alexametrics
25.1 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Manusia Kolong Jembatan Itu Menolak Dipulangkan ke Daerah Asal

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Agus Santoso, 70, yang tinggal di bawah jembatan Sungai Setail yang menghubungkan Desa Genteng Kulon dengan Desa Setail Kecamatan Genteng, memilih bertahan dan menolak dikembalikan ke daerah asalnya di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.

Saat ditemui Camat Genteng Satrio bersama salah satu stafnya, Agus ditawari untuk diantar pulang ke rumahnya keluarganya di daerah Kecamatan Bangorejo. Tapi, tawaran itu ditolak. “Saya kerasan di sini, dan saya juga tidak punya apa-apa di sana (Bangorejo),” kata Agus Santoso.

Sejak pindah ke wilayah Kecamatan Genteng dan tinggal di kolong jembatan pada tahun 2000, hajat hidupnya sudah berpindah. Makanya, ia akan bertahan di tempatnya bawah jembatan Sungai Setail itu. “Saya di sini bisa hidup, lumayan dapat Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu sehari, bisa buat makan,” terangnya.

Baca Juga :  Sambil Tunggu Pelanggan, Terbiasa Baca Surat Yaasin dan Waqiah

Gagal membujuk Agus diantar pulang ke daerahnya di Kecamatan Bangorejo, Camat Satrio menawari rumah untuk hunian di Tanah Khas Desa (TKD) di Desa Genteng Kulon. “Akan kami relokasi ke tempat yang lebih layak,” kata Camat Genteng, Satrio.

Karena Agus belum memiliki kartu domisili atau Kartu Tanda Penduduk (KPT), pihaknya akan membuatkan dulu agar bisa mendapatkan bantuan. “Selama ini tidak punya KTP, secepatnya akan kami buatkan,” cetusnya.

Untuk membantu kebutuhannya, lanjut Camat, Agus akan diikutkan  program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Desa Genteng Kulon. Dari kuota 100 rumah, sampai saat ini baru 75 rumah yang mendapat bantuan. “Bisa ikut program itu atau program lain, rencananya akan kami buatkan di TKD Genteng Kulon,” jelasnya.

Baca Juga :  Ibu dan Anak Hidup dari Bantuan Tetangga

Meski Agus sudah lama menetap di bawah jembatan, Camat Satrio mengaku baru mengetahui. Dan selama ini, juga tidak pernah ada yang memberi informasi. “Selama ini pemerintah Desa Genteng kulon tidak pernah melaporkan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, Agus Santoso sejak tahun 2000 tinggal di bawah jembatan Sungai Setail, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Itu dilakukan setelah kakek yang pernah bekerja di Bali itu kehilangan kontak dengan kedua anaknya. Untuk makan, setiap hari menjadi juru parkir di Jalan KH Wahid Hasyim, Desa Genteng Kulon. (sas/abi)

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Agus Santoso, 70, yang tinggal di bawah jembatan Sungai Setail yang menghubungkan Desa Genteng Kulon dengan Desa Setail Kecamatan Genteng, memilih bertahan dan menolak dikembalikan ke daerah asalnya di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.

Saat ditemui Camat Genteng Satrio bersama salah satu stafnya, Agus ditawari untuk diantar pulang ke rumahnya keluarganya di daerah Kecamatan Bangorejo. Tapi, tawaran itu ditolak. “Saya kerasan di sini, dan saya juga tidak punya apa-apa di sana (Bangorejo),” kata Agus Santoso.

Sejak pindah ke wilayah Kecamatan Genteng dan tinggal di kolong jembatan pada tahun 2000, hajat hidupnya sudah berpindah. Makanya, ia akan bertahan di tempatnya bawah jembatan Sungai Setail itu. “Saya di sini bisa hidup, lumayan dapat Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu sehari, bisa buat makan,” terangnya.

Baca Juga :  Kisah Sulistyo, Penjual Sapu Asal Kapongan, Situbondo

Gagal membujuk Agus diantar pulang ke daerahnya di Kecamatan Bangorejo, Camat Satrio menawari rumah untuk hunian di Tanah Khas Desa (TKD) di Desa Genteng Kulon. “Akan kami relokasi ke tempat yang lebih layak,” kata Camat Genteng, Satrio.

Karena Agus belum memiliki kartu domisili atau Kartu Tanda Penduduk (KPT), pihaknya akan membuatkan dulu agar bisa mendapatkan bantuan. “Selama ini tidak punya KTP, secepatnya akan kami buatkan,” cetusnya.

Untuk membantu kebutuhannya, lanjut Camat, Agus akan diikutkan  program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Desa Genteng Kulon. Dari kuota 100 rumah, sampai saat ini baru 75 rumah yang mendapat bantuan. “Bisa ikut program itu atau program lain, rencananya akan kami buatkan di TKD Genteng Kulon,” jelasnya.

Baca Juga :  Ibu dan Anak Hidup dari Bantuan Tetangga

Meski Agus sudah lama menetap di bawah jembatan, Camat Satrio mengaku baru mengetahui. Dan selama ini, juga tidak pernah ada yang memberi informasi. “Selama ini pemerintah Desa Genteng kulon tidak pernah melaporkan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, Agus Santoso sejak tahun 2000 tinggal di bawah jembatan Sungai Setail, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Itu dilakukan setelah kakek yang pernah bekerja di Bali itu kehilangan kontak dengan kedua anaknya. Untuk makan, setiap hari menjadi juru parkir di Jalan KH Wahid Hasyim, Desa Genteng Kulon. (sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/