alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

IPK Dea Amanda Masuk Tiga Besar, Dewangga Raih Gelar Dokter Muda

BANYUWANGI – Dea Amanda Caressa, 25, dan Dewangga Sakti Satrio Kinasih, 20, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya usai diwisuda dari Fakultas Kesehatan Masayarakat Universita Airlangga dan Fakultas   Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Sabtu (5/3). Kedua bersaudara asal Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, ini berhasil menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran dengan nilai memuaskan.

Raut kegembiraan tak bisa disembunyikan oleh Dea Amanda Caressa yang baru saja menjalani wisuda pascasarjana. Dara kelahiran Banyuwangi 21 April 1996 ini berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Kesehatan Masyarakat  Universitas Airlangga Surabaya dan mendapatkan gelar Magister Kesehatan (MKes).

Bukan urusan mudah untuk bisa menyelesaikan studi pascasarjana di usia 25 tahun. Yang membanggakan, putri pertama dari pasangan Kasturi Antowidoyo dan Sukorinik ini meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memuaskan, yakni 3,90. ”Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan studi pascasarjana dengan nilai memuaskan. Ini berkat perjuangan dan doa dari kedua orang tua kami,” ungkap Dea.

Dea yang juga alumnus SMAN 1 Glagah ini mengaku butuh kerja keras untuk bisa menyelesaikan studinya tersebut. Saat masih menempuh pendidikan S-1 di Universitas Negeri Malang, dia pernah menerima hibah bidang pengabdian masyarakat dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi Program Kreativitas Mahasiswa pada tahun 2015. Kala itu dia melakukan penelitian penderita scabies di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Madiun.

Selama menjalani pendidikan pascasarjana di Universitas Airlangga, kakak kandung Dewangga Sakti Satrio Kinasih itu, juga mengasah kemampuannya dengan berdiskusi dengan adik-adik tingkatnya. ”Kebetulan masih sering mendapat semangat dan motivasi dari Pak Sulihtiyono, mantan Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi,” ungkap Dea.

Setelah lulus pascasarjana, dara asal Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, ini masih tinggal di Surabaya untuk sementara waktu sembari menunggu ijazah pascasarjananya keluar. ”Sebetulnya oleh orang tua, saya diminta untuk pulang kampung dan berkarir di Banyuwangi,” katanya.

Yang lebih membuat haru dan bangga, secara bersamaan dia diwisuda bersamaan dengan adik kandungnya, Dewangga Sakti Satrio Kinasih, yang juga diwisuda sebagai Sarjana Kedokteran/Dokter Muda di Universitas Airlangga. Adiknya meraih IPK 3,81.

Dewangga berhasil menyelesaikan studi strata satu Fakultas Kedokteran dan menyandang sebagai dokter muda pada usia 20 tahun. Dewangga mengaku studinya di Fakultas Kedokteran diselesaikan dalam waktu cepat. Pada saat semester lima, dia diberi kesempatan untuk mengajukan skripsi. Kesempatan tersebut tidak dilewatkan begitu saja. Dia mencoba tantangan tersebut dan akhirnya berhasil.

Dalam waktu yang cukup singkat, skripsinya diterima hingga akhirnya dia dapat mengikuti wisuda pada Sabtu (5/3) yang kebetulan juga bersamaan dengan kakaknya yang wisuda S-2 di universitas yang sama.

Tantangan tersebut bukan terjadi saat kuliah. Saat masih duduk di bangku SMAN 1 Genteng, dia juga lulus dalam waktu yang boleh dibilang singkat, yakni dua tahun atau kelas akselerasi. ”Ini semua tidak lepas dari doa orang tua, dan semua bapak/ibu guru yang mendidik saya dari SD hingga SMA, termasuk Bapak Sudarman, mantan Kepala SMPN 1 Cluring yang banyak mendukung saya,” ujar dokter muda kelahiran Banyuwangi 28  Juli 2001 ini.

Kasturi Antowidoyo, orang tua Dea dan Dewangga, mengaku haru dan bangga dengan prestasi kedua putra-putrinya tersebut. Apalagi, keduanya wisuda di tempat yang sama dalam waktu bersamaan. ”Kami tidak ada henti-hentinya bersyukur dan diberikan karunia panjang umur, kesehatan, dan anak-anak kami yang menyelesaikan studi dengan baik dan nilai memuaskan,” tuturnya.

Tidak mudah untuk bisa mendorong kedua anaknya bisa menyelesaikan studi sarjana dan pascasarjana tersebut. Saat ini putra keduanya, Dewangga, yang mendapatkan gelar dokter muda, masih harus melalui program profesi atau biasa disebut koas. Tahapan sebagai koas dilakukan di rumah sakit. ”Sementara masih magang di Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya. Semoga putra-putri kami bisa berguna bagi bangsa dan negara dan membanggakan kampung kelahirannya Banyuwangi,” tandas lelaki yang juga pengurus MWCNU Tegaldlimo itu.

