alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Zainul Hasan, Tunanetra yang Pernah Juara I MTQ Provinsi Jatim

Zainul Hasan, 41, adalah seorang tunanetra. Menariknya, di tengah kekurangan fisik, dia memiliki prestasi dalam bidang tahsunil qiro’ah (membaca Alquran dengan indah). Prestasi terbaiknya, juara I MTQ tingkat Provinsi Jatim tahun 2009.

HABIBUL ADNAN, Panarukan

Sejak kecil, Zainul Hasan tidak pernah berpikir akan menjadi qori’. Apalagi sampai mengikuti musabaqah tilawatil quran (MTQ) di tingkat Provinsi Jawa Timur. Terbayang di dalam mimpinya saja tidak pernah.

Pria yang kini tinggal di Desa Duwet, Kecamatan Panarukan ini memang sadar betul dengan kekurangan fisiknya. Sebagai penyandang tunanetra (mengalami gangguan pengelihatan), belajar membaca Alquran saja akan kesulitan.

Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Tidak hanya bisa mengaji, bapak satu anak itu bahkan mampu membaca Alquran dengan suara yang indah. Inilah yang kini merubah hidupnya. Pernah juara MTQ, mendapatkan undangan menjadi qori’ kemana-kemana, serta melatih para calon qori’.

Zainul menceritakan, dirinya baru bisa mengaji sejak usia 7-8 tahun. Dia belajar dari guru ngaji musala di kampungnya. Pada suatu ketika, saat usianya baru memasuki 15 tahun, tanpa sengaja dia mendengarkan lantunan ayat suci Alquran melalui radio.

Dari sinilah, Zainul tertarik belajar membaca Alquran dengan lagu. Dia kemudian berusaha mencari orang yang mau mengajarinya. “Saya langsung belajar. Banyak sih yang ngajari,” katanya.

Belajar dari guru  yang satu ke guru yang lain membuatnya memahami banyak lagu-lagu qiro’ah. Dia terus mendalami kemampunnya itu dengan banyak berlatih. “Saya juga banyak belajar dari kaset-kaset,” ujarnya.

Zainul memang memiliki banyak koleksi kaset qiro’ah. Dari beberapa kaset yang dikoleksinya itu, ada rekaman suara para qori’ Timur Tengah. Dari sinilah dia tahu variasi-variasi lagu. “Itu yang menjadi acuan saya,” katanya.

Dengan bekal itulah, pada tahun 2007 lalu, dia menjadi delegasi Kabupaten Situbondo mengikuti MTQ tingkat Jawa Timur. Itu adalah kali pertamanya dia ikut lomba. “Langsung tingkat provinsi. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah ikut lomba,” imbuh Zainul.

Dua tahun kemudian, Zainul kembali mengikuti MTQ tingkat provinsi. Tepatnya, pada tahun 2009 di Kabupaten Jember. Dari seluruh peserta musabaqah, Zainul diumumkan menjadi terbaik pertama. “Saya sebenarnya tidak menyangka sama sekali dapat juara I waktu itu,” tambah pria yang hafal sebagian teks Alquran itu.

Terakhir mengikuti musabaqah, pada tahun 2017. Saat itu, Zainul mampu menyabet juara III di MTQ tingkat Provinsi Jatim. Dengan beberapa prestasi yang didapatnya, dia mengaku sangat bangga. “Sangat bangga karena mengharumkan nama Kabupaten Situbondo,” kata Zainul.

Akan tetapi, apa yang sudah diraihnya itu belum membuatnya puas. Dia ingin terus mengukir prestasi dalam bidang tahsinul qiroah di level yang lebih tinggi. Seperti di tingkat Nasional, maupun Internasional. “Saya juga butuh belajar, kemampuan saya masih kurang,” ucapnya merendah.

