25 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Agus Wiyono, 14 Tahun Tugas di Sekolah Terpencil

Pulang dari Sekolah Pingsan, Sadar Sudah di Rumah Sakit

KALIBARU, Jawa Pos Radar Genteng – Perjuangan Agus Wiyono, 57, asal Desa/Kecamatan Purwoharjo yang sudah 14 tahun tugas sebagai guru di SMPN 4 Kalibaru Satu Atap (Satap), ini cukup luar biasa. Pengalamannya penuh dengan tantangan, yang mungkin tidak setiap orang bisa menjalaninya.

Pria berumur separo abad itu, terus mengumbar senyum. Sambil menggenggam handphone (HP) kesayangannya, bercerita lika liku selama menjadi guru di SMPN 4 Kalibaru Satu Atap (Satap) yang berlokasi di Kebun Malangsari, PTPN XII, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru.

Sambil menahan napas, pria yang mengaku bernama lengkap Agus Wiyono itu, kali pertama bertugas sebagai guru dengan status aparatur sipil negara (ASN) di SMPN 4 Kalibaru Satap pada 2008. Saat itu, sekolah ini baru buka. “Saya tugas sejak SMPN Satap ini pertama buka,” kata pria 57 tahun itu.

Saat kali pertama tugas, Agus menyampaikan muridnya hanya belasan orang dengan guru lima orang. Para siswa yang ada di sekolah ini, berasal dari tengah perkebunan yang rumahnya paling dekat sekitar dua kilometer. “Rumahnya siswa itu jauh-jauh, di tengah kebun semua,” ujarnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Daya Jual LKP, Dispendik Gandeng LSK dan TUK

Saat kali pertama tugas, Agus mengaku merasakan cukup berat. Bayangkan, rumahnya di Desa/Kecamatan Purwoharjo itu jaraknya sekitar 57 kilometer dari sekolahnya yang berlokasi di tengah Kebun Malangsari, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru. “Jarak 57 kilometer mungkin tidak terlalu jauh, tapi jalannya penuh bebatuan di pekerbunan dan pegunungan,” terangnya.

Bila sedang tidak musim hujan, Agus biasanya melewati jalan setapak di tengah kebun. Jalan yang masih dari tanah itu, berada di bawah kebun kopi dan tanaman perkebunan lainnya. “Kalau hujan ya tidak bisa dilewati, harus lewat jalan utama yang penuh bebatuan,” jelasnya.

Jalan bebatuan itu, jaraknya sekitar 17 kilometer. Bila jalannya beraspal dan bagus, jalan sepanjang itu bisa ditempuh dengan motor atau mobil sekitar 15 menit. Tapi, jalan menuju ke sekolahnya di puncak Kebun Malangsari itu dapat ditempuh dengan waktu hampir satu jam. “Kita harus naik pegunungan dengan jalan rusak, tapi pemandangannya bagus,” ujarnya sambil tertawa.

Dengan kondisi jalan seperti itu, Agus menyampaikan saat akan berangkat ke sekolah atau pulang dari sekolah, di tengah jalan motornya rusak sudah biasa. Rantai lepas atau ban bocor, sudah tidak terhitung. “Kalau ban bocor ya jalan terus, sampai bawah ganti ban. Parah itu kalau motor mogok atau rantai lepas, harus nuntun,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ratna dan Bachtiar Meraih Mimpi Bersama Oasis International Academy

Ada pengalaman paling pahit dirasakan Agus saat pulang sekolah. Pria yang mengaku terkena diabetes itu, mengendarai motor seperti tidak terasa dan pingsan. Ketika sadar, ternyata sudah berada di RSU Bhakti Husada Krikilan, Kecamatan Glenmore. “Aku juga kaget, kok sudah dirawat di rumah sakit, dan guru-guru juga sudah berdatangan,” jelasnya.

Dari keterangan para guru yang membezuk, saat pulang dengan naik motor itu Agus terjatuh di tengah jalan dan pingsan. Oleh warga, ditolong dengan dibawa ke rumah sakit. “Saya tidak ingat apa-apa lagi, tahu-tahu ya di rumah sakit itu,” katanya.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Agus mengaku sedang mengajukan untuk pindah tugas ke sekolah yang tidak jauh dari rumahnya. Sehingga, menjelang pensiun tugasnya ini bisa lebih mudah. “Saya juga sedang sakit, semoga pengajuan pindah dikabulkan,” harapnya. (abi)

KALIBARU, Jawa Pos Radar Genteng – Perjuangan Agus Wiyono, 57, asal Desa/Kecamatan Purwoharjo yang sudah 14 tahun tugas sebagai guru di SMPN 4 Kalibaru Satu Atap (Satap), ini cukup luar biasa. Pengalamannya penuh dengan tantangan, yang mungkin tidak setiap orang bisa menjalaninya.

