alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Gesha Roaster Kopi, Mesin Sangrai Kopi Made by Emir Yusuf

BANYUWANGI tak hanya menjadi produsen kopi berkualitas. Dalam tiga tahun terakhir, produsen mesin roaster kopi mulai bermunculan. Salah satunya dilakukan salah seorang barista asal Banyuwangi, M. Emir Yusuf.

Suara halus mesin roaster terdengar di salah satu sudut kafe yang beralamat di Jalan HOS  Cokroaminoto, Banyuwangi. Begitu membuka pintu, aroma hangat biji kopi langsung menusuk hidung.  

Seorang pria tampak menadahi biji kopi yang baru saja keluar dari mesin roaster. Mesin tersebut dirancang sendiri oleh pria berusia 31 tahun tersebut. M. Emir Yusuf namanya. Selama lima tahun terakhir, Emir sudah memproduksi puluhan mesin roaster. Tak hanya mesin roaster, Emir juga membuat tiga jenis mesin lainya. Mulai dari mesin sortasi untuk memilah warna biji kopi hingga mesin pemecah kulit basah dan kulit kering.

”Mulai tahun 2016 sampai sekarang sudah 80 mesin yang saya buat. Sebagian besar dikirim ke Papua,” kata Emir.

Sebelum membuat mesin roasting, Emir mengaku banyak melakukan diskusi dengan salah satu temannya yang bekerja di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Selama tiga bulan, dia berdiskusi untuk membuat desain dan prototype mesin roaster yang bagus.

Berbekal ilmu teknik mesin yang dimilikinya, Emir mulai membuat mesin roaster. Dia menggunakan jasa tukang las. Produk pertamanya dibeli oleh seorang pemilik warung kopi di Desa Kemiren. Secara perlahan, pesanan mulai berdatangan.

Namun, bapak dua anak itu sempat tertipu dengan tukang las yang dimintanya menggarap mesin roaster. Pesanannya tidak bisa diselesaikan dan sempat membuat konsumen berang. Gara-gara kejadian itu, Emir akhirnya turun tangan sendiri. Dia mengerjakan sendiri pesanan mesin tersebut dengan belajar mengelas secara otodidak.

Ternyata proses membuat mesin tidak mudah. Beberapa kali Emir harus berkorban alat. Apalagi komponen mesin roaster harus dibuat dengan teliti. ”Untuk membuat potongan pelat yang presisi terkadang mesinnya tak pernah berhenti. Wajar kalau ada onderdil yang rusak. Ada juga yang dicuri orang,” ujarnya sembari tersenyum.

Mesin roaster buatan Emir akhirnya bisa diproduksi lagi. Emir juga mendapat pesanan khusus dari Green Economy Papua. Produknya digunakan untuk mengajari para pemuda Papua agar bisa memaksimalkan pengolahan kopi di Bumi Cenderawasih.

Setelah pesanan kembali mengalir, kini Emir menggandeng siswa SMK. Peralatan di SMK cukup lengkap dan bisa membuat produk sesuai harapan. Emir tinggal melakukan quality control untuk memastikan semuanya dikerjakan dengan tepat. Kini, anak-anak SMK sudah cukup lihai membuat komponen mesin sesuai dengan pesanan.

”Membuat mesin roaster itu tidak sekali jadi. Beberapa kali harus melakukan eksperimen. Pernah saya membuat, tapi tidak laku dijual. Setelah saya pelajari ternyata karbonnya terlalu tinggi. Rasa kopinya lebih spicy, tapi sekarang semuanya sudah teratasi,” jelas pria yang tinggal di Lingkungan Watubuncul, Kelurahan Banjarsari itu.

Produk mesin roaster made by Emir tersebut diberi nama Gesha. Nama itu merujuk pada salah satu varietas kopi yang harganya cukup mahal. Sebelum menjual produknya, Emir beberapa kali minta pendapat para roaster yang selama ini kerap menggunakan mesin sangrai kopi berharga miliaran rupiah. Salah satunya roaster John Lee dari Tanamara Coffee dan roaster Lutfi dari Bunista Rostery Saudi Arabia. ”Mereka sudah menguji hasil roaster dari mesin Gesha. Bagi saya sudah cukup teruji untuk digunakan,” ucapnya.