Kesibukan Zainul saat ini mengajar anak-anak mengaji di masjid. Waktunya lebih banyak dihabiskan di masjid di kampungnya. Dia baru keluar kita ada undangan menjadi qori’. “Kalau tidak ada undangan, di rumah terus,” pungkasnya. (pri)

Zainul Hasan, 41, adalah seorang tunanetra. Menariknya, di tengah kekurangan fisik, dia memiliki prestasi dalam bidang tahsunil qiro’ah (membaca Alquran dengan indah). Prestasi terbaiknya, juara I MTQ tingkat Provinsi Jatim tahun 2009.

HABIBUL ADNAN, Panarukan

Sejak kecil, Zainul Hasan tidak pernah berpikir akan menjadi qori’. Apalagi sampai mengikuti musabaqah tilawatil quran (MTQ) di tingkat Provinsi Jawa Timur. Terbayang di dalam mimpinya saja tidak pernah.

Pria yang kini tinggal di Desa Duwet, Kecamatan Panarukan ini memang sadar betul dengan kekurangan fisiknya. Sebagai penyandang tunanetra (mengalami gangguan pengelihatan), belajar membaca Alquran saja akan kesulitan.

Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Tidak hanya bisa mengaji, bapak satu anak itu bahkan mampu membaca Alquran dengan suara yang indah. Inilah yang kini merubah hidupnya. Pernah juara MTQ, mendapatkan undangan menjadi qori’ kemana-kemana, serta melatih para calon qori’.

Zainul menceritakan, dirinya baru bisa mengaji sejak usia 7-8 tahun. Dia belajar dari guru ngaji musala di kampungnya. Pada suatu ketika, saat usianya baru memasuki 15 tahun, tanpa sengaja dia mendengarkan lantunan ayat suci Alquran melalui radio.

Dari sinilah, Zainul tertarik belajar membaca Alquran dengan lagu. Dia kemudian berusaha mencari orang yang mau mengajarinya. “Saya langsung belajar. Banyak sih yang ngajari,” katanya.

Belajar dari guru  yang satu ke guru yang lain membuatnya memahami banyak lagu-lagu qiro’ah. Dia terus mendalami kemampunnya itu dengan banyak berlatih. “Saya juga banyak belajar dari kaset-kaset,” ujarnya.

Zainul memang memiliki banyak koleksi kaset qiro’ah. Dari beberapa kaset yang dikoleksinya itu, ada rekaman suara para qori’ Timur Tengah. Dari sinilah dia tahu variasi-variasi lagu. “Itu yang menjadi acuan saya,” katanya.

Dengan bekal itulah, pada tahun 2007 lalu, dia menjadi delegasi Kabupaten Situbondo mengikuti MTQ tingkat Jawa Timur. Itu adalah kali pertamanya dia ikut lomba. “Langsung tingkat provinsi. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah ikut lomba,” imbuh Zainul.

Dua tahun kemudian, Zainul kembali mengikuti MTQ tingkat provinsi. Tepatnya, pada tahun 2009 di Kabupaten Jember. Dari seluruh peserta musabaqah, Zainul diumumkan menjadi terbaik pertama. “Saya sebenarnya tidak menyangka sama sekali dapat juara I waktu itu,” tambah pria yang hafal sebagian teks Alquran itu.

Terakhir mengikuti musabaqah, pada tahun 2017. Saat itu, Zainul mampu menyabet juara III di MTQ tingkat Provinsi Jatim. Dengan beberapa prestasi yang didapatnya, dia mengaku sangat bangga. “Sangat bangga karena mengharumkan nama Kabupaten Situbondo,” kata Zainul.

Akan tetapi, apa yang sudah diraihnya itu belum membuatnya puas. Dia ingin terus mengukir prestasi dalam bidang tahsinul qiroah di level yang lebih tinggi. Seperti di tingkat Nasional, maupun Internasional. “Saya juga butuh belajar, kemampuan saya masih kurang,” ucapnya merendah.

Kesibukan Zainul saat ini mengajar anak-anak mengaji di masjid. Waktunya lebih banyak dihabiskan di masjid di kampungnya. Dia baru keluar kita ada undangan menjadi qori’. “Kalau tidak ada undangan, di rumah terus,” pungkasnya. (pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/