alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Bikin Baru Oke, Reparasi pun Bisa

SINGOJURUH – Beduk. Benda yang satu ini tidak hanya berfungsi sebagai alat musik yang telah digunakan ratusan, bahkan ribuan tahun lampau. Lebih dari itu, beduk juga memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional. Termasuk, komunikasi yang berkaitan dengan ritual keagamaan.

Ya, di Banyuwangi beduk biasa dibunyikan untuk mengumumkan atau memberitahukan waktu salat. Di bulan Ramadan seperti saat ini, beduk juga biasa ditabuh untuk menandakan datangnya waktu berbuka puasa. Tidak hanya itu, di Hari Raya Idul Fitri, beduk kerap dibunyikan untuk mengiringi takbiran di masjid-masjid di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Pada zaman dahulu, beduk terbuat dari sepotong kayu berukuran besar yang biasanya berdiameter 50 sentimeter atau lebih. Bagian tengah batang kayu itu dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Kedua ujung batang yang telah dilubangi itu lantas ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, beduk menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Sedangkan di era kekinian, fungsi kayu itu biasanya digantikan oleh pelat besi. Sebab, batang kayu berukuran besar saat ini sangat sulit didapat. Kalaupun ada, harganya relatif lebih mahal jika dibandingkan besi.

Sementara itu, membahas beduk, warga Banyuwangi boleh bangga. Sebab, kabupaten the Sunrise of Java ini ternyata bukan sekadar user alias pengguna. Sebaliknya, sejumlah warga Bumi Blambangan merupakan produsen instrumen musik tabuh tersebut.

Salah satunya yakni Suhaimi alias Cak Imik, warga Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh. Selain beduk yang biasa dipasang di masjid atau musala, dia juga memproduksi beduk untuk kesenian hadrah atau kuntulan, plus alat-alat musik kesenian tradisional tersebut, seperti terbang alias rebana, jidor, pantus, gong, dan lain-lain.

Suhaimi mengaku mulai belajar membuat beduk, terbang, dan alat-alat musik tradisional itu sejak masih bujangan, yakni tahun 1990-an. Selanjutnya, sekitar tahun 2000, dia mulai memproduksi beduk, terbang, dan sebagainya. Pada perkembangan selanjutnya, Cak Imik memberanikan diri membuka usaha secara mandiri sekitar tahun 2005.

Suhaimi mengatakan, biasanya, ukuran beduk untuk masjid atau musala lebih besar dibandingkan beduk untuk kesenian hadrah atau kuntulan. Beduk untuk masjid atau musala berukuran panjang 1,25 meter dan diameter sekitar 1 meter. Sedangkan beduk untuk kesenian kuntulan berukuran panjang 90 sentimeter dan lebar 80 sentimeter.

Namun, kata Suhaimi, tidak jarang dia menerima order membuat beduk berukuran jumbo. Harganya pun bervariasi mulai 3,5 juta sampai Rp 8 juta, tergantung ukuran dan kualitas bahan, seperti pelat besi dan kulit.

Menurut Suhaimi, bahan baku kulit dia dapatkan dari pemasok alias jagal sapi. Dikatakan, untuk menghasilkan beduk dengan kualitas prima alias menghasilkan suara yang ”empuk” dan bergema, maka bahan baku yang digunakan adalah kulit sapi Jawa. Khususnya sapi betina. ”Kalau menggunakan kulit sapi jenis lain, suaranya kurang enak. Misalnya jika menggunakan kulit sapi Bali, suaranya terkesan berat,” kata dia.

Selain itu, imbuh Cak Imik, kulit sapi yang digunakan haruslah kulit sapi yang masih segar. Maksudnya, jika sapi dipotong di pagi hari, misalnya, maka kulit sapi tersebut harus sudah dia terima hari itu juga untuk langsung diproses menjadi bahan baku beduk. ”Jadi, kulit yang digunakan untuk bahan baku beduk tidak boleh kulit yang baru diproses sehari setelah sapi tersebut dipotong. Apalagi, kulit sapi yang sudah disimpan berhari-hari setelah dipotong,” bebernya.

Masih menurut Suhaimi, biasanya order membuat beduk –termasuk beduk untuk kuntulan— ramai jelang perayaan Maulid Nabi. Sedangkan order membuat beduk masjid kebanyakan datang menjelang bulan Ramadan.

Selain membuat beduk baru, Suhaimi juga kerap menerima order servis alias reparasi beduk. ”Saat ini kami menggarap servis dua unit beduk. Satu unit beduk asal Kecamatan Blimbingsari, satu lagi asal Songgon,” kata Kamis (7/4).

Suhaimi menambahkan, mengacu pengalaman tahun-tahun sebelumnya, order reparasi beduk biasanya semakin marak mulai pertengahan Ramadan hingga menjelang Lebaran. ”Tarif servis bervariasi, tergantung ukuran. Biasanya mulai Rp 400 ribu untuk satu sisi beduk ukuran diameter 85 sentimeter,” pungkasnya.

