alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Pembuat Kapal Dianggap Lebih Menjanjikan Ketimbang Nelayan

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Ternyata, logika di atas tidak diimani oleh semua orang. Muhammad Ridwan, 56, asal Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, memilih jalan sebaliknya. Seakan sebuah anomali, ia mengakhiri profesinya sebagai nelayan yang sudah dilakoni sejak berumur 20 tahun, dan memilih pekerjaan sebagai seorang pembuat perahu dan kapal dari kayu.

Ridwan menggeluti pekerjaan sebagai pembuat kapal dan tukang reparasi kapal sejak lima tahun lalu. Awalnya, di perairan Muncar dihantam musim paceklik, dan itu membuatnya beralih profesi demi mendapatkan kehidupan. “Dulu, saya punya kapal sendiri, setelah paceklik, saya jual, sejak itu saya cari penghasilan yang lebih pasti,” terangnya pada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (5/11).

Ridwan memilih kata “lebih pasti” dalam pernyataannya, itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, bekerja sebagai pembuat perahu atau kapal dari kayu, jauh lebih menjanjikan ketimbang bertaruh pada hasil laut sebagai nelayan di laut lepas. “Kalau menjadi nelayan, belum tentu pulang bisa bawa ikan, tapi kalau kerja seperti ini pendapatannya lebih jelas,” ungkapnya.

Permintaan kapal kayu, memang tidak datang setiap bulan. Malahan, dalam setahun belum tentu ada pekerjaan membuat kapal. Permintaan pembuatan kapal, datang setiap dua tahun sekali. “Tidak setiap tahun ada yang pesan kapal seperti ini, tapi permintaan untuk memperbaiki kapal selalu ada,” katanya.

Upah yang diterima dalam membuat satu kapal dari kayu, dianggap cukup lumayan. Dalam sehari, biasa dibayar hingga Rp 400 ribu untuk membuat kapal berukuran 10 meter kali tiga meter. “Untuk membuat kapal seukuran ini, biasanya dibayar Rp 400 ribu sehari. Rokok dan makan beli sendiri,” tuturnya.

Untuk waktu pengerjaan kapal berukuran 10 meter kali tiga meter, biasanya bisa diselesaikan dalam waktu hingga dua bulan. Waktu selama itu, pengerjaan kapal benar-benar selesai dan siap berlayar. “Secara umum selesai dua bulan untuk satu kapal,” cetusnya.

Para pembuat kapal mencari ikan, selama ini dibayar dengan sistim harian. Dan ini, dianggap lebih menjanjikan ketimbang menjadi nelayan. “Kan kalau sehari Rp 400 ribu, dalam sebulan Rp 12 juta, itu lebih menguntungkan,” pungkasnya.

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Ternyata, logika di atas tidak diimani oleh semua orang. Muhammad Ridwan, 56, asal Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, memilih jalan sebaliknya. Seakan sebuah anomali, ia mengakhiri profesinya sebagai nelayan yang sudah dilakoni sejak berumur 20 tahun, dan memilih pekerjaan sebagai seorang pembuat perahu dan kapal dari kayu.

Ridwan menggeluti pekerjaan sebagai pembuat kapal dan tukang reparasi kapal sejak lima tahun lalu. Awalnya, di perairan Muncar dihantam musim paceklik, dan itu membuatnya beralih profesi demi mendapatkan kehidupan. “Dulu, saya punya kapal sendiri, setelah paceklik, saya jual, sejak itu saya cari penghasilan yang lebih pasti,” terangnya pada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (5/11).

Ridwan memilih kata “lebih pasti” dalam pernyataannya, itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, bekerja sebagai pembuat perahu atau kapal dari kayu, jauh lebih menjanjikan ketimbang bertaruh pada hasil laut sebagai nelayan di laut lepas. “Kalau menjadi nelayan, belum tentu pulang bisa bawa ikan, tapi kalau kerja seperti ini pendapatannya lebih jelas,” ungkapnya.

Permintaan kapal kayu, memang tidak datang setiap bulan. Malahan, dalam setahun belum tentu ada pekerjaan membuat kapal. Permintaan pembuatan kapal, datang setiap dua tahun sekali. “Tidak setiap tahun ada yang pesan kapal seperti ini, tapi permintaan untuk memperbaiki kapal selalu ada,” katanya.

Upah yang diterima dalam membuat satu kapal dari kayu, dianggap cukup lumayan. Dalam sehari, biasa dibayar hingga Rp 400 ribu untuk membuat kapal berukuran 10 meter kali tiga meter. “Untuk membuat kapal seukuran ini, biasanya dibayar Rp 400 ribu sehari. Rokok dan makan beli sendiri,” tuturnya.

Untuk waktu pengerjaan kapal berukuran 10 meter kali tiga meter, biasanya bisa diselesaikan dalam waktu hingga dua bulan. Waktu selama itu, pengerjaan kapal benar-benar selesai dan siap berlayar. “Secara umum selesai dua bulan untuk satu kapal,” cetusnya.

Para pembuat kapal mencari ikan, selama ini dibayar dengan sistim harian. Dan ini, dianggap lebih menjanjikan ketimbang menjadi nelayan. “Kan kalau sehari Rp 400 ribu, dalam sebulan Rp 12 juta, itu lebih menguntungkan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/