alexametrics
31 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Dibangun Tahun 1889, TACB Minta Bangunan Tua Dipertahankan

BANYUWANGI – Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyuwangi menyayangkan pemugaran gedung Pertani (Persero) yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Penganjuran. Bangunan tersebut masuk cagar budaya di Banyuwangi.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.30. Para pekerja terlihat beristirahat setelah seharian bekerja keras. Ada yang mencuci tangan, ada pula yang duduk santai sembari membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya.

Mereka adalah para pekerja bangunan di area bekas gedung Pertani. Sekeliling bangunan tua itu sudah menjadi fondasi bangunan yang siap dilanjutkan. Bangunan tua dua lantai itu memang tampak kuno. Bagian depan terdapat balkon yang berukuran tinggi 315 x160 cm dengan motif suluran yang dikelilingi pagar besi. Sementara di lantai bawah berukuran 320 x 250 cm, bermotif lengkung di bagian salah satunya terdapat motif saluran dengan ventilasi besi sebagai angin-angin dan terdapat daun pintu.

Secara keseluruhan, bangunan tersebut memang tampak sudah kuno atau usianya di atas 50 tahun lebih. ”Yang kami ketahui memang bangunan ini sudah berusia lebih 50 tahun yang dulunya adalah gedung Pertani,” ungkap salah seorang tim ahli cagar budaya Banyuwangi, Ilham Triadi.

Bangunan yang telah dibongkar tersebut sebenarnya layak disebut sebagai sumber daya arkeologi sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya. Sehingga, wajib dilindungi baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Apalagi, jika dilihat dari sejarah bangunan itu sendiri serta usia tahun gedung tersebut sudah lebih dari 50 tahun. Ini sesuai dengan Undang-Undang No 11 tahun 2010 mengenai Cagar Budaya.

Baca Juga :  Ini Kebiasaan Nyeleneh Sadin, Dia Mencatat Kematian Warga Sejak 1970

Intisari dari undang-undang tersebut, kata Ilham, untuk bisa ditetapkan sebagai situs cagar budaya sebuah bangunan harus memenuhi kriteria berusia 50 tahun atau lebih. Selain itu, mewakili masa gaya arsitektur paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Sasaran dalam pelestarian cagar budaya, kata Ilham, yakni untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemilik terhadap pentingnya pelestarian, perlindungan, dan pemeliharaan budaya. ”Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam pelestarian dan perlindungan cagar budaya demi kepentingan sejarah, pengetahuan, kebudayaan, sosial, dan ekonomi,” jelasnya.

Sebelum gedung Pertani habis rata dengan tanah, Ilham berharap agar gedung tua yang tersisa di bagian tengah tersebut tetap dipertahankan dalam rangka pelestarian dan perlindungan cagar budaya di Banyuwangi. ”Kalau menurut sejarah yang kami dapatkan di lokasi tersebut memang bekas Pertani. Bahkan, sampai sekarang juga masih ada cerobongnya,” terang Ilham Triadi.

Bila ditelusuri ke belakang, diperkirakan gedung tersebut dulunya gedung pendukung ekspor beras dan rempah-rempah ke Eropa. Gedung tersebut diperkirakan dibangun tahun 1889. ”Sezaman dengan gedung Naga Bulan dan gedung tua di Pantai Boom,” ungkap Ilham yang juga guru kesenian di SMPN 2 Rogojampi tersebut.   

Baca Juga :  Ngaji Kilatan, Memperdalam Kitab Kuning

Pada gedung tua itu juga terdapat papan peringatan yang dipasang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banyuwangi. Papan berukuran satu meter persegi itu berisi tulisan agar proyek pembangunan gedung diberhentikan karena melanggar ketentuan peraturan daerah Banyuwangi Nomor 6 Tahun 2015 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2011 tentang Retribusi Perizinan Tertentu.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Wawan Yadmadi mengatakan, proyek pembangunan di Jalan Jenderal Ahmad Yani tersebut belum mengantongi izin. Pihaknya sudah menegur dengan memasang papan tersebut agar proses pembangunan dihentikan sementara waktu sampai pengurus izinnya selesai.

”Silakan proses pembangunan kembali dilanjutkan, jika semua pengurusan izin sudah tuntas dan rampung. Jika memang izinnya sudah selesai tentu papan peringatan tersebut akan kami lepas,” kata Wawan.

Pihaknya tidak mengetahui persis jika bangunan gedung tua itu merupakan objek cagar budaya. ”Saya belum tahu persis mau dibangun kantor apa, karena harus ada Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR),” tandasnya. 

