alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Tetap Bekerja Sebagai Buruh Tani Meski Sudah Tua

Mbah Amsani hidup sendirian. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia memiliki semangat bekerja yang tinggi. Dia ingin terus beraktifitas

HABIBUL ADNAN, Panji

Ukuran rumahnya sekitar 2 x 4 meter. Itupun hanya berdinding anyaman bambu. Di beberapa bagian, sudah banyak yang terlihat bolong. Atapnya sudah bocor.

Di dalam rumah tersebut tampak sebuah ranjang lusuh. Di sampingnya, seisi rumah diletakkan tidak teratur. Ada beberapa benda berserakan. Beberapa pakaian lusuh diletakan sembarangan.

Gubuk ini berada di Dusun Tengah RT/02, RW/05, Desa Curahjeru, Kecamatan Panji. Rumah tersebut ditinggali seorang perempuan tua. Namanya Mbah Amsani. Dia tinggal sendirian di tempat itu.

Mbah Amsani mengatakan, dirinya sudah lama hidup sebatang kara. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia juga harus berjuang sendiri. “Sampai sekarang saya masih kerja,” ujarnya.

Baca Juga :  Spesialis Menanam Buah Langka

Semua pekerjaan dijalani selama ia mampu. Jadi buruh tani sekalipun, tetap dikerjakannya. Baginya, tidak banyak yang diharapkan kepada orang lain. Karena itu, dia tidak mau terlalu bergantung. “Yang penting usaha semampu saya,” katanya.

Dia mengatakan, selama ini, ada pihak-pihak yang memberikannya bantuan. Termasuk tetangganya yang simpati dengan kondisi ekonomi Mbah Amsani. Akan tetapi tidak mungkin akan dibantu setiap hari.

Atas dasar inilah, Mbah Amsani memilih tetap akan bekerja. Dia mengatakan, profesi yang sering dilakukan menjadi buruh tani. Dia membantu pekerjaan orang yang memintainya bantuan dengan semampunya saja.

Akan tetapi saat ini, sudah tidak banyak yang bisa dilakukannya, seiring dengan terus bertambahnya usia. Makanya, jarang sekali dia bekerja, terutama pekerjaan yang berat-berat. Seperti menjadi buruh tani.

Sebenarnya, untuk kebutuhan makan, Mbah Amsani tidak terlalu memikirkannya. Sebab, setiap hari pasti ada yang mengantarkan makanan ke rumahnya. Yang membuatnya khawatir, kondisi rumahanya yang hampir roboh. “Banyak yang bocor. Kamar tidur menjadi satu dengan dapur,” katanya.

Baca Juga :  Kisah Sunaim, Pencari Rongsokan yang Hidup Numpang di Rumah Tetangga

Karena itu, dia mengaku bersyukur ketika ada pihak yang membantunya memperbaiki rumahnya, beberapa waktu lalu. dia mengatakan, saat ini lebih tenang. Tidak dibayang-bayangi kekhawatiran rumahnya akan roboh.        

Salah satu relawan yang tergabung dalam komunitas sosial mengatakan, ada beberapa rumah tidak layak yang akan diperbaikinya melalui program bedah rumah. Pria yang tidak mau disebutkan namanya itu mencontohkan, rumah yang yang ditinggali Mbah Suroso. Dia mengatakan, warga miskin ini hanya tinggal di gubuk berukuran 2 x 4 meter itu.

Sama dengan rumah yang didiami Mbah Amsani, rumah ini juga hanya berdinding anyaman bambu dengan lantai tanah. “Atapnya sudah bocor. Rumah ini juga tidak sehat, tidak layak ditempati,” katanya. (pri)

Mbah Amsani hidup sendirian. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia memiliki semangat bekerja yang tinggi. Dia ingin terus beraktifitas

HABIBUL ADNAN, Panji

Ukuran rumahnya sekitar 2 x 4 meter. Itupun hanya berdinding anyaman bambu. Di beberapa bagian, sudah banyak yang terlihat bolong. Atapnya sudah bocor.

Di dalam rumah tersebut tampak sebuah ranjang lusuh. Di sampingnya, seisi rumah diletakkan tidak teratur. Ada beberapa benda berserakan. Beberapa pakaian lusuh diletakan sembarangan.

Gubuk ini berada di Dusun Tengah RT/02, RW/05, Desa Curahjeru, Kecamatan Panji. Rumah tersebut ditinggali seorang perempuan tua. Namanya Mbah Amsani. Dia tinggal sendirian di tempat itu.

Mbah Amsani mengatakan, dirinya sudah lama hidup sebatang kara. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia juga harus berjuang sendiri. “Sampai sekarang saya masih kerja,” ujarnya.

Baca Juga :  Cucu Paling Kecil Terpaksa Jadi Tulang Punggung Keluarga

Semua pekerjaan dijalani selama ia mampu. Jadi buruh tani sekalipun, tetap dikerjakannya. Baginya, tidak banyak yang diharapkan kepada orang lain. Karena itu, dia tidak mau terlalu bergantung. “Yang penting usaha semampu saya,” katanya.

Dia mengatakan, selama ini, ada pihak-pihak yang memberikannya bantuan. Termasuk tetangganya yang simpati dengan kondisi ekonomi Mbah Amsani. Akan tetapi tidak mungkin akan dibantu setiap hari.

Atas dasar inilah, Mbah Amsani memilih tetap akan bekerja. Dia mengatakan, profesi yang sering dilakukan menjadi buruh tani. Dia membantu pekerjaan orang yang memintainya bantuan dengan semampunya saja.

Akan tetapi saat ini, sudah tidak banyak yang bisa dilakukannya, seiring dengan terus bertambahnya usia. Makanya, jarang sekali dia bekerja, terutama pekerjaan yang berat-berat. Seperti menjadi buruh tani.

Sebenarnya, untuk kebutuhan makan, Mbah Amsani tidak terlalu memikirkannya. Sebab, setiap hari pasti ada yang mengantarkan makanan ke rumahnya. Yang membuatnya khawatir, kondisi rumahanya yang hampir roboh. “Banyak yang bocor. Kamar tidur menjadi satu dengan dapur,” katanya.

Baca Juga :  Spesialis Menanam Buah Langka

Karena itu, dia mengaku bersyukur ketika ada pihak yang membantunya memperbaiki rumahnya, beberapa waktu lalu. dia mengatakan, saat ini lebih tenang. Tidak dibayang-bayangi kekhawatiran rumahnya akan roboh.        

Salah satu relawan yang tergabung dalam komunitas sosial mengatakan, ada beberapa rumah tidak layak yang akan diperbaikinya melalui program bedah rumah. Pria yang tidak mau disebutkan namanya itu mencontohkan, rumah yang yang ditinggali Mbah Suroso. Dia mengatakan, warga miskin ini hanya tinggal di gubuk berukuran 2 x 4 meter itu.

Sama dengan rumah yang didiami Mbah Amsani, rumah ini juga hanya berdinding anyaman bambu dengan lantai tanah. “Atapnya sudah bocor. Rumah ini juga tidak sehat, tidak layak ditempati,” katanya. (pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/