alexametrics
27.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Aiptu Mujiwanto, Anggota Intelkam yang Merangkap Ketua Rukun Kematian

GIRI – Sosok Aiptu Mujiwanto adalah polisi yang spesial. Selain dikenal sebagai personel korps baju cokelat yang merakyat, dia juga berhasil memperbaiki manajemen rukun kematian di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, dia tak segan turun tangan langsung merawat makam masyarakat.

Berawal di tahun 2017. Tepatnya, saat terjadi pergantian pengurus rukun kematian di Lingkungan Mojoroto, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Aiptu Mujiwanto memulai kiprahnya sebagai ketua rukun kematian di lingkungan tempat tinggalnya tersebut.

Kala itu, sejumlah tokoh masyarakat setempat meminta Mujiwanto untuk menjadi ketua rukun kematian. Permintaan itu tak serta-merta diiyakan olehnya.

Namun, pada perkembangan berikutnya, warga secara aklamasi memilih dirinya menjadi ketua rukun kematian itu. Rupanya, hal itu membawa berkah bagi masyarakat sekitar dalam menjalankan salah satu fardu kifayah tersebut.

Ya, perlahan namun pasti, personel Polresta Banyuwangi ini memperbaiki manajemen rukun kematian di lingkungannya. Mulai dari transparansi laporan keuangan hingga perawatan kompleks pemakaman. Bahkan, Mujiwanto tak segan turun tangan langsung membersihkan tempat pemakaman di lingkungannya itu.

Iwan, salah satu warga mengatakan, dahulu manajemen rukun kematian di lingkungannya kurang bagus. Selain itu, kondisi makam juga tidak terawat. ”Banyak ilalang dan pohon besar yang menyeramkan. Akhirnya, pada tahun 2017 ada pergantian pengurus,” ujarnya. 

Dikatakan, pengelolaan rukun kematian dilakukan Mujiwanto dengan sangat transparan. Tidak terkecuali soal pengelolaan anggaran. Seluruh pemasukan dan pengeluaran kas rukun kematian dilaporkan dengan baik.

Iwan menuturkan, salah satu sumber pendapatan rukun kematian itu berasal dari iuran warga. Sampai saat ini, kas rukun kematian di lingkungan tersebut mencapai Rp 117 juta. Aiptu Mujiwanto selalu membuat laporan setiap ada penarikan iuran. ”Jangankan uang Rp 100 ribu, seribu rupiah saja dilaporkan,” kata Iwan.

Dengan dana yang tersedia, rukun kematian di Lingkungan Mojoroto mampu memberikan santunan sosial bagi keluarga yang anggotanya meninggal dunia. ”Baik kaya maupun miskin, warga mendapatkan santunan sebesar Rp 750 ribu. Tak hanya itu, masyarakat juga mendapatkan kafan dan batu nisan. Seluruh perlengkapan pemakaman juga diberikan secara gratis,” imbuhnya. 

Sementara itu, Mujiwanto membenarkan bahwa dirinya menjadi ketua rukun kematian sejak tahun 2017. ”Setelah warga secara aklamasi memilih saya, saya meminta syarat kalau masa jabatan hanya dua tahun. Karena saya hanya ingin membenahi manajemen organisasi saja. Tapi, akhirnya keterusan sampai saat ini,” ujarnya. 

Setelah terpilih menjadi ketua, Mujiwanto membentuk kepengurusan yang siap membantu warga memfasilitasi pemakaman. Langkah pertama adalah menggratiskan seluruh keperluan biaya pemakaman di lingkungannya. Rukun kematian menyediakan kain kafan, batu nisan, hingga pelayanan penguburan secara gratis.

Tidak hanya itu, perlengkapan seperti kursi dan tenda pun didirikan di rumah duka secara gratis. ”Saat ada berita duka pasti keluarga akan kebingungan. Makanya, kita tidak ingin malah merepotkan warga. Jangan sampai warga kesulitan melakukan penguburan,” kata dia. 

Saat ada warga yang meninggal dunia, kata Mujiwanto, rukun kematian memberikan uang ke modin dan penggali kubur. ”Bukan kita membayar, tapi buat beli makan dan minum jangan memberatkan keluarga yang berduka. Makanya, adanya rukun kematian ini bisa bermanfaat bagi semuanya. Semua gratis. Keluarga yang berduka tidak perlu membayar apa pun. Semua ditangani oleh rukun kematian,” tuturnya. 

Di lingkungan tersebut biasanya digelar pengajian tiap ada yang meninggal dunia. Untuk itu, rukun kematian juga memberikan santunan sebesar Rp 750 ribu kepada keluarga yang berduka. ”Entah digunakan pengajian atau tidak ya tetap kita berikan uang Rp 750 ribu. Seluruh perlengkapan gratis itu saya ambil dari iuran masyarakat dan sumbangan dari hamba Allah,” akunya.

Mujiwanto mengaku dirinya juga mengubah kesan angker dari tempat pemakaman umum di lingkungannya. Pembenahan yang dilakukan mulai dari pavingisasi jalan di pemakaman, membuat gardu, hingga memasang lampu penerangan plus meteran listriknya. Selain itu, dibangun pula pagar pembatas makam. ”Dahulu memang terkesan tidak terawat. Banyak ilalang dan pohon besar. Makanya, kemudian pohon besar ditebang dan kita bersihkan semua. Selain itu, ada aturan kuburan tidak boleh dibangun permanen alias dikijing,” kata dia. 

Sederet kemajuan itu membuat beberapa pihak, termasuk warga permukiman dan perumahan baru, mengajukan lokasi penguburan di tempat pemakaman yang dikelola rukun kematian tersebut. Bahkan, pihak pengembang perumahan kemudian memberikan lahan tambahan untuk tempat pemakaman umum seluas 1.200 meter persegi. 

