alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Kisah Kakek Agus Santoso, Puluhan Tahun Hidup di Kolong Jembatan Kalisetail

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Agus Santoso, 70, yang mengaku dari Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, kondisinya mengenaskan. Kakek ini sudah puluhan tahun tinggal sendiri di bawah Jembatan Setail, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.

Saat didatangi Jawa Pos Radar Genteng di ‘rumahnya’, Agus Santoso tengah tidur pulas dengan beralaskan tikar bekas, dan berlindung dari hawa dingin papan tulis dan aneka perabotan yang mampu menahan laju angin. Kakek itu terlihat nyaman tidurnya di bawah cor beton jembatan yang menghubungkan Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, dengan Desa Setail, Kecamatan Genteng.

Sepertinya tak banyak orang tahu kakek yang mengaku hidup sendirian setelah istrinya, Jumirah meninggal 30 tahun lalu itu, tinggal di kolong jembatan. Dari pengakuannya, ia sudah menetap di kolong jembatan itu sejak tahun 2000.

Kesepian ditinggal istrinya meninggal, semakin parah setelah hilang kontak dengan dua anaknya, Sigit dan Subandi. Saat itu, ia tengah mencari penghidupan di Bali sebagai kuli bangunan. “Waktu itu saya masih umur 50 tahun,” terangnya.

Banting tulang jadi kuli bagunan, tidur di bedak-bedak proyek yang penuh nyamuk, sudah puluhan tahun dilakukan Agus. “Dulu pernah kerja di Bali, setelah putus kontak dengan anak-anak, saya pulang ke Jawa,” terangnya.

Baca Juga :  Bupati Anas Nobar Final Liga Champion dan Sahur Bareng Warga Pedesaan

Agus mengaku berusaha mencari kedua anaknya itu. Karena tidak ketemu, sejak tahun 2000 pergi ke Kecamatan Genteng untuk mencari pekerjaan. “Karena umur sudah tua, gak banyak yang mau nampung buat kerja bangunan,” sebutnya.

Karena alasan itulah, kakek ini beralih profesi menjadi tukang parkir. Ia menggantungkan hidupnya dari recehan yang diberikan warga di pinggir jalan. “Setiap pagi jaga parkir di depan rumah makan Jamilah, kalau siang cari rongsokan,” ungkapnya.

Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Agus di usianya yang sudah tua itu. Dengan tinggal di bawah jembatan, ia hanya bisa pasrah dengan jalan yang telah ditetapkan yang maha kuasa. “Sempit, tidur hanya bisa tengkurap atau terlentang saja,” jelasnya.

Untuk kelangsunan gilingan nasi di perutnya, Agus mengaku hanya bisa beli di warung dengan menu makanan yang paling murah. “Biasanya beli di warung atas (pinggir jembatan), beli nasi dan kuah rawon. Biar hemat, sehari hanya makan satu kali,” bebernya.

Baca Juga :  Lewat Pengeras Suara Umumkan Dompet Hilang hingga Kampanye Cabup

Untuk mandi dan keperluan kakus, memanfaatkan melimpahnya air di Sungai Kalisetail yang ada di samping ‘rumahnya’. “Untuk cuci baju dan lain-lain ya di sungai, tinggal jalan kaki ke bawah sana saja,” cetusnya seraya menunjuk ke aliran sungai.

Untuk penerangan, jangan ditanya. Di tempat itu tak ada yang menyala, selain api dari dari lampu minyak. Saat asyik tidur, tidak jarang muncul hewan liar. “Kadang muncul biawak atau ular,” ungkapnya.

Kehidupan sosial Agus juga seakan berhenti sejak memutuskan tinggal di bawah jembatan. Selain pemilik warung langganannya itu, Agus hanya kenal beberapa orang yang biasa bertemu di parkiran. “Saudara-saudaranya tidak pernah ada yang datang. Katanya punya rumah di Bangorejo, tapi sudah dijual lama sekali,” ucap Sugiarti, 47, pemilik warung yang jadi langganan Agus.

