alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Sempat ”Obral” Kepala Barong, Mustaqbilal Senang Terima Bantuan

RadarBanyuwangi.id – Kepala barong jauh dari harga pasaran. Jika biasanya kepala barong dijual dengan harga Rp 1 juta, saat PPKM dia banting harga sampai Rp 500 ribu. Dia terpaksa menjual barong dengan harga murah agar tetap bisa bertahan di saat PPKM.

Pemkab Banyuwangi kembali menyalurkan bantuan sosial sembako untuk warga yang tidak terdaftar pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Salah satunya termasuk bansos yang berasal dari Kementerian Sosial.

Kali ini sasaran penerima adalah 3.000 warga yang berasal dari pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku seni, sopir angkot, dan para karyawan toko yang terdampak PPKM. Bansos diserahkan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Posko Penanganan Covid-19 Banyuwangi, Rabu (4/8).

Ipuk menjelaskan, penerima bansos dari Kemensos ini merupakan warga yang belum terdata dalam DTKS dan belum pernah mendapatkan bantuan lainnya, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Sosial (BST), BLT Desa, bansos dari APBD, dan lainnya.

”Banyak kalangan yang terdampak dari PPKM ini. Seperti pelaku wisata, karena destinasi wisata harus tutup selama PPKM pendapatan mereka tentu menurun. Terima kasih Menteri Sosial Ibu Tri Rismaharini yang telah menambah 3.000 paket bansos ini,” kata Ipuk.

Ipuk juga meminta kepada Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi agar mereka bisa didata dan dimasukkan ke dalam DTKS. ”Saya tadi minta agar mereka bisa dimasukkan ke dalam DTKS. Karena mungkin dulu mereka ini masih terhitung sebagai orang mampu, namun karena efek Covid dan PPKM akhirnya menjadi orang yang kurang mampu. Sehingga dengan masuk DTKS, ke depan bisa lebih mudah terjangkau program bantuan pemerintah,” ujar Ipuk.

Salah satu penerima bansos, Mustaqbilal, 40, pelaku seni pemahat barong senang mendapat perhatian dari pemerintah. Mustaqbilal merupakan penerima bansos yang juga seorang difabel. ”Alhamdulillah saya mendapatkan bantuan. Bisa mengurangi beban sehari-hari,” katanya.

Pria yang tinggal di Lingkungan Karangasem, Kelurahan Bakungan itu menambahkan, dirinya sebenarnya sangat membutuhkan bantuan pemasaran dan pemodalan untuk produknya. Saat PPKM berlangsung, seluruh kegiatan seni dihentikan sementara. Dengan kata lain, tidak ada pasar yang menjadi sasaran dari produk yang dibuatnya.

Banyak karya kepala barong tidak bisa dijual seperti biasa. Untuk bertahan hidup, Mustaqbilal sampai menjual kepala barong jauh dari harga pasaran. Jika biasanya kepala barong dijual dengan harga Rp 1 juta, saat PPKM dia banting harga sampai Rp 500 ribu. Dia terpaksa menjual barong dengan harga murah agar tetap bisa bertahan di saat PPKM.

Mustaqbilal mengatakan, bagi difabel seperti dirinya tidak mudah mencari pekerjaan lain di luar pekerjaan pokok. ”Kita bersyukur sudah dapat bantuan seperti ini. Alhamdulillah, semoga bermanfaat. Semoga nanti ada bantuan lagi, kita butuh pemasaran karena semua kesenian saat ini terdampak,” tegasnya.

Penerima bansos lainnya, Citra Quratun, pegawai salah satu pasar modern berharap pandemi bisa segera tertangani. ”Semoga kondisi segera pulih dan kami bisa bekerja lagi,” ungkapnya. (fre/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Kepala barong jauh dari harga pasaran. Jika biasanya kepala barong dijual dengan harga Rp 1 juta, saat PPKM dia banting harga sampai Rp 500 ribu. Dia terpaksa menjual barong dengan harga murah agar tetap bisa bertahan di saat PPKM.

Pemkab Banyuwangi kembali menyalurkan bantuan sosial sembako untuk warga yang tidak terdaftar pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Salah satunya termasuk bansos yang berasal dari Kementerian Sosial.

Kali ini sasaran penerima adalah 3.000 warga yang berasal dari pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku seni, sopir angkot, dan para karyawan toko yang terdampak PPKM. Bansos diserahkan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Posko Penanganan Covid-19 Banyuwangi, Rabu (4/8).

Ipuk menjelaskan, penerima bansos dari Kemensos ini merupakan warga yang belum terdata dalam DTKS dan belum pernah mendapatkan bantuan lainnya, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Sosial (BST), BLT Desa, bansos dari APBD, dan lainnya.

”Banyak kalangan yang terdampak dari PPKM ini. Seperti pelaku wisata, karena destinasi wisata harus tutup selama PPKM pendapatan mereka tentu menurun. Terima kasih Menteri Sosial Ibu Tri Rismaharini yang telah menambah 3.000 paket bansos ini,” kata Ipuk.

Ipuk juga meminta kepada Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi agar mereka bisa didata dan dimasukkan ke dalam DTKS. ”Saya tadi minta agar mereka bisa dimasukkan ke dalam DTKS. Karena mungkin dulu mereka ini masih terhitung sebagai orang mampu, namun karena efek Covid dan PPKM akhirnya menjadi orang yang kurang mampu. Sehingga dengan masuk DTKS, ke depan bisa lebih mudah terjangkau program bantuan pemerintah,” ujar Ipuk.

Salah satu penerima bansos, Mustaqbilal, 40, pelaku seni pemahat barong senang mendapat perhatian dari pemerintah. Mustaqbilal merupakan penerima bansos yang juga seorang difabel. ”Alhamdulillah saya mendapatkan bantuan. Bisa mengurangi beban sehari-hari,” katanya.

Pria yang tinggal di Lingkungan Karangasem, Kelurahan Bakungan itu menambahkan, dirinya sebenarnya sangat membutuhkan bantuan pemasaran dan pemodalan untuk produknya. Saat PPKM berlangsung, seluruh kegiatan seni dihentikan sementara. Dengan kata lain, tidak ada pasar yang menjadi sasaran dari produk yang dibuatnya.

Banyak karya kepala barong tidak bisa dijual seperti biasa. Untuk bertahan hidup, Mustaqbilal sampai menjual kepala barong jauh dari harga pasaran. Jika biasanya kepala barong dijual dengan harga Rp 1 juta, saat PPKM dia banting harga sampai Rp 500 ribu. Dia terpaksa menjual barong dengan harga murah agar tetap bisa bertahan di saat PPKM.

Mustaqbilal mengatakan, bagi difabel seperti dirinya tidak mudah mencari pekerjaan lain di luar pekerjaan pokok. ”Kita bersyukur sudah dapat bantuan seperti ini. Alhamdulillah, semoga bermanfaat. Semoga nanti ada bantuan lagi, kita butuh pemasaran karena semua kesenian saat ini terdampak,” tegasnya.

Penerima bansos lainnya, Citra Quratun, pegawai salah satu pasar modern berharap pandemi bisa segera tertangani. ”Semoga kondisi segera pulih dan kami bisa bekerja lagi,” ungkapnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/