alexametrics
26.3 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Rambah Online, Durian Terasa Tawar Diganti

MUSIM durian, pedagang durian asal Dusun Jambean, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, “ketiban durian runtuh”. Para pedagang tidak lagi berjualan konvensional menempat di suatu tempat untuk meraih pembeli. Kini, para pedagag mulai berjualan dengan sistem online memanfaatkan media sosial.

Jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Seorang lelaki membawa tobos (gerobak dari anyaman bambu) di belakang jok motornya. Dari dalam tobos kelihatan beberapa buah yang dimuat cukup banyak. Semakin dekat, bau khas buah itu cukup menyengat.

Lelaki itu adalah Zainul Abidin, 26, salah seorag pedagang buah durian asal Dusun Jambean, Desa Jambesari, Kecamatan Giri. Sudah tiga tahun terakhir, Zainul berkeliling menjadi pedagang buah durian di sekitar Kecamatan Giri.

Namun, apa yang diterapkan Zainul berbeda dengan pedagang buah kebanyakan. Bapak dengan satu orang anak itu lebih memilih memanfaatkan jaringan media sosial (media sosial) sebagai tempat berdagang. “Saya jual lewat medsos,” ungkapnya.

Tidak hanya buah durian yang dijual melalui medsos. Suami Nurhamidah, 21, ini mengaku hampir semua potensi perkebunan yang ada di desanya dijual melalui akun medsos miliknya. Hasil perkebunan itu mulai dari buah manggis, pisang, nangka, petai, kluwih, dan tewel (nangka muda).

Potensi hasil kebun yang ada di desanya itu tidak dihasilkan dari lahan kebun miliknya. Melainkan hasil dari kebun milik tetangga atau warga di desa sekitar tempat tinggalnya. “Jadi sedang ada musim atau panen apa di desa. Saya beli dari pemilik kebun. Saya foto langsung saya upload,” ujarnya.

Denga berbekal smartphone, Zainul mampu memasarkan potensi hasil kebun yang ada di wilayahnya menjadi sebuah ladang mata pencaharian yang bisa dibilang cukup menjanjikan. Tidak hanya butuh modal besar, dengan modal seadanya terus dikembangkan untuk membeli panenan hasil kebun lainnya. “Jadi, saya punya uang Rp 5 ribu pokok masih ada paketan, saya masih bisa jualan. Tidak perlu lagi datang ke pasar. Hanya cukup saya foto dan saya unggah ke medsos itu saja,” cetusnya polos.

Baca Juga :  Antrean Kendaraan Mengular, Usulkan Pelebaran Jembatan

Meski terkesan sepele, tapi tidak bisa dise­pelekan begitu saja. Khususnya dalam berjualan durian. Selama berjualan buah durian ini, dia memang sudah mempunyai keahlian, terutama dalam menebak jenis buah durian dan rasa durian.

Sehingga, dia tidak segan-segan memberikan jaminan kepada pembeli di medsos bahwa buah durian yang dijualnya adalah durian yang berkualitas baik dan bercitarasa tinggi. Barang yang dijualnya selalu dengan kondisi yang ada. “Kuncinya, kalau jualan online harus jujur, dan tidak PHP alias pemberian harapan palsu,” ujarnya terkekeh-kekeh.

Sejak awal Januari lalu, kata Zainul, dia benar-benar merasakan “ketiban durian jatuh”. Betapa tidak, sejak awal Januari hampir seluruh pohon durian di Desa Jambesari, Kemiren, dan sekitarnya mulai berbuah dan panen.

Dia hanya tinggal membuat janji dengan pemilik pohon agar menyimpan buah yang telah masak di pohon dan benar-benar jatuh dari pohon. Kalaupun ada pemilik kebun yang nakal dengan menjual durian yang be­lum masak pohon, dia juga bisa menebak dan pasti tidak dibeli. Karena hal itu dapat merusak reputasinya sebagai pedagang buah durian. “Jadi, saya bisa menebak buahnya jatuh kapan, benar-benar masak di pohon atau tidak. Jenis dan rasa duriannya pun saya tau,” bebernya.

Baca Juga :  Kali Pertama Diterapkan Istri Pejabat Bingung Cari Suami

Durian yang dia tahu ada beberapa jenis aneka rasa. Seperti durian rasa pahit manis, durian mentega, durian si kasur, dan durian susu, yakni dengan warna putih dan kental atau lumer dimulut. Ada juga durian dengan kadar alkohol tinggi, dan bisa bikin mabuk atau pusing setelah memakan beberapa buah. “Setiap calon pembeli selalu saya beri masukan cita rasanya. Jadi mereka akan memilih sesuai selera,” jelasnya.

Sejak musim durian, dia tidak lagi jual di tepi jalan raya. Dia fokus jualan online. Dulu memang dia pernah sesekali membawa buah durian dengan tobos dan menjajakan dagangan durian di tepi jalan raya di kawasan daerah kota Banyuwangi. Namun, hal itu dirasa ku­rang efektif dan menyita tenaga. “Pernah saya jual menetap di tepi jalan, hasilnya dapat Rp 800 ribu. Tapi, jual online bisa sampai Rp 1,2 juta,” terang Zainul.

Harga buah durian yang dijualnya melalui medsos berkisar mulai harga Rp 10 dan ribu dan paling mahal Rp 50 ribu. Karena dijual online, pembelinya tentu dari sejumlah kecamatan di Banyuwangi. Terkadang pembeli datang langsung ke rumahnya. Ada juga yang memasang janji untuk bertemu. Sistemnya yakni cash on dilevery. (COD).

