alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Usia Tujuh Dekade, Tanem dan Tandur Rajin ke Sawah Berdua

Tanem dan Tandur punya pengalaman tak enak. Keduanya demam saat pakaian yang dikenakan tak sama. Sedangkan Jihan Cahyarani (Rani) dan Jihan Cahyarini (Jihan) terpingkal-pingkal. Kembar identik ini teringat saat teman lelaki Jihan salah kirim chat kepada Rani.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tandur berarti ’tanam’. Sedangkan kata tanam dalam kosa kata Jawa (Krama) disebut tanem.

Sementara itu, di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, ada sepasang perempuan kembar identik dengan nama Tanem dan Tandur. Sejak bayi hingga kini berusia 74 tahun, keduanya tetap kompak. Sejak kecil mereka selalu mengenakan pakaian dengan model dan motif yang sama.

Bahkan, mereka teringat saat di bulan Ramadan dibelikan baju yang berbeda oleh orang tuanya. Kedua perempuan yang lahir pada 6 Maret 1945, itu langsung sakit. Demam.

Hingga kini, saat usianya sudah tujuh dekade lebih, mereka masih sering bekerja di sawah berdua. Tandur atau tanem padi pun nyaris selalu mereka jalani berbarengan. ”Saat musim tanam, kami selalu tandur bareng di sawah kami berdua. Rumah kami pun jejer. Hanya berjarak sekitar lima meter. Dan masing-masing suami kami tidak melarang,” ujar Tandur diiyakan Tanem saat dikonfirmasi di sela acara Festival Kembar yang digelar Pemkab Banyuwangi di depan Gesibu Blambangan, Senin (9/7).

Baca Juga :  Kembali Geluti Dunia Usaha, Legislator Tionghoa Ini Tak Nyaleg di 2019

Di sisi lain, meski tidak kembar, suami Tanem dan Tandur memiliki nama yang mirip, yakni Poniran dan Ponari. Entah karena chemistry dengan istri masing-masing sangat kuat atau karena super hati-hati, meskipun rumah keduanya berdekatan dan pakaian yang dikenakan istri masing-masing sama, Poniran maupun Ponari tidak pernah salah mengira bahwa Tanem adalah Tandur dan sebaliknya. ”Suami kami tidak pernah salah memanggil kok,” kata Tandur sembari tersenyum.

Sekadar diketahui, pasangan Tanem dan Ponari dikaruniai enam anak dan tujuh cucu. Sedangkan Tandur dan Poniran memiliki tujuh anak dan 14 cucu. Menariknya lagi, di antara 14 cucu Tandur, dua di antaranya kembar, yakni Selvia dan Yongky. Cucu kembar tersebut merupakan anak dari putra pertama Tandur dan Poniran, Suroyo.

Baca Juga :  Letusan Gunung Raung Bertipe Strombolian, Potensi Bahaya Sekitar Kawah

Sementara itu, berbeda dengan Tanem dan Tandur, Jihan Cahyarani dan Jihan Cahyarini punya pengalaman salah pasangan. Teman laki-laki Jihan –sapaan Jihan Cahyarani– pernah salah mengirim chat (pesan singkat berbasis internet) kepada Rani –sapaan karib Jihan Cahyarani).

Beruntung, chat salah sasaran itu tidak mengakibatkan keduanya berselisih. Sebaliknya, dua perempuan kelahiran 31 Maret 2001, itu justru tertawa. ”Mungkin karena foto di display picture sama,” kata dua siswi kelas XII IPA 5 SMA Muhammadiyah 2 Genteng tersebut.

Entah kebetulan atau bagaimana, teman laki-laki Jihan dan Rani juga dikenal kompak. Keduanya satu kelas di IPS 5 di sekolah yang sama.