SINGOJURUH – Beduk. Benda yang satu ini tidak hanya berfungsi sebagai alat musik yang telah digunakan ratusan, bahkan ribuan tahun lampau. Lebih dari itu, beduk juga memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional. Termasuk, komunikasi yang berkaitan dengan ritual keagamaan.

Ya, di Banyuwangi beduk biasa dibunyikan untuk mengumumkan atau memberitahukan waktu salat. Di bulan Ramadan seperti saat ini, beduk juga biasa ditabuh untuk menandakan datangnya waktu berbuka puasa. Tidak hanya itu, di Hari Raya Idul Fitri, beduk kerap dibunyikan untuk mengiringi takbiran di masjid-masjid di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Pada zaman dahulu, beduk terbuat dari sepotong kayu berukuran besar yang biasanya berdiameter 50 sentimeter atau lebih. Bagian tengah batang kayu itu dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Kedua ujung batang yang telah dilubangi itu lantas ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, beduk menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Sedangkan di era kekinian, fungsi kayu itu biasanya digantikan oleh pelat besi. Sebab, batang kayu berukuran besar saat ini sangat sulit didapat. Kalaupun ada, harganya relatif lebih mahal jika dibandingkan besi.

Sementara itu, membahas beduk, warga Banyuwangi boleh bangga. Sebab, kabupaten the Sunrise of Java ini ternyata bukan sekadar user alias pengguna. Sebaliknya, sejumlah warga Bumi Blambangan merupakan produsen instrumen musik tabuh tersebut.

Salah satunya yakni Suhaimi alias Cak Imik, warga Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh. Selain beduk yang biasa dipasang di masjid atau musala, dia juga memproduksi beduk untuk kesenian hadrah atau kuntulan, plus alat-alat musik kesenian tradisional tersebut, seperti terbang alias rebana, jidor, pantus, gong, dan lain-lain.

Suhaimi mengaku mulai belajar membuat beduk, terbang, dan alat-alat musik tradisional itu sejak masih bujangan, yakni tahun 1990-an. Selanjutnya, sekitar tahun 2000, dia mulai memproduksi beduk, terbang, dan sebagainya. Pada perkembangan selanjutnya, Cak Imik memberanikan diri membuka usaha secara mandiri sekitar tahun 2005.

Suhaimi mengatakan, biasanya, ukuran beduk untuk masjid atau musala lebih besar dibandingkan beduk untuk kesenian hadrah atau kuntulan. Beduk untuk masjid atau musala berukuran panjang 1,25 meter dan diameter sekitar 1 meter. Sedangkan beduk untuk kesenian kuntulan berukuran panjang 90 sentimeter dan lebar 80 sentimeter.

Namun, kata Suhaimi, tidak jarang dia menerima order membuat beduk berukuran jumbo. Harganya pun bervariasi mulai 3,5 juta sampai Rp 8 juta, tergantung ukuran dan kualitas bahan, seperti pelat besi dan kulit.

Menurut Suhaimi, bahan baku kulit dia dapatkan dari pemasok alias jagal sapi. Dikatakan, untuk menghasilkan beduk dengan kualitas prima alias menghasilkan suara yang ”empuk” dan bergema, maka bahan baku yang digunakan adalah kulit sapi Jawa. Khususnya sapi betina. ”Kalau menggunakan kulit sapi jenis lain, suaranya kurang enak. Misalnya jika menggunakan kulit sapi Bali, suaranya terkesan berat,” kata dia.

Selain itu, imbuh Cak Imik, kulit sapi yang digunakan haruslah kulit sapi yang masih segar. Maksudnya, jika sapi dipotong di pagi hari, misalnya, maka kulit sapi tersebut harus sudah dia terima hari itu juga untuk langsung diproses menjadi bahan baku beduk. ”Jadi, kulit yang digunakan untuk bahan baku beduk tidak boleh kulit yang baru diproses sehari setelah sapi tersebut dipotong. Apalagi, kulit sapi yang sudah disimpan berhari-hari setelah dipotong,” bebernya.

Masih menurut Suhaimi, biasanya order membuat beduk –termasuk beduk untuk kuntulan— ramai jelang perayaan Maulid Nabi. Sedangkan order membuat beduk masjid kebanyakan datang menjelang bulan Ramadan.

Selain membuat beduk baru, Suhaimi juga kerap menerima order servis alias reparasi beduk. ”Saat ini kami menggarap servis dua unit beduk. Satu unit beduk asal Kecamatan Blimbingsari, satu lagi asal Songgon,” kata Kamis (7/4).

Suhaimi menambahkan, mengacu pengalaman tahun-tahun sebelumnya, order reparasi beduk biasanya semakin marak mulai pertengahan Ramadan hingga menjelang Lebaran. ”Tarif servis bervariasi, tergantung ukuran. Biasanya mulai Rp 400 ribu untuk satu sisi beduk ukuran diameter 85 sentimeter,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/