alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Kitab Matan Jurumiyah; Panduan Belajar Gramatika Bahasa Arab

BANYUWANGI – Bagi santri pondok pesantren salafiyah, tentu sudah tidak asing dengan kitab Matan al-Ajurumiyah karya Syeikh Abu Abdillah Muhammad bin Dawud Al-Shanhaji. Kitab ini khusus membahas ilmu tata bahasa Arab.

Kitab ini menjadi pedoman bagi setiap santri atau pun bagi yang ingin mempelajari bahasa Arab secara lebih mendalam. Sebab, di dalamnya berisi tentang pengetahuan mengenai kedudukan sebuah kata atau kalimat dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, istilah tata bahasa Arab ini disebut dengan ilmu nahwu. Begitu pentingnya ilmu nahwu sehingga di kalangan santri muncul anggapan, ”Kalau mau pandai atau menguasai bahasa Arab, dia harus paham ilmu nahwu,” jelas Kiai Fahrurozi.

Anggapan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, banyak orang yang bisa berbicara dalam bahasa Arab (muhadatsah) dengan rekannya (conversation), namun tidak menguasai ilmu tata bahasa Arab, terutama ilmu nahwu ini.

Akibat tidak menguasai tata bahasa Arab dengan baik, seseorang yang hanya menguasai muhadatsah jika berbicara dengan orang yang menguasai tata bahasa Arab akan ditertawakan. Pasalnya, tata bahasa Arab yang digunakan itu menyimpang dari kaidah yang sesungguhnya sehingga menjadi kacau.

Seorang santri yang terbiasa berbicara bahasa Arab, seperti di pondok pesantren yang mewajibkan santrinya menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar, masih mungkin memiliki banyak kesalahan dalam menggunakan kaidah bahasa Arab dibandingkan santri tradisional yang rutin mempelajari ilmu ini. Sebaliknya, bagi santri yang begitu hati-hatinya dalam menggunakan tata bahasa Arab, justru terkadang kesulitan saat melakukan muhadatsah (percakapan).

Kitab Al-Ajurrumiyah, kata Gus Rozi–panggilan akrab KH Fahrurozi– adalah kitab dasar gramatika Arab atau sering disebut dengan ilmu qowaid al-lughah, dalam hal ini nahwu dan sharaf. Ilmu sharaf adalah ilmu yang mempelajari perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Sedangkan, ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari kedudukan kata dalam kalimat, apakah sebagai subjek, predikat, atau objek. ”Kitab ini cukup tipis, tapi isi dan faedahnya besar sekali,” jelasnya.

Santri-santri di Indonesia sebagian besar mempelajari kitab ini dalam pembelajaran ilmu nahwu dasar. Mengapa demikian? Sebab, selain bahasa dan susunan redaksinya yang mudah dipahami, kitab Al-Ajurrumiyah juga disajikan dengan pemahaman yang tidak berbelit-belit. Tidak ada perbedaan pendapat, langsung kepada inti pembahasan, yaitu kaidah dan contoh. Kitab Matan Al-Ajurrumiyah diawali dengan bab kalam dan diakhiri dengan bab mahfudhat al-asma’.

BANYUWANGI – Bagi santri pondok pesantren salafiyah, tentu sudah tidak asing dengan kitab Matan al-Ajurumiyah karya Syeikh Abu Abdillah Muhammad bin Dawud Al-Shanhaji. Kitab ini khusus membahas ilmu tata bahasa Arab.

Kitab ini menjadi pedoman bagi setiap santri atau pun bagi yang ingin mempelajari bahasa Arab secara lebih mendalam. Sebab, di dalamnya berisi tentang pengetahuan mengenai kedudukan sebuah kata atau kalimat dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, istilah tata bahasa Arab ini disebut dengan ilmu nahwu. Begitu pentingnya ilmu nahwu sehingga di kalangan santri muncul anggapan, ”Kalau mau pandai atau menguasai bahasa Arab, dia harus paham ilmu nahwu,” jelas Kiai Fahrurozi.

Anggapan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, banyak orang yang bisa berbicara dalam bahasa Arab (muhadatsah) dengan rekannya (conversation), namun tidak menguasai ilmu tata bahasa Arab, terutama ilmu nahwu ini.

Akibat tidak menguasai tata bahasa Arab dengan baik, seseorang yang hanya menguasai muhadatsah jika berbicara dengan orang yang menguasai tata bahasa Arab akan ditertawakan. Pasalnya, tata bahasa Arab yang digunakan itu menyimpang dari kaidah yang sesungguhnya sehingga menjadi kacau.

Seorang santri yang terbiasa berbicara bahasa Arab, seperti di pondok pesantren yang mewajibkan santrinya menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar, masih mungkin memiliki banyak kesalahan dalam menggunakan kaidah bahasa Arab dibandingkan santri tradisional yang rutin mempelajari ilmu ini. Sebaliknya, bagi santri yang begitu hati-hatinya dalam menggunakan tata bahasa Arab, justru terkadang kesulitan saat melakukan muhadatsah (percakapan).

Kitab Al-Ajurrumiyah, kata Gus Rozi–panggilan akrab KH Fahrurozi– adalah kitab dasar gramatika Arab atau sering disebut dengan ilmu qowaid al-lughah, dalam hal ini nahwu dan sharaf. Ilmu sharaf adalah ilmu yang mempelajari perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Sedangkan, ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari kedudukan kata dalam kalimat, apakah sebagai subjek, predikat, atau objek. ”Kitab ini cukup tipis, tapi isi dan faedahnya besar sekali,” jelasnya.

Santri-santri di Indonesia sebagian besar mempelajari kitab ini dalam pembelajaran ilmu nahwu dasar. Mengapa demikian? Sebab, selain bahasa dan susunan redaksinya yang mudah dipahami, kitab Al-Ajurrumiyah juga disajikan dengan pemahaman yang tidak berbelit-belit. Tidak ada perbedaan pendapat, langsung kepada inti pembahasan, yaitu kaidah dan contoh. Kitab Matan Al-Ajurrumiyah diawali dengan bab kalam dan diakhiri dengan bab mahfudhat al-asma’.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/