Jihan mengaku, memiliki kembaran memberikan banyak nilai plus buat mereka berdua. Setidaknya, ketika tengah suntuk, mereka tidak bingung mencari teman curhat atau diajak jalan-jalan. ”Kan ada kembaran yang siap menemani,” pungkas Jihan. (aif/c1)

Tanem dan Tandur punya pengalaman tak enak. Keduanya demam saat pakaian yang dikenakan tak sama. Sedangkan Jihan Cahyarani (Rani) dan Jihan Cahyarini (Jihan) terpingkal-pingkal. Kembar identik ini teringat saat teman lelaki Jihan salah kirim chat kepada Rani.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tandur berarti ’tanam’. Sedangkan kata tanam dalam kosa kata Jawa (Krama) disebut tanem.

Sementara itu, di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, ada sepasang perempuan kembar identik dengan nama Tanem dan Tandur. Sejak bayi hingga kini berusia 74 tahun, keduanya tetap kompak. Sejak kecil mereka selalu mengenakan pakaian dengan model dan motif yang sama.

Bahkan, mereka teringat saat di bulan Ramadan dibelikan baju yang berbeda oleh orang tuanya. Kedua perempuan yang lahir pada 6 Maret 1945, itu langsung sakit. Demam.

Hingga kini, saat usianya sudah tujuh dekade lebih, mereka masih sering bekerja di sawah berdua. Tandur atau tanem padi pun nyaris selalu mereka jalani berbarengan. ”Saat musim tanam, kami selalu tandur bareng di sawah kami berdua. Rumah kami pun jejer. Hanya berjarak sekitar lima meter. Dan masing-masing suami kami tidak melarang,” ujar Tandur diiyakan Tanem saat dikonfirmasi di sela acara Festival Kembar yang digelar Pemkab Banyuwangi di depan Gesibu Blambangan, Senin (9/7).

Baca Juga :  Intan Box, Inovasi Inkubator Telur Penyu Tanpa Pasir

Di sisi lain, meski tidak kembar, suami Tanem dan Tandur memiliki nama yang mirip, yakni Poniran dan Ponari. Entah karena chemistry dengan istri masing-masing sangat kuat atau karena super hati-hati, meskipun rumah keduanya berdekatan dan pakaian yang dikenakan istri masing-masing sama, Poniran maupun Ponari tidak pernah salah mengira bahwa Tanem adalah Tandur dan sebaliknya. ”Suami kami tidak pernah salah memanggil kok,” kata Tandur sembari tersenyum.

Sekadar diketahui, pasangan Tanem dan Ponari dikaruniai enam anak dan tujuh cucu. Sedangkan Tandur dan Poniran memiliki tujuh anak dan 14 cucu. Menariknya lagi, di antara 14 cucu Tandur, dua di antaranya kembar, yakni Selvia dan Yongky. Cucu kembar tersebut merupakan anak dari putra pertama Tandur dan Poniran, Suroyo.

Baca Juga :  Meraih Derajat Takwa dengan Berpuasa

Sementara itu, berbeda dengan Tanem dan Tandur, Jihan Cahyarani dan Jihan Cahyarini punya pengalaman salah pasangan. Teman laki-laki Jihan –sapaan Jihan Cahyarani– pernah salah mengirim chat (pesan singkat berbasis internet) kepada Rani –sapaan karib Jihan Cahyarani).

Beruntung, chat salah sasaran itu tidak mengakibatkan keduanya berselisih. Sebaliknya, dua perempuan kelahiran 31 Maret 2001, itu justru tertawa. ”Mungkin karena foto di display picture sama,” kata dua siswi kelas XII IPA 5 SMA Muhammadiyah 2 Genteng tersebut.

Entah kebetulan atau bagaimana, teman laki-laki Jihan dan Rani juga dikenal kompak. Keduanya satu kelas di IPS 5 di sekolah yang sama.

Jihan mengaku, memiliki kembaran memberikan banyak nilai plus buat mereka berdua. Setidaknya, ketika tengah suntuk, mereka tidak bingung mencari teman curhat atau diajak jalan-jalan. ”Kan ada kembaran yang siap menemani,” pungkas Jihan. (aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Nyawa hilang Pada Seutas Tali

PKB Menyatu Dengan Masyarakat

Kecamatan Zona Oranye Bertambah Satu

Artikel Terbaru

/