BANYUWANGI – Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyuwangi menyayangkan pemugaran gedung Pertani (Persero) yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Penganjuran. Bangunan tersebut masuk cagar budaya di Banyuwangi.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.30. Para pekerja terlihat beristirahat setelah seharian bekerja keras. Ada yang mencuci tangan, ada pula yang duduk santai sembari membersihkan keringat yang membasahi tubuhnya.

Mereka adalah para pekerja bangunan di area bekas gedung Pertani. Sekeliling bangunan tua itu sudah menjadi fondasi bangunan yang siap dilanjutkan. Bangunan tua dua lantai itu memang tampak kuno. Bagian depan terdapat balkon yang berukuran tinggi 315 x160 cm dengan motif suluran yang dikelilingi pagar besi. Sementara di lantai bawah berukuran 320 x 250 cm, bermotif lengkung di bagian salah satunya terdapat motif saluran dengan ventilasi besi sebagai angin-angin dan terdapat daun pintu.

Secara keseluruhan, bangunan tersebut memang tampak sudah kuno atau usianya di atas 50 tahun lebih. ”Yang kami ketahui memang bangunan ini sudah berusia lebih 50 tahun yang dulunya adalah gedung Pertani,” ungkap salah seorang tim ahli cagar budaya Banyuwangi, Ilham Triadi.

Bangunan yang telah dibongkar tersebut sebenarnya layak disebut sebagai sumber daya arkeologi sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya. Sehingga, wajib dilindungi baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Apalagi, jika dilihat dari sejarah bangunan itu sendiri serta usia tahun gedung tersebut sudah lebih dari 50 tahun. Ini sesuai dengan Undang-Undang No 11 tahun 2010 mengenai Cagar Budaya.

Baca Juga :  Harus Segera Dikipas agar Kopi Sangrai Tidak Gosong

Intisari dari undang-undang tersebut, kata Ilham, untuk bisa ditetapkan sebagai situs cagar budaya sebuah bangunan harus memenuhi kriteria berusia 50 tahun atau lebih. Selain itu, mewakili masa gaya arsitektur paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Sasaran dalam pelestarian cagar budaya, kata Ilham, yakni untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemilik terhadap pentingnya pelestarian, perlindungan, dan pemeliharaan budaya. ”Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam pelestarian dan perlindungan cagar budaya demi kepentingan sejarah, pengetahuan, kebudayaan, sosial, dan ekonomi,” jelasnya.

Sebelum gedung Pertani habis rata dengan tanah, Ilham berharap agar gedung tua yang tersisa di bagian tengah tersebut tetap dipertahankan dalam rangka pelestarian dan perlindungan cagar budaya di Banyuwangi. ”Kalau menurut sejarah yang kami dapatkan di lokasi tersebut memang bekas Pertani. Bahkan, sampai sekarang juga masih ada cerobongnya,” terang Ilham Triadi.

Bila ditelusuri ke belakang, diperkirakan gedung tersebut dulunya gedung pendukung ekspor beras dan rempah-rempah ke Eropa. Gedung tersebut diperkirakan dibangun tahun 1889. ”Sezaman dengan gedung Naga Bulan dan gedung tua di Pantai Boom,” ungkap Ilham yang juga guru kesenian di SMPN 2 Rogojampi tersebut.   

Baca Juga :  Ngaji Kilatan, Memperdalam Kitab Kuning

Pada gedung tua itu juga terdapat papan peringatan yang dipasang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banyuwangi. Papan berukuran satu meter persegi itu berisi tulisan agar proyek pembangunan gedung diberhentikan karena melanggar ketentuan peraturan daerah Banyuwangi Nomor 6 Tahun 2015 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2011 tentang Retribusi Perizinan Tertentu.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Wawan Yadmadi mengatakan, proyek pembangunan di Jalan Jenderal Ahmad Yani tersebut belum mengantongi izin. Pihaknya sudah menegur dengan memasang papan tersebut agar proses pembangunan dihentikan sementara waktu sampai pengurus izinnya selesai.

”Silakan proses pembangunan kembali dilanjutkan, jika semua pengurusan izin sudah tuntas dan rampung. Jika memang izinnya sudah selesai tentu papan peringatan tersebut akan kami lepas,” kata Wawan.

Pihaknya tidak mengetahui persis jika bangunan gedung tua itu merupakan objek cagar budaya. ”Saya belum tahu persis mau dibangun kantor apa, karena harus ada Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR),” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/