alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Kiling di Desa Aliyan Jadi Sarana Pengusir Hama yang Sarat Filosofi Ketuhanan

RADAR BANYUWANGI – Masyarakat suku Oseng punya ”mainan” baling-baling yang sangat khas. Namanya kiling.

Tiang bambu berdiri menjulang. Dilihat dari kejauhan, cagak yang tampak gagah tersebut seolah menyangga langit. Setelah didekati, ternyata di bagian atas tiang bambu yang berada di areal persawahan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, itu terdapat baling-baling bambu atau yang oleh masyarakat Oseng disebut kiling.

Ya, diakui atau tidak, warga Oseng selama ini memang dikenal sebagai masyarakat agraris yang masih melestarikan tradisinya. Salah satunya tradisi manjer kiling. Panjer dalam bahasa Indonesia berarti tiang atau penyangga. Sedangkan kiling berarti kincir angin. Dengan demikian, manjer kiling berarti memasang kincir angin dengan penyangga yang terbuat dari bambu.

Di bagian atas tiang tersebut dipasang bambu melengkung lengkap dengan hiasan khusus –biasanya berupa rumbai-rumbai yang terbuat dari plastik dan lain sebagainya. Tak sekadar sebagai hiasan, rumbai-rumbai itu juga berfungsi untuk menyesuaikan arah angin sehingga kiling akan selalu menghadap ke arah yang sesuai dengan arah angin tersebut.

Baca Juga :  Salawat ”Kebangsaan” NU Itu Ternyata Lahir di Banyuwangi

Kiling berukuran besar biasanya terbuat dari bilah kayu. Namun, kadang ada pula kiling yang terbuat dari bambu. Biasanya, kiling bambu berukuran lebih kecil dibandingkan kiling yang terbuat dari kayu.

Saat tertiup angin, kiling akan berputar dan menimbulkan suara menderu layaknya suara baling-baling helikopter. Semakin besar ukuran kiling dan semakin kencang embusan angin, maka suara yang dihasilkan semakin keras.

Lantaran dipasang di tempat yang tinggi, deru kiling bisa terdengar hingga jarak relatif jauh. Untuk kiling berukuran lebih dari satu meter, misalnya, suaranya bisa terdengar hingga radius 2 kilometer (km), bahkan lebih.

Sementara itu, salah satu wilayah yang masyarakatnya masih melestarikan tradisi panjer kiling adalah Desa Aliyan. Hingga kini ada puluhan kiling yang dipasang atau dipanjer di kawasan persawahan desa tersebut.

Baca Juga :  Masuk ke Dalam Kabin, Ponsel Wajib Mode Pesawat

Kepala Desa (Kades) Aliyan Anton Sujarwo mengatakan, kiling adalah tradisi peninggalan para leluhur masyarakat Oseng. Maka jangan heran, di desa setempat terdapat lebih dari 50 kiling. Apalagi konon, suku Oseng yang berdomisili di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, adalah yang tertua di Bumi Blambangan. ”Kiling adalah tradisi suku Oseng, biasanya berdiri di atas bukit atau di tengah sawah yang salah satu fungsinya untuk mengusir burung,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain itu, kiling juga sarat makna. Termasuk filosofi ketuhanan. ”Seperti kita lihat, kiling kan berputar pada satu poros. Itu mengandung filosofi bahwa sebagai manusia kita harus tetap iling (ingat) pada sang pencipta atau Tuhan,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)

RADAR BANYUWANGI – Masyarakat suku Oseng punya ”mainan” baling-baling yang sangat khas. Namanya kiling.

Tiang bambu berdiri menjulang. Dilihat dari kejauhan, cagak yang tampak gagah tersebut seolah menyangga langit. Setelah didekati, ternyata di bagian atas tiang bambu yang berada di areal persawahan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, itu terdapat baling-baling bambu atau yang oleh masyarakat Oseng disebut kiling.

Ya, diakui atau tidak, warga Oseng selama ini memang dikenal sebagai masyarakat agraris yang masih melestarikan tradisinya. Salah satunya tradisi manjer kiling. Panjer dalam bahasa Indonesia berarti tiang atau penyangga. Sedangkan kiling berarti kincir angin. Dengan demikian, manjer kiling berarti memasang kincir angin dengan penyangga yang terbuat dari bambu.

Di bagian atas tiang tersebut dipasang bambu melengkung lengkap dengan hiasan khusus –biasanya berupa rumbai-rumbai yang terbuat dari plastik dan lain sebagainya. Tak sekadar sebagai hiasan, rumbai-rumbai itu juga berfungsi untuk menyesuaikan arah angin sehingga kiling akan selalu menghadap ke arah yang sesuai dengan arah angin tersebut.

Baca Juga :  Warga Damrejo Budi Daya Tanaman Semanggi

Kiling berukuran besar biasanya terbuat dari bilah kayu. Namun, kadang ada pula kiling yang terbuat dari bambu. Biasanya, kiling bambu berukuran lebih kecil dibandingkan kiling yang terbuat dari kayu.

Saat tertiup angin, kiling akan berputar dan menimbulkan suara menderu layaknya suara baling-baling helikopter. Semakin besar ukuran kiling dan semakin kencang embusan angin, maka suara yang dihasilkan semakin keras.

Lantaran dipasang di tempat yang tinggi, deru kiling bisa terdengar hingga jarak relatif jauh. Untuk kiling berukuran lebih dari satu meter, misalnya, suaranya bisa terdengar hingga radius 2 kilometer (km), bahkan lebih.

Sementara itu, salah satu wilayah yang masyarakatnya masih melestarikan tradisi panjer kiling adalah Desa Aliyan. Hingga kini ada puluhan kiling yang dipasang atau dipanjer di kawasan persawahan desa tersebut.

Baca Juga :  Naik Pesawat Bisa Pakai Rapid Test Antigen

Kepala Desa (Kades) Aliyan Anton Sujarwo mengatakan, kiling adalah tradisi peninggalan para leluhur masyarakat Oseng. Maka jangan heran, di desa setempat terdapat lebih dari 50 kiling. Apalagi konon, suku Oseng yang berdomisili di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, adalah yang tertua di Bumi Blambangan. ”Kiling adalah tradisi suku Oseng, biasanya berdiri di atas bukit atau di tengah sawah yang salah satu fungsinya untuk mengusir burung,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain itu, kiling juga sarat makna. Termasuk filosofi ketuhanan. ”Seperti kita lihat, kiling kan berputar pada satu poros. Itu mengandung filosofi bahwa sebagai manusia kita harus tetap iling (ingat) pada sang pencipta atau Tuhan,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/