GIRI – Sosok Aiptu Mujiwanto adalah polisi yang spesial. Selain dikenal sebagai personel korps baju cokelat yang merakyat, dia juga berhasil memperbaiki manajemen rukun kematian di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, dia tak segan turun tangan langsung merawat makam masyarakat.

Berawal di tahun 2017. Tepatnya, saat terjadi pergantian pengurus rukun kematian di Lingkungan Mojoroto, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Aiptu Mujiwanto memulai kiprahnya sebagai ketua rukun kematian di lingkungan tempat tinggalnya tersebut.

Kala itu, sejumlah tokoh masyarakat setempat meminta Mujiwanto untuk menjadi ketua rukun kematian. Permintaan itu tak serta-merta diiyakan olehnya.

Namun, pada perkembangan berikutnya, warga secara aklamasi memilih dirinya menjadi ketua rukun kematian itu. Rupanya, hal itu membawa berkah bagi masyarakat sekitar dalam menjalankan salah satu fardu kifayah tersebut.

Ya, perlahan namun pasti, personel Polresta Banyuwangi ini memperbaiki manajemen rukun kematian di lingkungannya. Mulai dari transparansi laporan keuangan hingga perawatan kompleks pemakaman. Bahkan, Mujiwanto tak segan turun tangan langsung membersihkan tempat pemakaman di lingkungannya itu.

Iwan, salah satu warga mengatakan, dahulu manajemen rukun kematian di lingkungannya kurang bagus. Selain itu, kondisi makam juga tidak terawat. ”Banyak ilalang dan pohon besar yang menyeramkan. Akhirnya, pada tahun 2017 ada pergantian pengurus,” ujarnya. 

Dikatakan, pengelolaan rukun kematian dilakukan Mujiwanto dengan sangat transparan. Tidak terkecuali soal pengelolaan anggaran. Seluruh pemasukan dan pengeluaran kas rukun kematian dilaporkan dengan baik.

Iwan menuturkan, salah satu sumber pendapatan rukun kematian itu berasal dari iuran warga. Sampai saat ini, kas rukun kematian di lingkungan tersebut mencapai Rp 117 juta. Aiptu Mujiwanto selalu membuat laporan setiap ada penarikan iuran. ”Jangankan uang Rp 100 ribu, seribu rupiah saja dilaporkan,” kata Iwan.

Dengan dana yang tersedia, rukun kematian di Lingkungan Mojoroto mampu memberikan santunan sosial bagi keluarga yang anggotanya meninggal dunia. ”Baik kaya maupun miskin, warga mendapatkan santunan sebesar Rp 750 ribu. Tak hanya itu, masyarakat juga mendapatkan kafan dan batu nisan. Seluruh perlengkapan pemakaman juga diberikan secara gratis,” imbuhnya. 

Sementara itu, Mujiwanto membenarkan bahwa dirinya menjadi ketua rukun kematian sejak tahun 2017. ”Setelah warga secara aklamasi memilih saya, saya meminta syarat kalau masa jabatan hanya dua tahun. Karena saya hanya ingin membenahi manajemen organisasi saja. Tapi, akhirnya keterusan sampai saat ini,” ujarnya. 

Setelah terpilih menjadi ketua, Mujiwanto membentuk kepengurusan yang siap membantu warga memfasilitasi pemakaman. Langkah pertama adalah menggratiskan seluruh keperluan biaya pemakaman di lingkungannya. Rukun kematian menyediakan kain kafan, batu nisan, hingga pelayanan penguburan secara gratis.

Tidak hanya itu, perlengkapan seperti kursi dan tenda pun didirikan di rumah duka secara gratis. ”Saat ada berita duka pasti keluarga akan kebingungan. Makanya, kita tidak ingin malah merepotkan warga. Jangan sampai warga kesulitan melakukan penguburan,” kata dia. 

Saat ada warga yang meninggal dunia, kata Mujiwanto, rukun kematian memberikan uang ke modin dan penggali kubur. ”Bukan kita membayar, tapi buat beli makan dan minum jangan memberatkan keluarga yang berduka. Makanya, adanya rukun kematian ini bisa bermanfaat bagi semuanya. Semua gratis. Keluarga yang berduka tidak perlu membayar apa pun. Semua ditangani oleh rukun kematian,” tuturnya. 

Di lingkungan tersebut biasanya digelar pengajian tiap ada yang meninggal dunia. Untuk itu, rukun kematian juga memberikan santunan sebesar Rp 750 ribu kepada keluarga yang berduka. ”Entah digunakan pengajian atau tidak ya tetap kita berikan uang Rp 750 ribu. Seluruh perlengkapan gratis itu saya ambil dari iuran masyarakat dan sumbangan dari hamba Allah,” akunya.

Mujiwanto mengaku dirinya juga mengubah kesan angker dari tempat pemakaman umum di lingkungannya. Pembenahan yang dilakukan mulai dari pavingisasi jalan di pemakaman, membuat gardu, hingga memasang lampu penerangan plus meteran listriknya. Selain itu, dibangun pula pagar pembatas makam. ”Dahulu memang terkesan tidak terawat. Banyak ilalang dan pohon besar. Makanya, kemudian pohon besar ditebang dan kita bersihkan semua. Selain itu, ada aturan kuburan tidak boleh dibangun permanen alias dikijing,” kata dia. 

Sederet kemajuan itu membuat beberapa pihak, termasuk warga permukiman dan perumahan baru, mengajukan lokasi penguburan di tempat pemakaman yang dikelola rukun kematian tersebut. Bahkan, pihak pengembang perumahan kemudian memberikan lahan tambahan untuk tempat pemakaman umum seluas 1.200 meter persegi. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/