Selain itu, masih kata Sugiarti, Agus sudah tidak lama punya tanda pengenal sama sekali. Sejak tinggal di bawah jembatan pada tahun 2000, kakek itu tidak punya KTP. “Tidak punya kartu identitas sama sekali,” pungkasnya.(sas/abi)

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Agus Santoso, 70, yang mengaku dari Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, kondisinya mengenaskan. Kakek ini sudah puluhan tahun tinggal sendiri di bawah Jembatan Setail, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.

Saat didatangi Jawa Pos Radar Genteng di ‘rumahnya’, Agus Santoso tengah tidur pulas dengan beralaskan tikar bekas, dan berlindung dari hawa dingin papan tulis dan aneka perabotan yang mampu menahan laju angin. Kakek itu terlihat nyaman tidurnya di bawah cor beton jembatan yang menghubungkan Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, dengan Desa Setail, Kecamatan Genteng.

Sepertinya tak banyak orang tahu kakek yang mengaku hidup sendirian setelah istrinya, Jumirah meninggal 30 tahun lalu itu, tinggal di kolong jembatan. Dari pengakuannya, ia sudah menetap di kolong jembatan itu sejak tahun 2000.

Kesepian ditinggal istrinya meninggal, semakin parah setelah hilang kontak dengan dua anaknya, Sigit dan Subandi. Saat itu, ia tengah mencari penghidupan di Bali sebagai kuli bangunan. “Waktu itu saya masih umur 50 tahun,” terangnya.

Banting tulang jadi kuli bagunan, tidur di bedak-bedak proyek yang penuh nyamuk, sudah puluhan tahun dilakukan Agus. “Dulu pernah kerja di Bali, setelah putus kontak dengan anak-anak, saya pulang ke Jawa,” terangnya.

Baca Juga :  Gowes Bareng Sembari Nikmati Panorama dan Aksi Sosial

Agus mengaku berusaha mencari kedua anaknya itu. Karena tidak ketemu, sejak tahun 2000 pergi ke Kecamatan Genteng untuk mencari pekerjaan. “Karena umur sudah tua, gak banyak yang mau nampung buat kerja bangunan,” sebutnya.

Karena alasan itulah, kakek ini beralih profesi menjadi tukang parkir. Ia menggantungkan hidupnya dari recehan yang diberikan warga di pinggir jalan. “Setiap pagi jaga parkir di depan rumah makan Jamilah, kalau siang cari rongsokan,” ungkapnya.

Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Agus di usianya yang sudah tua itu. Dengan tinggal di bawah jembatan, ia hanya bisa pasrah dengan jalan yang telah ditetapkan yang maha kuasa. “Sempit, tidur hanya bisa tengkurap atau terlentang saja,” jelasnya.

Untuk kelangsunan gilingan nasi di perutnya, Agus mengaku hanya bisa beli di warung dengan menu makanan yang paling murah. “Biasanya beli di warung atas (pinggir jembatan), beli nasi dan kuah rawon. Biar hemat, sehari hanya makan satu kali,” bebernya.

Baca Juga :  Berangkat Subuh, Jalan Kelilingi 560 Pohon Setiap Hari

Untuk mandi dan keperluan kakus, memanfaatkan melimpahnya air di Sungai Kalisetail yang ada di samping ‘rumahnya’. “Untuk cuci baju dan lain-lain ya di sungai, tinggal jalan kaki ke bawah sana saja,” cetusnya seraya menunjuk ke aliran sungai.

Untuk penerangan, jangan ditanya. Di tempat itu tak ada yang menyala, selain api dari dari lampu minyak. Saat asyik tidur, tidak jarang muncul hewan liar. “Kadang muncul biawak atau ular,” ungkapnya.

Kehidupan sosial Agus juga seakan berhenti sejak memutuskan tinggal di bawah jembatan. Selain pemilik warung langganannya itu, Agus hanya kenal beberapa orang yang biasa bertemu di parkiran. “Saudara-saudaranya tidak pernah ada yang datang. Katanya punya rumah di Bangorejo, tapi sudah dijual lama sekali,” ucap Sugiarti, 47, pemilik warung yang jadi langganan Agus.

Selain itu, masih kata Sugiarti, Agus sudah tidak lama punya tanda pengenal sama sekali. Sejak tinggal di bawah jembatan pada tahun 2000, kakek itu tidak punya KTP. “Tidak punya kartu identitas sama sekali,” pungkasnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/