Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features
Caping Gunung

Topi Tani pun Tembus Marketplace

10 Januari 2022, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Topi Tani pun Tembus Marketplace

TEPIAN LEBAR: Nelayan mengenakan caping saat menarik jaring di Pantai Pulau Santen, Banyuwangi. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

ADA yang menyebut caping gunung. Ada pula yang menyematkan julukan topi tani. Maklum, topi berbentuk kerucut yang terbuat anyaman bambu, memang identik dengan para petani.

Topi berbahan anyaman bambu jenis ini kerap digunakan oleh para petani –baik laki-laki maupun perempuan– saat beraktivitas di sawah. Mulai saat mengolah tanah, menyemai bibit, menanam padi alias tandur, matun atau mencabuti rumput, hingga saat panen.

Umumnya caping berukuran cukup lebar. Diameternya kurang lebih 40 centimeter (cm) dan tinggi sekitar tinggi 20 cm. Wujudnya yang lebar ini bertujuan untuk melindungi kepala dari sinar matahari.

Baca juga: Dulu Dop, Kini Pet

Topi Tani pun Tembus Marketplace

PELINDUNG KEPALA: Petani perempuan memanen padi di bawah terik sinar matahari di area persawahan di Banyuwangi. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Tidak semua jenis bambu lazim digunakan untuk bahan baku caping. Biasanya, bambu yang digunakan adalah jenis bambu yang tekstur batangnya halus, memiliki panjang ruas yang teratur, serta ringan.

Yang menarik, meskipun identik dengan petani yang oleh sebagian orang dianggap kurang mampu mengikuti perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi, nyatanya topi tani banyak dijual secara online. Tidak terkecuali di marketplace. Peminatnya pun cukup banyak. Terbukti, ada satu lapak di marketplace yang mampu menjual caping kerucut mirip bentuk gunung itu hingga nyaris 200 unit. Harganya pun bervariasi, mulai belasan ribu rupiah hingga nyaris Rp 100 ribu per unit.

Banyuwangi termasuk salah satu produsen caping gunung alias topi tani. Bahan baku bambu tersedia melimpah di sepanjang aliran sungai. Ada juga sentra penghasil bambu di lereng Gunung Raung. Selain itu, masyarakat Bumi Blambangan dikenal punya skill menganyam bambu. Bahkan, ada sentra kerajinan aneka macam anyaman bambu di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari. 

(bw/sgt/rbs/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia