BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Biji kopi arabika berbentuk sedikit memanjang dan agak pipih. Arabika juga relatif lebih besar ukurannya dibanding biji kopi jenis robusta. Karena itu, cara menyangrai kedua jenis kopi ini tentu tidak sama.
Sedangkan biji kopi robusta bentuknya agak membulat dan terlihat padat. Ukurannya lebih kecil dibanding biji kopi arabika. Begitu juga dengan teksturnya yang lebih kasar dibandingkan biji kopi arabika yang halus.
Bentuk dan struktur biji yang berbeda antara arabika dan robusta ini membuat dua jenis kopi ini memiliki teknik roasting yang berbeda untuk lebih mengeluarkan karakternya masing-masing. ”Kalau teknik roasting secara tradisional memang agak lebih lama kopi jenis arabika karena bentuknya yang lebih besar, panjang, dan pipih,” ujar Andi, tukang sangrai kopi tradisional asal Banyuwangi.
Menurut Andi, perbedaan yang paling mencolok antara kopi robusta dan arabika adalah pada rasa kedua jenis kopi ini. Kopi robusta cenderung memiliki rasa yang kuat dan pahit yang lebih tinggi. Berbeda dengan kopi arabika yang memiliki cita rasa yang lebih kaya.
Kopi arabika memiliki cita rasa yang berbeda-beda sesuai dengan lokasinya, seperti kopi arabika aceh gayo yang memiliki cita rasa seperti kacang dan mentega, ada juga yang memiliki aroma bunga liar (floral) dengan sedikit rasa manis. Ada juga kopi yang memiliki aroma rempah-rempah dengan sedikit rasa cokelat.
Untuk proses roasting kopi, imbuh Andi, umumnya dibagi dalam tiga jenis yaitu light roast, medium roast, dan dark roast. Level roasting light akan membuat kopi jadi terasa lebih lembut. Proses roasting untuk light roast umumnya menggunakan suhu dari 180–205 derajat Celsius atau saat sudah mencapai first crack. Crack adalah sebuah celah yang muncul pada biji kopi setelah melalui proses pemanasan.
Crack bisa muncul beberapa kali dalam proses roasting. Karena pada proses light roasting, suhu yang digunakan untuk memanggang kopi tidak begitu tinggi, maka patokannya adalah saat crack pertama yang terbentuk.
Tipe kedua yakni medium roast, biji kopi akan terlihat lebih ”matang” daripada level light roasting. Karakteristik rasa yang didapatkan dari level roasting ini cenderung berimbang, tidak terlalu ringan seperti light roast namun tidak terlalu kuat juga seperti dark roast. Karena itu, medium roast menjadi level roasting paling populer dan disukai oleh banyak orang.
Proses roasting untuk medium roast menggunakan suhu yang lebih tinggi daripada level light roast, yaitu dari suhu 210–220 derajat Celsius. Pada suhu tersebut, biji kopi sudah melewati first crack, namun belum memasuki fase second crack.
Jenis roasting ketiga yakni dark roast yang memiliki ciri berwarna gelap dengan minyak yang terlihat mengilat. Untuk mencapai tingkat dark roast, biji kopi dipanggang hingga ke suhu 240 derajat Celsius. Di suhu tersebut biji kopi mulai masuk ke dalam second crack atau dengan warna yang sangat gelap. Jika menggunakan suhu yang lebih tinggi lagi, maka biji kopi akan makin tipis dan rasanya hangus atau arangnya menjadi makin kuat.
”Kopi pada level roasting dark roast ini jarang sekali digunakan pada seduh manual atau manual brew. Umumnya menu kopi yang menggunakan level roasting ini, adalah kopi yang akan dicampur dengan susu, gula, atau lainnya seperti cappuccino, latte, flat white, dan sebagainya,” jelas Andi.
Bentuk fisik biji kopi dalam proses dark roast, memang sangat estetik dan instagrammable daripada level lainnya. Sebab, biji kopi yang dihasilkan warnanya lebih gelap. Poin plus lain dari roasting ini adalah aroma wangi biji kopi yang jadi begitu kuat saat diseduh dengan air panas.
Editor : Rahman Bayu Saksono