alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Ngaji Kitab Taisirul Kholaq Lebih Santai, Masyarakat Boleh Ikut

BANYUWANGI – Pesantren merupakan sentral pendidikan salaf yang masih eksis di kehidupan yang modern ini. Ketika seluruh tempat sedang mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, pondok pesantren masih mempertahankan nilai-nilai tradisional.

Pondok pesantren akan terus mempertahankan nilai-nilai religius. Apalagi, di bulan Ramadan, bulan yang sangat khusus. Salah satu kegiatan Ramadan yang dilakukan secara unik di pondok pesantren adalah ”ngaji kilatan”. Ngaji kilatan merupakan proses belajar mengajar kitab klasik Al-Mu’tabaroh dengan sistem mengkhatamkan kitab selama bulan Ramadan.

Pengasuh pondok pesantren Nurul Huda, Dusun Salamrejo, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, Kiai Syaifuddin Zuhri mengatakan, kegiatan pengajian kitab kuning di bulan Ramadan tidak pernah sepi. Kegiatan ini selalu ramai diikuti oleh santri yang sudah lama mengaji maupun santri yang baru saja memulai belajar ngaji. Bahkan, masyarakat umum juga datang walau hanya ikut menyimak.

Menurut Gus Udin, sapaan akrab Kiai Syaifuddin Zuhri,  pengajian kitab di bulan Ramadan tidak pernah sepi karena dimanfaatkan sebagai kegiatan ngabuburit. Dengan mengaji, menunggu waktu Magrib akan terasa lebih cepat. ”Yang menarik selama bulan Ramadan, Kiai atau Bu Nyai yang menyampaikan sedikit lebih santai dengan disisipi jenaka agar tidak membosankan. Sehingga, kajian kitab lebih mudah diterima dengan bahagia,” jelasnya.

Tradisi mengaji di bulan suci merupakan cara paling baik untuk umat muslim agar selalu dekat dengan Nabi dan tetap dalam jalan Ilahi, yakni ajaran agama. Bulan Ramadan merupakan bulan untuk mendapatkan banyak pahala sekaligus kesempatan untuk menebus dosa.

”Jika diibaratkan dengan supermarket, maka bulan Ramadan merupakan sebuah diskon yang sangat besar. Karena itu, sayang sekali jika obral diskon amat besar di bulan Ramadan hanya dilewatkan begitu saja tanpa adanya kesungguhan dalam perilaku amal kebaikan,” terang Gus Udin.

Dari beberapa kitab yang diajarkan, salah satunya ialah Kitab Taisirul Kholaq. Kitab ini adalah karya Kiai Hafid Hasan (ulama Al-Azhar). Kitab ini menerangkan tentang ilmu akhlak agama untuk siswa kelas satu Al-Azhar. ”Kitab ini kami namakan Taisirul Kholaq Fi Ilmil Akhlaq,” jelas Gus Udin.

Ilmu akhlak merupakan pedoman untuk mengetahui kebaikan hati dan pancaindra. Hasil dari akhlak di dunia adalah kebaikan hati dan pancaindra, sedangkan  hasil di akhirat akan memperoleh keberuntungan berupa martabat yang tinggi. ”Semoga Allah senantiasa melindungi. Hanya atas kekuasaan-Nya lah kenikmatan menjadi sempurna,” pungkas Gus Udin. 

BANYUWANGI – Pesantren merupakan sentral pendidikan salaf yang masih eksis di kehidupan yang modern ini. Ketika seluruh tempat sedang mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, pondok pesantren masih mempertahankan nilai-nilai tradisional.

Pondok pesantren akan terus mempertahankan nilai-nilai religius. Apalagi, di bulan Ramadan, bulan yang sangat khusus. Salah satu kegiatan Ramadan yang dilakukan secara unik di pondok pesantren adalah ”ngaji kilatan”. Ngaji kilatan merupakan proses belajar mengajar kitab klasik Al-Mu’tabaroh dengan sistem mengkhatamkan kitab selama bulan Ramadan.

Pengasuh pondok pesantren Nurul Huda, Dusun Salamrejo, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, Kiai Syaifuddin Zuhri mengatakan, kegiatan pengajian kitab kuning di bulan Ramadan tidak pernah sepi. Kegiatan ini selalu ramai diikuti oleh santri yang sudah lama mengaji maupun santri yang baru saja memulai belajar ngaji. Bahkan, masyarakat umum juga datang walau hanya ikut menyimak.

Menurut Gus Udin, sapaan akrab Kiai Syaifuddin Zuhri,  pengajian kitab di bulan Ramadan tidak pernah sepi karena dimanfaatkan sebagai kegiatan ngabuburit. Dengan mengaji, menunggu waktu Magrib akan terasa lebih cepat. ”Yang menarik selama bulan Ramadan, Kiai atau Bu Nyai yang menyampaikan sedikit lebih santai dengan disisipi jenaka agar tidak membosankan. Sehingga, kajian kitab lebih mudah diterima dengan bahagia,” jelasnya.

Tradisi mengaji di bulan suci merupakan cara paling baik untuk umat muslim agar selalu dekat dengan Nabi dan tetap dalam jalan Ilahi, yakni ajaran agama. Bulan Ramadan merupakan bulan untuk mendapatkan banyak pahala sekaligus kesempatan untuk menebus dosa.

”Jika diibaratkan dengan supermarket, maka bulan Ramadan merupakan sebuah diskon yang sangat besar. Karena itu, sayang sekali jika obral diskon amat besar di bulan Ramadan hanya dilewatkan begitu saja tanpa adanya kesungguhan dalam perilaku amal kebaikan,” terang Gus Udin.

Dari beberapa kitab yang diajarkan, salah satunya ialah Kitab Taisirul Kholaq. Kitab ini adalah karya Kiai Hafid Hasan (ulama Al-Azhar). Kitab ini menerangkan tentang ilmu akhlak agama untuk siswa kelas satu Al-Azhar. ”Kitab ini kami namakan Taisirul Kholaq Fi Ilmil Akhlaq,” jelas Gus Udin.

Ilmu akhlak merupakan pedoman untuk mengetahui kebaikan hati dan pancaindra. Hasil dari akhlak di dunia adalah kebaikan hati dan pancaindra, sedangkan  hasil di akhirat akan memperoleh keberuntungan berupa martabat yang tinggi. ”Semoga Allah senantiasa melindungi. Hanya atas kekuasaan-Nya lah kenikmatan menjadi sempurna,” pungkas Gus Udin. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/