Emir mengungkapkan, harga mesin roaster yang dia produksi lebih murah daripada mesin-mesin yang sudah memiliki brand. Harga mesin roaster cukup bervariasi. Yang paling banyak digunakan biasanya berada di interval harga Rp 16 juta sampai Rp 840 juta.

Meski lebih murah, Emir mengaku sistem kerja alat yang diproduksinya tak jauh berbeda dengan alat-alat yang memiliki harga cukup mahal. Selama melakukan riset, Emir terus mengamati sistem kerja mesin roaster berkelas. Tujuannya bisa diterapkan dalam mesin Gesha, namun dengan harga lebih murah.

”Ada beberapa bagian yang harus diperhatian, seperti kekuatan pembakaran, karbon yang dihasilkan, berapa nanti yang tercampur dengan kopi, takaran gas dan oksigennya, semua harus presisi,” jelas alumnus SMKN 1 Glagah itu.

Ke depannya, pria yang pernah bekerja di perusahaan kapal itu ingin terus mengembangkan mesin Gesha. Salah satunya mesin sortasi atau pemilahan biji kopi yang bisa melakukan pemindaian kualitas, mulai dari berat jenis, size biji, dan warna. Dia ingin membuat mesin roaster yang bisa memproduksi hingga 15 kilogram biji kopi untuk sekali proses. Sepuluh kali lipat dari mesin yang saat ini digunakan.

Emir berharap bisa memproduksi alat-alat dengan lebih murah. Dengan demikian bisa membantu produsen kopi di Banyuwangi untuk meningkatkan produk mereka. Saat ini sudah ada beberapa kafe di Banyuwangi yang menggunakan produknya.

”Saya ingin membuat mesin yang bisa digunakan untuk skala industri. Mesin roaster yang ada sekarang untuk penggunaan 24 jam nonstop bisa memproduksi sampai 144 kilogram. Kalau bisa membuat mesin dengan kapasitas 10 kali lipat, saya bisa memproduksi sampai 1 ton,” pungkasnya.

BANYUWANGI tak hanya menjadi produsen kopi berkualitas. Dalam tiga tahun terakhir, produsen mesin roaster kopi mulai bermunculan. Salah satunya dilakukan salah seorang barista asal Banyuwangi, M. Emir Yusuf.

Suara halus mesin roaster terdengar di salah satu sudut kafe yang beralamat di Jalan HOS  Cokroaminoto, Banyuwangi. Begitu membuka pintu, aroma hangat biji kopi langsung menusuk hidung.  

Seorang pria tampak menadahi biji kopi yang baru saja keluar dari mesin roaster. Mesin tersebut dirancang sendiri oleh pria berusia 31 tahun tersebut. M. Emir Yusuf namanya. Selama lima tahun terakhir, Emir sudah memproduksi puluhan mesin roaster. Tak hanya mesin roaster, Emir juga membuat tiga jenis mesin lainya. Mulai dari mesin sortasi untuk memilah warna biji kopi hingga mesin pemecah kulit basah dan kulit kering.

”Mulai tahun 2016 sampai sekarang sudah 80 mesin yang saya buat. Sebagian besar dikirim ke Papua,” kata Emir.

Sebelum membuat mesin roasting, Emir mengaku banyak melakukan diskusi dengan salah satu temannya yang bekerja di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Selama tiga bulan, dia berdiskusi untuk membuat desain dan prototype mesin roaster yang bagus.

Berbekal ilmu teknik mesin yang dimilikinya, Emir mulai membuat mesin roaster. Dia menggunakan jasa tukang las. Produk pertamanya dibeli oleh seorang pemilik warung kopi di Desa Kemiren. Secara perlahan, pesanan mulai berdatangan.

Namun, bapak dua anak itu sempat tertipu dengan tukang las yang dimintanya menggarap mesin roaster. Pesanannya tidak bisa diselesaikan dan sempat membuat konsumen berang. Gara-gara kejadian itu, Emir akhirnya turun tangan sendiri. Dia mengerjakan sendiri pesanan mesin tersebut dengan belajar mengelas secara otodidak.

