alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Peringati Hari Jadi ke-74, Polwan Bagi-Bagi Sembako dan Fogging Cegah DBD

RADAR BANYUWANGI – Menyambut Hari Jadi Polwan ke-74 yang jatuh pada tanggal 2 Agustus, sejumlah anggota Polwan yang berdinas di Polresta Banyuwangi blusukan ke kampung-kampung. Mereka membagikan paket sembako kepada warga yang kurang mampu. Ada pula kegiatan fogging untuk pencegahan penyakit demam berdarah.

Meski harus menempuh jarak cukup jauh, para polwan tampak kompak dan semangat membawa paket sembako untuk masyarakat. Mereka membagikan 20 paket sembako kepada warga miskin di Kecamatan Banyuwangi.

”Aksi kemanusiaan ini ditujukan kepada masyarakat yang memang sangat membutuhkan,” ujar Ipda Yeyen, salah satu anggota Polwan.

Bukan hanya menggelar baksos. Anggota Polwan juga peduli dengan kesehatan. Tingginya angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banyuwangi, cukup membuat prihatin Polwan. Kemarin (3/8), sejumlah Polwan  terjun langsung melaksanakan fogging di Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi.

Dalam kegiatan tersebut, para Polwan menyisir sejumlah rumah warga untuk melaksanakan fogging. Mereka juga memberikan bingkisan kepada masyarakat yang membutuhkan. ”Aksi kemanusiaan dilakukan dalam rangka memperingati hari Jadi Polwan. Kami prihatin  kasus DBD di Banyuwangi cukup tinggi,” ujar salah satu Polwan Polresta Banyuwangi, Iptu Titiek.

Baca Juga :  Dengar Suara Ledakan Bom, Anak-anak Tertawa dan Berjoget Ria

Titiek menerangkan, angka  DBD  sudah mencapai hampir 300 kasus. Sedangkan jumlah kematian mencapai delapan orang. ”DBD sangat mengkhawatirkan. Sampai sekarang, kasus DBD masih banyak ditemukan di Banyuwangi,” katanya.

PENGASAPAN: Sejumlah anggota Polwan melaksanakan fogging ke Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi, Rabu (3/8). (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

Titiek menambahkan, selain melakukan fogging, anggota Polwan juga memberikan sosialisasi tentang pencegahan kasus DBD. Caranya dengan menerapkan 3 M, yaitu menguras tempat mandi, mengubur barang bekas, dan menutup penampungan air. ”Kita berharap masyarakat ikut serta dalam pencegahan DBD agar tidak menambah angka kematian,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Demam Berdarah Dengue (DBD) cukup mengganas di Banyuwangi. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sejak awal 2022 hingga sekarang, ada temuan 293 kasus DBD. Bahkan, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti itu sudah merenggut delapan nyawa.

Kasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Banyuwangi Achmad Yunus Setiawan menyebut, kasus DBD di Banyuwangi memang cukup tinggi. Jika dirata-rata, setiap bulannya hampir menembus 50 kasus.

Baca Juga :  Harga Telur Terdongkrak Momen Maulid

Dalam enam bulan terakhir, jelas Yunus, lonjakan kasus terjadi pada bulan Juni hingga menembus angka 61 kasus. ”Sejak bulan Februari, grafis angka lonjakan kasus semakin meningkat. Puncaknya pada bulan Juni,” imbuhnya.

Persebaran DBD di Jatim juga  mengalami kenaikan signifikan. Selama Januari-Juli, total penderita penyakit tersebut telah mencapai 7.016 orang. Angka itu melebihi jumlah penderita  selama 2020 sebanyak 6.750 orang.   Tak hanya itu, jumlah penderita DBD yang meninggal juga naik signifikan. Selama tujuh bulan pada 2022, total sudah ada 34 pasien yang tak bisa diselamatkan. Angka itu lebih banyak daripada jumlah kasus selama 2020 sebanyak 72 kematian.

Dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, Banyuwangi menempati rangking kedua kematian sebanyak 8 orang. Tertinggi adalah Nganjuk dengan jumlah kematian 11 orang, nomor tiga Kota Malang (7 orang), disusul Kabupaten Malang  (6 orang) dan Pamekasan (5 orang). (rio/aif)

RADAR BANYUWANGI – Menyambut Hari Jadi Polwan ke-74 yang jatuh pada tanggal 2 Agustus, sejumlah anggota Polwan yang berdinas di Polresta Banyuwangi blusukan ke kampung-kampung. Mereka membagikan paket sembako kepada warga yang kurang mampu. Ada pula kegiatan fogging untuk pencegahan penyakit demam berdarah.

Meski harus menempuh jarak cukup jauh, para polwan tampak kompak dan semangat membawa paket sembako untuk masyarakat. Mereka membagikan 20 paket sembako kepada warga miskin di Kecamatan Banyuwangi.

”Aksi kemanusiaan ini ditujukan kepada masyarakat yang memang sangat membutuhkan,” ujar Ipda Yeyen, salah satu anggota Polwan.

Bukan hanya menggelar baksos. Anggota Polwan juga peduli dengan kesehatan. Tingginya angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banyuwangi, cukup membuat prihatin Polwan. Kemarin (3/8), sejumlah Polwan  terjun langsung melaksanakan fogging di Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi.

Dalam kegiatan tersebut, para Polwan menyisir sejumlah rumah warga untuk melaksanakan fogging. Mereka juga memberikan bingkisan kepada masyarakat yang membutuhkan. ”Aksi kemanusiaan dilakukan dalam rangka memperingati hari Jadi Polwan. Kami prihatin  kasus DBD di Banyuwangi cukup tinggi,” ujar salah satu Polwan Polresta Banyuwangi, Iptu Titiek.

Baca Juga :  Harga Cabai Murah, Petani Merugi

Titiek menerangkan, angka  DBD  sudah mencapai hampir 300 kasus. Sedangkan jumlah kematian mencapai delapan orang. ”DBD sangat mengkhawatirkan. Sampai sekarang, kasus DBD masih banyak ditemukan di Banyuwangi,” katanya.

PENGASAPAN: Sejumlah anggota Polwan melaksanakan fogging ke Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi, Rabu (3/8). (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

Titiek menambahkan, selain melakukan fogging, anggota Polwan juga memberikan sosialisasi tentang pencegahan kasus DBD. Caranya dengan menerapkan 3 M, yaitu menguras tempat mandi, mengubur barang bekas, dan menutup penampungan air. ”Kita berharap masyarakat ikut serta dalam pencegahan DBD agar tidak menambah angka kematian,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Demam Berdarah Dengue (DBD) cukup mengganas di Banyuwangi. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sejak awal 2022 hingga sekarang, ada temuan 293 kasus DBD. Bahkan, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti itu sudah merenggut delapan nyawa.

Kasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Banyuwangi Achmad Yunus Setiawan menyebut, kasus DBD di Banyuwangi memang cukup tinggi. Jika dirata-rata, setiap bulannya hampir menembus 50 kasus.

Baca Juga :  PT Naga Baru Beri Ratusan Paket Sembako ke Lingkungan Sukowidi

Dalam enam bulan terakhir, jelas Yunus, lonjakan kasus terjadi pada bulan Juni hingga menembus angka 61 kasus. ”Sejak bulan Februari, grafis angka lonjakan kasus semakin meningkat. Puncaknya pada bulan Juni,” imbuhnya.

Persebaran DBD di Jatim juga  mengalami kenaikan signifikan. Selama Januari-Juli, total penderita penyakit tersebut telah mencapai 7.016 orang. Angka itu melebihi jumlah penderita  selama 2020 sebanyak 6.750 orang.   Tak hanya itu, jumlah penderita DBD yang meninggal juga naik signifikan. Selama tujuh bulan pada 2022, total sudah ada 34 pasien yang tak bisa diselamatkan. Angka itu lebih banyak daripada jumlah kasus selama 2020 sebanyak 72 kematian.

Dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, Banyuwangi menempati rangking kedua kematian sebanyak 8 orang. Tertinggi adalah Nganjuk dengan jumlah kematian 11 orang, nomor tiga Kota Malang (7 orang), disusul Kabupaten Malang  (6 orang) dan Pamekasan (5 orang). (rio/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/