Pria berumur separo abad itu, terus mengumbar senyum. Sambil menggenggam handphone (HP) kesayangannya, bercerita lika liku selama menjadi guru di SMPN 4 Kalibaru Satu Atap (Satap) yang berlokasi di Kebun Malangsari, PTPN XII, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru.

Sambil menahan napas, pria yang mengaku bernama lengkap Agus Wiyono itu, kali pertama bertugas sebagai guru dengan status aparatur sipil negara (ASN) di SMPN 4 Kalibaru Satap pada 2008. Saat itu, sekolah ini baru buka. “Saya tugas sejak SMPN Satap ini pertama buka,” kata pria 57 tahun itu.

Saat kali pertama tugas, Agus menyampaikan muridnya hanya belasan orang dengan guru lima orang. Para siswa yang ada di sekolah ini, berasal dari tengah perkebunan yang rumahnya paling dekat sekitar dua kilometer. “Rumahnya siswa itu jauh-jauh, di tengah kebun semua,” ujarnya.

Baca Juga :  Zainul Hasan, Tunanetra yang Pernah Juara I MTQ Provinsi Jatim

Saat kali pertama tugas, Agus mengaku merasakan cukup berat. Bayangkan, rumahnya di Desa/Kecamatan Purwoharjo itu jaraknya sekitar 57 kilometer dari sekolahnya yang berlokasi di tengah Kebun Malangsari, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru. “Jarak 57 kilometer mungkin tidak terlalu jauh, tapi jalannya penuh bebatuan di pekerbunan dan pegunungan,” terangnya.

Bila sedang tidak musim hujan, Agus biasanya melewati jalan setapak di tengah kebun. Jalan yang masih dari tanah itu, berada di bawah kebun kopi dan tanaman perkebunan lainnya. “Kalau hujan ya tidak bisa dilewati, harus lewat jalan utama yang penuh bebatuan,” jelasnya.

Jalan bebatuan itu, jaraknya sekitar 17 kilometer. Bila jalannya beraspal dan bagus, jalan sepanjang itu bisa ditempuh dengan motor atau mobil sekitar 15 menit. Tapi, jalan menuju ke sekolahnya di puncak Kebun Malangsari itu dapat ditempuh dengan waktu hampir satu jam. “Kita harus naik pegunungan dengan jalan rusak, tapi pemandangannya bagus,” ujarnya sambil tertawa.

Dengan kondisi jalan seperti itu, Agus menyampaikan saat akan berangkat ke sekolah atau pulang dari sekolah, di tengah jalan motornya rusak sudah biasa. Rantai lepas atau ban bocor, sudah tidak terhitung. “Kalau ban bocor ya jalan terus, sampai bawah ganti ban. Parah itu kalau motor mogok atau rantai lepas, harus nuntun,” ungkapnya.

Baca Juga :  KakekAwi, Tukang Becak Gemar Baca Koran, Paling Suka Berita Olahraga

Ada pengalaman paling pahit dirasakan Agus saat pulang sekolah. Pria yang mengaku terkena diabetes itu, mengendarai motor seperti tidak terasa dan pingsan. Ketika sadar, ternyata sudah berada di RSU Bhakti Husada Krikilan, Kecamatan Glenmore. “Aku juga kaget, kok sudah dirawat di rumah sakit, dan guru-guru juga sudah berdatangan,” jelasnya.

Dari keterangan para guru yang membezuk, saat pulang dengan naik motor itu Agus terjatuh di tengah jalan dan pingsan. Oleh warga, ditolong dengan dibawa ke rumah sakit. “Saya tidak ingat apa-apa lagi, tahu-tahu ya di rumah sakit itu,” katanya.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Agus mengaku sedang mengajukan untuk pindah tugas ke sekolah yang tidak jauh dari rumahnya. Sehingga, menjelang pensiun tugasnya ini bisa lebih mudah. “Saya juga sedang sakit, semoga pengajuan pindah dikabulkan,” harapnya. (abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/