Ternyata proses membuat mesin tidak mudah. Beberapa kali Emir harus berkorban alat. Apalagi komponen mesin roaster harus dibuat dengan teliti. ”Untuk membuat potongan pelat yang presisi terkadang mesinnya tak pernah berhenti. Wajar kalau ada onderdil yang rusak. Ada juga yang dicuri orang,” ujarnya sembari tersenyum.

Mesin roaster buatan Emir akhirnya bisa diproduksi lagi. Emir juga mendapat pesanan khusus dari Green Economy Papua. Produknya digunakan untuk mengajari para pemuda Papua agar bisa memaksimalkan pengolahan kopi di Bumi Cenderawasih.

Setelah pesanan kembali mengalir, kini Emir menggandeng siswa SMK. Peralatan di SMK cukup lengkap dan bisa membuat produk sesuai harapan. Emir tinggal melakukan quality control untuk memastikan semuanya dikerjakan dengan tepat. Kini, anak-anak SMK sudah cukup lihai membuat komponen mesin sesuai dengan pesanan.

”Membuat mesin roaster itu tidak sekali jadi. Beberapa kali harus melakukan eksperimen. Pernah saya membuat, tapi tidak laku dijual. Setelah saya pelajari ternyata karbonnya terlalu tinggi. Rasa kopinya lebih spicy, tapi sekarang semuanya sudah teratasi,” jelas pria yang tinggal di Lingkungan Watubuncul, Kelurahan Banjarsari itu.

Produk mesin roaster made by Emir tersebut diberi nama Gesha. Nama itu merujuk pada salah satu varietas kopi yang harganya cukup mahal. Sebelum menjual produknya, Emir beberapa kali minta pendapat para roaster yang selama ini kerap menggunakan mesin sangrai kopi berharga miliaran rupiah. Salah satunya roaster John Lee dari Tanamara Coffee dan roaster Lutfi dari Bunista Rostery Saudi Arabia. ”Mereka sudah menguji hasil roaster dari mesin Gesha. Bagi saya sudah cukup teruji untuk digunakan,” ucapnya.

Emir mengungkapkan, harga mesin roaster yang dia produksi lebih murah daripada mesin-mesin yang sudah memiliki brand. Harga mesin roaster cukup bervariasi. Yang paling banyak digunakan biasanya berada di interval harga Rp 16 juta sampai Rp 840 juta.

Meski lebih murah, Emir mengaku sistem kerja alat yang diproduksinya tak jauh berbeda dengan alat-alat yang memiliki harga cukup mahal. Selama melakukan riset, Emir terus mengamati sistem kerja mesin roaster berkelas. Tujuannya bisa diterapkan dalam mesin Gesha, namun dengan harga lebih murah.

”Ada beberapa bagian yang harus diperhatian, seperti kekuatan pembakaran, karbon yang dihasilkan, berapa nanti yang tercampur dengan kopi, takaran gas dan oksigennya, semua harus presisi,” jelas alumnus SMKN 1 Glagah itu.

Ke depannya, pria yang pernah bekerja di perusahaan kapal itu ingin terus mengembangkan mesin Gesha. Salah satunya mesin sortasi atau pemilahan biji kopi yang bisa melakukan pemindaian kualitas, mulai dari berat jenis, size biji, dan warna. Dia ingin membuat mesin roaster yang bisa memproduksi hingga 15 kilogram biji kopi untuk sekali proses. Sepuluh kali lipat dari mesin yang saat ini digunakan.

Emir berharap bisa memproduksi alat-alat dengan lebih murah. Dengan demikian bisa membantu produsen kopi di Banyuwangi untuk meningkatkan produk mereka. Saat ini sudah ada beberapa kafe di Banyuwangi yang menggunakan produknya.

”Saya ingin membuat mesin yang bisa digunakan untuk skala industri. Mesin roaster yang ada sekarang untuk penggunaan 24 jam nonstop bisa memproduksi sampai 144 kilogram. Kalau bisa membuat mesin dengan kapasitas 10 kali lipat, saya bisa memproduksi sampai 1 ton,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/