumsi susu beruang. Sesekali dia juga mengonsumsi madu dan kurma. Untuk logistik, dia banyak dibantu oleh para dermawan, baik itu teman, kenalan, bahkan orang-orang selama perjalanan. “Kalau mengandalkan uang sendiri, ya sudah habis. Saya dibantu teman-teman dan orang baik selama perjalanan,’’ ungkapnya.

Teguh menargetkan, tak sampai dua bulan bisa kembali lagi ke Klaten setelah melewati pulau Sulawesi dan Kalimantan. Teguh berencana ke Pangkalan Bun sebelum kemudian kembali ke Klaten lewat Semarang. Pria yang memiliki hobi membaca itu berharap bisa melanjutkan gowes sampai ke Brunei dan Malaysia dengan catatan ada dermawan yang membantunya membuat paspor. “Inginya keliling lagi, tapi ya tidak tahu nanti. Ada yang membantu atau tidak, yang penting saya bisa melihat IKN,” cetusnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/