alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Dinamai Watubuncul Gara-gara Sering Muncul Batu

GIRI, Radar Banyuwangi – Lingkungan Watubuncul berada di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Konon, zaman dahulu sering buncul (muncul) batu beraneka ukuran ketika warga mencangkul lahan di sana.

Dalam bahasa Oseng, Watubucul merupakan gabungan dua kata, yakni watu (batu) dan buncul (muncul). Sebab, pada zaman dahulu banyak bebatuan yang muncul di lingkungan tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat pun kian nyaman memberikan nama kawasan itu sebagai Watubuncul. ”Kita tidak mengetahui kapan pastinya nama tersebut ada. Namun, dari cerita masyarakat yang berkembang, Watubuncul itu gabungan nama dari watu dan buncul. Karena banyak batu yang bermunculan di lingkungan tersebut,” ujar Sapi’i, 68, warga Lingkungan Watubuncul.

Menurut Sapi’i, dari cerita tutur para leluhur ke generasi berikutnya, zaman dahulu banyak temuan bebatuan yang muncul dari dalam tanah. Masyarakat yang hendak membangun rumah maupun melakukan aktivitas bertani, selalu menemukan bebatuan di lingkungan tersebut.

”Setiap kali mencangkul untuk menanam padi di sawah dan mencangkul untuk mendirikan bangunan, selalu ada bebatuan yang muncul dari tanah. Munculnya bebatuan secara mistis itu, bukan hanya terjadi pada satu dua orang. Tetapi, banyak orang yang punya pengalaman sama saat melakukan pengolahan lahan sawah dan mendirikan bangunan,” jelasnya.

Kejadian tersebut, kata Sapi’i, memang tidak diketahui kapan terjadinya. Namun, cerita itu pun terus berlanjut hingga ke anak cucu serta generasi berikutnya. Sehingga pada akhirnya, mereka menamakan lingkungan tempat tinggalnya dengan nama Watubuncul.

”Batu yang muncul dari tanah itu ukurannya bervariasi. Ada yang berukuran besar, ada pula yang berukuran kecil. Mereka yang menemukan batu tersebut, langsung memanfaatkan untuk bahan mendirikan bangunan,” ungkapnya.

Sementara itu, kisah Watubuncul itu memang berbeda dengan asal-usul nama tempat lainnya. Di Watubuncul memang tidak ada situs sejarah berupa batu seperti di tempat lainnya. ”Jika di tempat lain ada situsnya, di Lingkungan Watubuncul tidak ada situs. Karena, bebatuan yang muncul tersebut sudah banyak dibongkar untuk digunakan sebagai bahan bangunan rumah masyarakat,” jelasnya.

Sapi’i menambahkan, meski tidak ada situs seperti di tempat lain, warga setempat merasa bebatuan yang muncul dari tanah pada zaman dahulu itu merupakan bukan bebatuan biasa. ”Karena itu, setiap bulan Zulhijah atau Bulan Haji, masyarakat kadang menggelar selamatan kampung untuk berdoa bersama. Berdoa agar mendapat berkah keselamatan di lingkungannya,” pungkasnya. (rio/bay/c1)

GIRI, Radar Banyuwangi – Lingkungan Watubuncul berada di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Konon, zaman dahulu sering buncul (muncul) batu beraneka ukuran ketika warga mencangkul lahan di sana.

Dalam bahasa Oseng, Watubucul merupakan gabungan dua kata, yakni watu (batu) dan buncul (muncul). Sebab, pada zaman dahulu banyak bebatuan yang muncul di lingkungan tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat pun kian nyaman memberikan nama kawasan itu sebagai Watubuncul. ”Kita tidak mengetahui kapan pastinya nama tersebut ada. Namun, dari cerita masyarakat yang berkembang, Watubuncul itu gabungan nama dari watu dan buncul. Karena banyak batu yang bermunculan di lingkungan tersebut,” ujar Sapi’i, 68, warga Lingkungan Watubuncul.

Menurut Sapi’i, dari cerita tutur para leluhur ke generasi berikutnya, zaman dahulu banyak temuan bebatuan yang muncul dari dalam tanah. Masyarakat yang hendak membangun rumah maupun melakukan aktivitas bertani, selalu menemukan bebatuan di lingkungan tersebut.

”Setiap kali mencangkul untuk menanam padi di sawah dan mencangkul untuk mendirikan bangunan, selalu ada bebatuan yang muncul dari tanah. Munculnya bebatuan secara mistis itu, bukan hanya terjadi pada satu dua orang. Tetapi, banyak orang yang punya pengalaman sama saat melakukan pengolahan lahan sawah dan mendirikan bangunan,” jelasnya.

Kejadian tersebut, kata Sapi’i, memang tidak diketahui kapan terjadinya. Namun, cerita itu pun terus berlanjut hingga ke anak cucu serta generasi berikutnya. Sehingga pada akhirnya, mereka menamakan lingkungan tempat tinggalnya dengan nama Watubuncul.

”Batu yang muncul dari tanah itu ukurannya bervariasi. Ada yang berukuran besar, ada pula yang berukuran kecil. Mereka yang menemukan batu tersebut, langsung memanfaatkan untuk bahan mendirikan bangunan,” ungkapnya.

Sementara itu, kisah Watubuncul itu memang berbeda dengan asal-usul nama tempat lainnya. Di Watubuncul memang tidak ada situs sejarah berupa batu seperti di tempat lainnya. ”Jika di tempat lain ada situsnya, di Lingkungan Watubuncul tidak ada situs. Karena, bebatuan yang muncul tersebut sudah banyak dibongkar untuk digunakan sebagai bahan bangunan rumah masyarakat,” jelasnya.

Sapi’i menambahkan, meski tidak ada situs seperti di tempat lain, warga setempat merasa bebatuan yang muncul dari tanah pada zaman dahulu itu merupakan bukan bebatuan biasa. ”Karena itu, setiap bulan Zulhijah atau Bulan Haji, masyarakat kadang menggelar selamatan kampung untuk berdoa bersama. Berdoa agar mendapat berkah keselamatan di lingkungannya,” pungkasnya. (rio/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/