alexametrics
24 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Diusir Mertua Karena Miskin, Tinggal Kumpul dengan Kandang Ayam

Perjuangan hidup pasangan suami istri (pasutri) Haryono dan Sherly bak kisah sinetron saja. Hubungan keduanya tidak direstui orang tua, kemudian diusir. Demi menyambung hidup,  mereka kini harus tidur di rumah yang berdempetan dengan kandang ayam.

IZZUL MUTTAQIN, Banyuputih

Memasuki Dusun Curah Temu, Desa Sumberanyar, Banyuputih, terdapat dua kandang ayam dengan ukuran cukup luas. Ratusan ayam potong hidup di dalamnya. Tepat di pinggir kandang, terdapat rumah-rumahan kecil. Di sanalah Hariyono bersama isteri dan dua orang anaknya tinggal. Setiap hari, mereka berdua mempunyai tugas untuk menjaga ayam-ayam tersebut.

Menurut Hariyono, dirinya rela tidur di tempat seperti itu karena sudah tidak memiliki rumah. Pria asal Bondowoso itu mengaku diusir oleh mertuanya. “Orang tua isteri saya memang tidak suka kepada saya sejak awal. Mereka kurang menyetujui hubungan saya dengan puterinya. Karena saya orang miskin. Khawatir tidak mampu menghidupi isteri saya. Beruntung ada orang yang baik dan memberi saya perkerjaan. Meskipun hanya dengan menjaga ayam” tuturnya.

Haryono lantas menceritakan perjalanan panjangnya hingga sampai di tempat tersebut. Menurutnya, hal itu bermula saat dirinya nekat menikahi Sherli Azalia, seorang janda anak satu yang juga orang Bondowoso.

“Dulu pekerjaan saya sebagai tukang masak nasi goreng di Situbondo. Di sanalah saya bertemu isteri saya. Waktu itu dia juga berjualan di pertokoan yang tidak jauh dari lokasi kerja saya. Saya sering belanja di sana. Akhirnya kita jatuh cinta,” tuturnya malu-malu.

Baca Juga :  Banyak Sarkofagus, Berharap Bisa Menjadi Wisata Budaya

Tak lama setelah pertemuan itu, Haryono nekat datang ke rumah Sherly untuk melamarnya. Tepatnya di Kecamatan Tamanan, Bondowoso. Namun ternyata orang tua Sherly menolak. Penyebabnya, karena keadaan ekonominya. “Saya ditolak karena miskin. Mereka khawatir saya tidak bisa menghidupi Sherly dan anaknya,” paparnya.

Namun Haryono terus berjuang. Hingga hati orang tua Sherly dapat diluluhkan. “Meskipun tidak suka, mereka akhirnya menyetujui. Tetapi, beberapa bulan setelah pernikahan, saya diusir oleh mereka. Padahal, isteri saya baru melahirkan anak kembar. Mungkin mereka takut saya tidak bisa menghidupi anak-anak saya,” kisahnya.

Hanya saja saat hendak pergi, Sherly tiba-tiba melarang. Akan tetapi karena dirinya memaksa untuk pergi, sang isteri nekat ikut. “Setelah saya diusir. Isteri saya ikut pergi dari rumah orang tuanya. Selain itu, dua anak saya juga ikut. Sedangkan yang satunya lagi dilarang untuk dibawa oleh ibu mertua. Jadi kami hanya bertiga dan membawa bekal seadanya,” ucapnya.

Dari Tamanan, Haryono turun di terminal Bondowoso. Di sana dia mulai berfikir untuk mencari kerja dan tempat tinggal. “Sampai di terminal saya bingung. Isteri saya  punya ide untuk ke Situbondo. Sebab dia memiliki saudara jauh di Lamongan. Siapa tau ada yang mau bantu,” ucapnya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Situbondo turun di terminal. “Di Situbondo ongkos sudah habis. Anak saya yang paling tua lapar. Akhirnya saya minjem gitar sama pengamen di sana, dan ikut ngamen. Alhamdulillah, saya mendapat uang sebanyak Rp. 13 ribu. Rp 2.000-nya dibelikan roti, sisanya untuk ongkos bus ke Desa Lamongan,” ucapnya.