“Pembeli minta diantar kemana. Atau ketemu dimana. Saya langsung membawakan barang sesuai pesanan. Jika mentah dan rasa campah atau tawar langsung saya ganti,” pungkasnya. (*)

MUSIM durian, pedagang durian asal Dusun Jambean, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, “ketiban durian runtuh”. Para pedagang tidak lagi berjualan konvensional menempat di suatu tempat untuk meraih pembeli. Kini, para pedagag mulai berjualan dengan sistem online memanfaatkan media sosial.

Jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Seorang lelaki membawa tobos (gerobak dari anyaman bambu) di belakang jok motornya. Dari dalam tobos kelihatan beberapa buah yang dimuat cukup banyak. Semakin dekat, bau khas buah itu cukup menyengat.

Lelaki itu adalah Zainul Abidin, 26, salah seorag pedagang buah durian asal Dusun Jambean, Desa Jambesari, Kecamatan Giri. Sudah tiga tahun terakhir, Zainul berkeliling menjadi pedagang buah durian di sekitar Kecamatan Giri.

Namun, apa yang diterapkan Zainul berbeda dengan pedagang buah kebanyakan. Bapak dengan satu orang anak itu lebih memilih memanfaatkan jaringan media sosial (media sosial) sebagai tempat berdagang. “Saya jual lewat medsos,” ungkapnya.

Tidak hanya buah durian yang dijual melalui medsos. Suami Nurhamidah, 21, ini mengaku hampir semua potensi perkebunan yang ada di desanya dijual melalui akun medsos miliknya. Hasil perkebunan itu mulai dari buah manggis, pisang, nangka, petai, kluwih, dan tewel (nangka muda).

Potensi hasil kebun yang ada di desanya itu tidak dihasilkan dari lahan kebun miliknya. Melainkan hasil dari kebun milik tetangga atau warga di desa sekitar tempat tinggalnya. “Jadi sedang ada musim atau panen apa di desa. Saya beli dari pemilik kebun. Saya foto langsung saya upload,” ujarnya.

Denga berbekal smartphone, Zainul mampu memasarkan potensi hasil kebun yang ada di wilayahnya menjadi sebuah ladang mata pencaharian yang bisa dibilang cukup menjanjikan. Tidak hanya butuh modal besar, dengan modal seadanya terus dikembangkan untuk membeli panenan hasil kebun lainnya. “Jadi, saya punya uang Rp 5 ribu pokok masih ada paketan, saya masih bisa jualan. Tidak perlu lagi datang ke pasar. Hanya cukup saya foto dan saya unggah ke medsos itu saja,” cetusnya polos.

Baca Juga :  Omzet Meroket Jelang Malam Jumat, Setangkai Mawar Dihargai Rp 300

Meski terkesan sepele, tapi tidak bisa dise­pelekan begitu saja. Khususnya dalam berjualan durian. Selama berjualan buah durian ini, dia memang sudah mempunyai keahlian, terutama dalam menebak jenis buah durian dan rasa durian.

Sehingga, dia tidak segan-segan memberikan jaminan kepada pembeli di medsos bahwa buah durian yang dijualnya adalah durian yang berkualitas baik dan bercitarasa tinggi. Barang yang dijualnya selalu dengan kondisi yang ada. “Kuncinya, kalau jualan online harus jujur, dan tidak PHP alias pemberian harapan palsu,” ujarnya terkekeh-kekeh.

Sejak awal Januari lalu, kata Zainul, dia benar-benar merasakan “ketiban durian jatuh”. Betapa tidak, sejak awal Januari hampir seluruh pohon durian di Desa Jambesari, Kemiren, dan sekitarnya mulai berbuah dan panen.

Dia hanya tinggal membuat janji dengan pemilik pohon agar menyimpan buah yang telah masak di pohon dan benar-benar jatuh dari pohon. Kalaupun ada pemilik kebun yang nakal dengan menjual durian yang be­lum masak pohon, dia juga bisa menebak dan pasti tidak dibeli. Karena hal itu dapat merusak reputasinya sebagai pedagang buah durian. “Jadi, saya bisa menebak buahnya jatuh kapan, benar-benar masak di pohon atau tidak. Jenis dan rasa duriannya pun saya tau,” bebernya.

Baca Juga :  Kali Pertama Diterapkan Istri Pejabat Bingung Cari Suami

Durian yang dia tahu ada beberapa jenis aneka rasa. Seperti durian rasa pahit manis, durian mentega, durian si kasur, dan durian susu, yakni dengan warna putih dan kental atau lumer dimulut. Ada juga durian dengan kadar alkohol tinggi, dan bisa bikin mabuk atau pusing setelah memakan beberapa buah. “Setiap calon pembeli selalu saya beri masukan cita rasanya. Jadi mereka akan memilih sesuai selera,” jelasnya.

Sejak musim durian, dia tidak lagi jual di tepi jalan raya. Dia fokus jualan online. Dulu memang dia pernah sesekali membawa buah durian dengan tobos dan menjajakan dagangan durian di tepi jalan raya di kawasan daerah kota Banyuwangi. Namun, hal itu dirasa ku­rang efektif dan menyita tenaga. “Pernah saya jual menetap di tepi jalan, hasilnya dapat Rp 800 ribu. Tapi, jual online bisa sampai Rp 1,2 juta,” terang Zainul.

Harga buah durian yang dijualnya melalui medsos berkisar mulai harga Rp 10 dan ribu dan paling mahal Rp 50 ribu. Karena dijual online, pembelinya tentu dari sejumlah kecamatan di Banyuwangi. Terkadang pembeli datang langsung ke rumahnya. Ada juga yang memasang janji untuk bertemu. Sistemnya yakni cash on dilevery. (COD).

“Pembeli minta diantar kemana. Atau ketemu dimana. Saya langsung membawakan barang sesuai pesanan. Jika mentah dan rasa campah atau tawar langsung saya ganti,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/