BANYUWANGI – Dea Amanda Caressa, 25, dan Dewangga Sakti Satrio Kinasih, 20, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya usai diwisuda dari Fakultas Kesehatan Masayarakat Universita Airlangga dan Fakultas   Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Sabtu (5/3). Kedua bersaudara asal Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, ini berhasil menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran dengan nilai memuaskan.

Raut kegembiraan tak bisa disembunyikan oleh Dea Amanda Caressa yang baru saja menjalani wisuda pascasarjana. Dara kelahiran Banyuwangi 21 April 1996 ini berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Kesehatan Masyarakat  Universitas Airlangga Surabaya dan mendapatkan gelar Magister Kesehatan (MKes).

Bukan urusan mudah untuk bisa menyelesaikan studi pascasarjana di usia 25 tahun. Yang membanggakan, putri pertama dari pasangan Kasturi Antowidoyo dan Sukorinik ini meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memuaskan, yakni 3,90. ”Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan studi pascasarjana dengan nilai memuaskan. Ini berkat perjuangan dan doa dari kedua orang tua kami,” ungkap Dea.

Dea yang juga alumnus SMAN 1 Glagah ini mengaku butuh kerja keras untuk bisa menyelesaikan studinya tersebut. Saat masih menempuh pendidikan S-1 di Universitas Negeri Malang, dia pernah menerima hibah bidang pengabdian masyarakat dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi Program Kreativitas Mahasiswa pada tahun 2015. Kala itu dia melakukan penelitian penderita scabies di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Madiun.

Selama menjalani pendidikan pascasarjana di Universitas Airlangga, kakak kandung Dewangga Sakti Satrio Kinasih itu, juga mengasah kemampuannya dengan berdiskusi dengan adik-adik tingkatnya. ”Kebetulan masih sering mendapat semangat dan motivasi dari Pak Sulihtiyono, mantan Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi,” ungkap Dea.

Setelah lulus pascasarjana, dara asal Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, ini masih tinggal di Surabaya untuk sementara waktu sembari menunggu ijazah pascasarjananya keluar. ”Sebetulnya oleh orang tua, saya diminta untuk pulang kampung dan berkarir di Banyuwangi,” katanya.

Yang lebih membuat haru dan bangga, secara bersamaan dia diwisuda bersamaan dengan adik kandungnya, Dewangga Sakti Satrio Kinasih, yang juga diwisuda sebagai Sarjana Kedokteran/Dokter Muda di Universitas Airlangga. Adiknya meraih IPK 3,81.

Dewangga berhasil menyelesaikan studi strata satu Fakultas Kedokteran dan menyandang sebagai dokter muda pada usia 20 tahun. Dewangga mengaku studinya di Fakultas Kedokteran diselesaikan dalam waktu cepat. Pada saat semester lima, dia diberi kesempatan untuk mengajukan skripsi. Kesempatan tersebut tidak dilewatkan begitu saja. Dia mencoba tantangan tersebut dan akhirnya berhasil.

Dalam waktu yang cukup singkat, skripsinya diterima hingga akhirnya dia dapat mengikuti wisuda pada Sabtu (5/3) yang kebetulan juga bersamaan dengan kakaknya yang wisuda S-2 di universitas yang sama.

Tantangan tersebut bukan terjadi saat kuliah. Saat masih duduk di bangku SMAN 1 Genteng, dia juga lulus dalam waktu yang boleh dibilang singkat, yakni dua tahun atau kelas akselerasi. ”Ini semua tidak lepas dari doa orang tua, dan semua bapak/ibu guru yang mendidik saya dari SD hingga SMA, termasuk Bapak Sudarman, mantan Kepala SMPN 1 Cluring yang banyak mendukung saya,” ujar dokter muda kelahiran Banyuwangi 28  Juli 2001 ini.

Kasturi Antowidoyo, orang tua Dea dan Dewangga, mengaku haru dan bangga dengan prestasi kedua putra-putrinya tersebut. Apalagi, keduanya wisuda di tempat yang sama dalam waktu bersamaan. ”Kami tidak ada henti-hentinya bersyukur dan diberikan karunia panjang umur, kesehatan, dan anak-anak kami yang menyelesaikan studi dengan baik dan nilai memuaskan,” tuturnya.

Tidak mudah untuk bisa mendorong kedua anaknya bisa menyelesaikan studi sarjana dan pascasarjana tersebut. Saat ini putra keduanya, Dewangga, yang mendapatkan gelar dokter muda, masih harus melalui program profesi atau biasa disebut koas. Tahapan sebagai koas dilakukan di rumah sakit. ”Sementara masih magang di Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya. Semoga putra-putri kami bisa berguna bagi bangsa dan negara dan membanggakan kampung kelahirannya Banyuwangi,” tandas lelaki yang juga pengurus MWCNU Tegaldlimo itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/