Baca Juga :  Perjuangan Menyediakan Panggung Seni di Taman Kota Asembagus

Namun belum sampai di tempat yang dituju, kondektur bus menurunkan mereka di jalan. “Kami diturunkan di jalan karena ongkos tidak cukup. Beruntung jaraknya sudah tidak terlalu jauh. Selanjutnya, kami jalan kaki hingga sampai ke  rumah saudara isteri saya,” terangnya.

Sesampainya di sana, mereka berdua diterima dengan baik dan diizinkan tinggal sementara. “Tuan rumah menerima kami dengan baik. Selain itu saya juga diberi pekerjaan jadi pemulung cabe selama tiga bulan,” ucapnya.

Setelah cabe panen, dia mencari pekerjaan lain. Akhirnya dia bertemu dengan seorang bos ayam. “Oleh bos ayam itu saya diberi pekerjaan untuk menjaga ayam di Desa/Kecamatan Arjasa. Namun baru beberapa hari bekerja, ada kejadian puting beliung. Kandang ayam roboh dan nyaris menimpa saya,” tuturnya.

Atas kejadian itu, Haryono nyaris kehilangan pekerjaan. Beruntung, bos ayam tersebut mempunyai inisiatif untuk menyewa kandang di Banyuputih. “Beruntung, masih banyak ayam yang hidup. Bos kemudian memindahkan ayam tersebut ke kandang lain di sini (Banyuputih). Saya pun ikut dan alhamdulillah dibuatkan rumah-rumahan di sini. Meskipun dekat dengan kandang ayam, setidaknya saya dan keluarga dapat tidur nyenyak,” ucapnya.

Sementara itu, Sherly Azalia mengaku nekat ikut karena cinta dan keyakinan yang besar terhadap sang suami. “Saya yakin sama suami saya. Dia pasti mampu membahagiakan saya. Hal itu akan saya tunjukkan ke keluarga,” ucapnya (*)

Perjuangan hidup pasangan suami istri (pasutri) Haryono dan Sherly bak kisah sinetron saja. Hubungan keduanya tidak direstui orang tua, kemudian diusir. Demi menyambung hidup,  mereka kini harus tidur di rumah yang berdempetan dengan kandang ayam.

IZZUL MUTTAQIN, Banyuputih

Memasuki Dusun Curah Temu, Desa Sumberanyar, Banyuputih, terdapat dua kandang ayam dengan ukuran cukup luas. Ratusan ayam potong hidup di dalamnya. Tepat di pinggir kandang, terdapat rumah-rumahan kecil. Di sanalah Hariyono bersama isteri dan dua orang anaknya tinggal. Setiap hari, mereka berdua mempunyai tugas untuk menjaga ayam-ayam tersebut.

Menurut Hariyono, dirinya rela tidur di tempat seperti itu karena sudah tidak memiliki rumah. Pria asal Bondowoso itu mengaku diusir oleh mertuanya. “Orang tua isteri saya memang tidak suka kepada saya sejak awal. Mereka kurang menyetujui hubungan saya dengan puterinya. Karena saya orang miskin. Khawatir tidak mampu menghidupi isteri saya. Beruntung ada orang yang baik dan memberi saya perkerjaan. Meskipun hanya dengan menjaga ayam” tuturnya.

Haryono lantas menceritakan perjalanan panjangnya hingga sampai di tempat tersebut. Menurutnya, hal itu bermula saat dirinya nekat menikahi Sherli Azalia, seorang janda anak satu yang juga orang Bondowoso.

“Dulu pekerjaan saya sebagai tukang masak nasi goreng di Situbondo. Di sanalah saya bertemu isteri saya. Waktu itu dia juga berjualan di pertokoan yang tidak jauh dari lokasi kerja saya. Saya sering belanja di sana. Akhirnya kita jatuh cinta,” tuturnya malu-malu.

