alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Muhibah Gandrung di Lima Kota Jatim, Hibur Pengungsi Erupsi Semeru

BANYUWANGI – Sanggar Seni Lang-Lang Buana yang ber-home base di Lingkungan Krasak, Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, tetap eksis di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya dengan menggelar muhibah gandrung ke sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Muhibah gandrung tersebut melibatkan 55 seniman. Rinciannya, 40 penari dan 15 wiyaga serta perias. Semuanya berasal dari Sanggar Seni Lang-Lang Buana. Rombongan dipimpin langsung oleh Sabar Hariyanto, pemilik sanggar seni Lang-Lang Buana.

Rombongan diangkut menggunakan bus. Berangkat dari sanggar, para penari langsung mengenakan pakaian gandrung. Rombongan dilepas oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M. Yanuar Bramuda.

Muhibah gandrung dimulai tanggal 19 sampai 22 Desember lalu. Mereka menjelajah empat kabupaten/kota di Jawa Timur. Dimulai dari Lumajang, Pasuruan, Malang, dan berakhir di Kota Batu. ”Kami road show ke sejumlah kabupaten/kota tanpa berhenti,” ungkap Sabar Harianto.

Menurut Sabar, rombongan muhibah gandrung tersebut murni didanai oleh anggaran sosial dari sanggar seni. ”Sesuai namanya Lang-Lang Buana, maka kami melanglang buana ke berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur mengenalkan kesenian khas Banyuwangi,” jelas Sabar.

Setelah diberangkatkan dari Banyuwangi, rombongan berhenti di  Lumajang. Mereka mampir di Sanggar Seni Citra Budaya. Lima sanggar seni asal Lumajang ikut memberikan sambutan atas kedatangan muhibah gandrung dari Banyuwangi.

Baca Juga :  450 Penari Gandrung Diseleksi

”Kami tampil di balai desa. Kebetulan kami menghibur para pengungsi korban erupsi Gunung Semeru. Hasilnya langsung kami sumbangkan malam itu kepada kepala desa setempat untuk korban bencana Semeru,” kata Sabar.

Selepas dari Lumajang, rombongan bergerak menuju Pasuruan, tepatnya di Candra Wilwatikta. Saat berada di Pasuruan, rombongan muhibah mendapat kesempatan tampil dua kali. Salah satunya melakukan pengambilan video yang akan digunakan untuk kalender Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Dari Pasuruan, rombongan bergerak ke Pagedangan, Turen, Malang. Di sana, rombongan mendapat sambutan hangat dari Sanggar Seni Mudra Ganesha dengan beberapa penampilan tari-tarian. ”Kami sesama sanggar seni saling menunjukkan kemampuan dalam olah gerak tari, termasuk bermain musik tradisional,” ujarnya.

Persinggahan terakhir adalah Kota Batu, tepatnya di Winarto Ikram. Selama di Kota Batu, rombongan mengalami kesulitan. Untuk menuju lokasi, medannya cukup berat. Sabar harus menyewa kendaraan untuk mengangkut perangkat musik tradisional tersebut. ”Lokasinya cukup sulit dijangkau, jadi kita harus menyewa mobil pikap,” katanya

Baca Juga :  Semua Anak yang Salat Jumat Diberi Hadiah

Namun demikian, selama rangkaian muhibah gandrung, para seniman dari sanggar Lang-Lang Buana banyak mendapatkan pengalaman dari sanggar seni di Jawa Timur. ”Ini cara kami memperingati Harjaba ke-250 sekaligus melakukan penggalangan dana untuk korban Semeru. Hasil penggalangan itu juga kami sumbangkan kepada almarhumah Bu Supinah yang kala itu sedang sakit jatuh sakit. Sekarang Bu Supinah sudah meninggal,” kata Sabar.

Dikatakan Sabar, sejak berangkat para penari gandrung sudah mengenakan kostum gandrung. Mereka baru ganti kaus ketika perjalanan pulang menuju Banyuwangi. Kaus tersebut pemberian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. ”Para penari gandrung sama sekali tidak ganti baju. Seweknya sudah kita desain seperti rok sehingga tidak ribet,” ujar guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SMPN 1 Glagah ini.

Tahun depan rencananya Sanggar Lang-Lang Buana akan melakukan muhibah ke Jawa Tengah. Agendanya sama, yaitu muhibah seni budaya Banyuwangi. ”Tidak harus gandrung, kami mencoba dengan kesenian tari kreasi lain khas Banyuwangi,” tandas Sabar. (aif/c1)

BANYUWANGI – Sanggar Seni Lang-Lang Buana yang ber-home base di Lingkungan Krasak, Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, tetap eksis di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya dengan menggelar muhibah gandrung ke sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Muhibah gandrung tersebut melibatkan 55 seniman. Rinciannya, 40 penari dan 15 wiyaga serta perias. Semuanya berasal dari Sanggar Seni Lang-Lang Buana. Rombongan dipimpin langsung oleh Sabar Hariyanto, pemilik sanggar seni Lang-Lang Buana.

Rombongan diangkut menggunakan bus. Berangkat dari sanggar, para penari langsung mengenakan pakaian gandrung. Rombongan dilepas oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M. Yanuar Bramuda.

Muhibah gandrung dimulai tanggal 19 sampai 22 Desember lalu. Mereka menjelajah empat kabupaten/kota di Jawa Timur. Dimulai dari Lumajang, Pasuruan, Malang, dan berakhir di Kota Batu. ”Kami road show ke sejumlah kabupaten/kota tanpa berhenti,” ungkap Sabar Harianto.

Menurut Sabar, rombongan muhibah gandrung tersebut murni didanai oleh anggaran sosial dari sanggar seni. ”Sesuai namanya Lang-Lang Buana, maka kami melanglang buana ke berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur mengenalkan kesenian khas Banyuwangi,” jelas Sabar.

Setelah diberangkatkan dari Banyuwangi, rombongan berhenti di  Lumajang. Mereka mampir di Sanggar Seni Citra Budaya. Lima sanggar seni asal Lumajang ikut memberikan sambutan atas kedatangan muhibah gandrung dari Banyuwangi.

Baca Juga :  Terbentur Pandemi, Tahun Lalu Tak Jadi Digelar

”Kami tampil di balai desa. Kebetulan kami menghibur para pengungsi korban erupsi Gunung Semeru. Hasilnya langsung kami sumbangkan malam itu kepada kepala desa setempat untuk korban bencana Semeru,” kata Sabar.

Selepas dari Lumajang, rombongan bergerak menuju Pasuruan, tepatnya di Candra Wilwatikta. Saat berada di Pasuruan, rombongan muhibah mendapat kesempatan tampil dua kali. Salah satunya melakukan pengambilan video yang akan digunakan untuk kalender Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Dari Pasuruan, rombongan bergerak ke Pagedangan, Turen, Malang. Di sana, rombongan mendapat sambutan hangat dari Sanggar Seni Mudra Ganesha dengan beberapa penampilan tari-tarian. ”Kami sesama sanggar seni saling menunjukkan kemampuan dalam olah gerak tari, termasuk bermain musik tradisional,” ujarnya.

Persinggahan terakhir adalah Kota Batu, tepatnya di Winarto Ikram. Selama di Kota Batu, rombongan mengalami kesulitan. Untuk menuju lokasi, medannya cukup berat. Sabar harus menyewa kendaraan untuk mengangkut perangkat musik tradisional tersebut. ”Lokasinya cukup sulit dijangkau, jadi kita harus menyewa mobil pikap,” katanya

Baca Juga :  Jadi Sarana Memohon Keselamatan kepada Tuhan YME

Namun demikian, selama rangkaian muhibah gandrung, para seniman dari sanggar Lang-Lang Buana banyak mendapatkan pengalaman dari sanggar seni di Jawa Timur. ”Ini cara kami memperingati Harjaba ke-250 sekaligus melakukan penggalangan dana untuk korban Semeru. Hasil penggalangan itu juga kami sumbangkan kepada almarhumah Bu Supinah yang kala itu sedang sakit jatuh sakit. Sekarang Bu Supinah sudah meninggal,” kata Sabar.

Dikatakan Sabar, sejak berangkat para penari gandrung sudah mengenakan kostum gandrung. Mereka baru ganti kaus ketika perjalanan pulang menuju Banyuwangi. Kaus tersebut pemberian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. ”Para penari gandrung sama sekali tidak ganti baju. Seweknya sudah kita desain seperti rok sehingga tidak ribet,” ujar guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SMPN 1 Glagah ini.

Tahun depan rencananya Sanggar Lang-Lang Buana akan melakukan muhibah ke Jawa Tengah. Agendanya sama, yaitu muhibah seni budaya Banyuwangi. ”Tidak harus gandrung, kami mencoba dengan kesenian tari kreasi lain khas Banyuwangi,” tandas Sabar. (aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/