Baca Juga :  Perjuangan Menyediakan Panggung Seni di Taman Kota Asembagus

Tak lama setelah pertemuan itu, Haryono nekat datang ke rumah Sherly untuk melamarnya. Tepatnya di Kecamatan Tamanan, Bondowoso. Namun ternyata orang tua Sherly menolak. Penyebabnya, karena keadaan ekonominya. “Saya ditolak karena miskin. Mereka khawatir saya tidak bisa menghidupi Sherly dan anaknya,” paparnya.

Namun Haryono terus berjuang. Hingga hati orang tua Sherly dapat diluluhkan. “Meskipun tidak suka, mereka akhirnya menyetujui. Tetapi, beberapa bulan setelah pernikahan, saya diusir oleh mereka. Padahal, isteri saya baru melahirkan anak kembar. Mungkin mereka takut saya tidak bisa menghidupi anak-anak saya,” kisahnya.

Hanya saja saat hendak pergi, Sherly tiba-tiba melarang. Akan tetapi karena dirinya memaksa untuk pergi, sang isteri nekat ikut. “Setelah saya diusir. Isteri saya ikut pergi dari rumah orang tuanya. Selain itu, dua anak saya juga ikut. Sedangkan yang satunya lagi dilarang untuk dibawa oleh ibu mertua. Jadi kami hanya bertiga dan membawa bekal seadanya,” ucapnya.

Dari Tamanan, Haryono turun di terminal Bondowoso. Di sana dia mulai berfikir untuk mencari kerja dan tempat tinggal. “Sampai di terminal saya bingung. Isteri saya  punya ide untuk ke Situbondo. Sebab dia memiliki saudara jauh di Lamongan. Siapa tau ada yang mau bantu,” ucapnya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Situbondo turun di terminal. “Di Situbondo ongkos sudah habis. Anak saya yang paling tua lapar. Akhirnya saya minjem gitar sama pengamen di sana, dan ikut ngamen. Alhamdulillah, saya mendapat uang sebanyak Rp. 13 ribu. Rp 2.000-nya dibelikan roti, sisanya untuk ongkos bus ke Desa Lamongan,” ucapnya.

Baca Juga :  Banyak Sarkofagus, Berharap Bisa Menjadi Wisata Budaya

Namun belum sampai di tempat yang dituju, kondektur bus menurunkan mereka di jalan. “Kami diturunkan di jalan karena ongkos tidak cukup. Beruntung jaraknya sudah tidak terlalu jauh. Selanjutnya, kami jalan kaki hingga sampai ke  rumah saudara isteri saya,” terangnya.

Sesampainya di sana, mereka berdua diterima dengan baik dan diizinkan tinggal sementara. “Tuan rumah menerima kami dengan baik. Selain itu saya juga diberi pekerjaan jadi pemulung cabe selama tiga bulan,” ucapnya.

Setelah cabe panen, dia mencari pekerjaan lain. Akhirnya dia bertemu dengan seorang bos ayam. “Oleh bos ayam itu saya diberi pekerjaan untuk menjaga ayam di Desa/Kecamatan Arjasa. Namun baru beberapa hari bekerja, ada kejadian puting beliung. Kandang ayam roboh dan nyaris menimpa saya,” tuturnya.

Atas kejadian itu, Haryono nyaris kehilangan pekerjaan. Beruntung, bos ayam tersebut mempunyai inisiatif untuk menyewa kandang di Banyuputih. “Beruntung, masih banyak ayam yang hidup. Bos kemudian memindahkan ayam tersebut ke kandang lain di sini (Banyuputih). Saya pun ikut dan alhamdulillah dibuatkan rumah-rumahan di sini. Meskipun dekat dengan kandang ayam, setidaknya saya dan keluarga dapat tidur nyenyak,” ucapnya.

Sementara itu, Sherly Azalia mengaku nekat ikut karena cinta dan keyakinan yang besar terhadap sang suami. “Saya yakin sama suami saya. Dia pasti mampu membahagiakan saya. Hal itu akan saya tunjukkan ke keluarga,” ucapnya (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/