alexametrics
26.7 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Hasan Aspahani Berbagi Kiat Menulis Puisi

JawaPos.com – Rangkaian kegiatan “Kemah Sastra Nasional” berlanjut di Rumah Budaya Oseng, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, siang hingga sore kemarin (28/4). Sastrawan nasional, Hasan Aspahani berbagi pengalaman dan kiat penulisan puisi dengan para peserta yang berasal dari berbagai penjuru tanah air.

Hasan mengatakan, kunci menulis puisi dua hal. Yang pertama, mau menulis apa? Ini akan menjadi tema puisi yang dihasilkan. Sedangkan kunci kedua, bagaimana menulisnya? “Bagaimana kita menulis puisi, itu akan menjadi estetika,” ujarnya.

Penulis buku puisi terbaik pada Hari Puisi Indonesia 2016 menuturkan, banyak membaca sangat membantu perkembangan dirinya menjadi penulis. Apa pun dilakukan untuk mengatasi keterbatasan akses ke sumber-sumber bacaan. “Itu juga yang mendorong saya bekerja ketika SMA. Gajinya untuk beli buku dan berlangganan majalah,” kata Hasan.

Baca Juga :  Si Kembar Dapat Bantuan Banyuwangi Cerdas

Dia lantas bercerita bagaimana dia menulis puisi berjudul “Eulogi Banyuwangi”. Puisi tersebut merupakan salah satu karya sastra yang dimuat di buku antologi puisi “Senyuman Lembah Ijen”. Dia mengaku pernah sekali datang ke Banyuwangi dalam sebuah kunjungan singkat. Tentu saja itu tidak terlalu memperkaya pengalaman dirinya tentang Bumi Blambangan.

“Maka, saya kemudian mencari informasi. Membaca berita dan artikel, juga menonton tayangan video tentang Banyuwangi. Semua itu kemudian saya jadikan bahan untuk berimajinasi,” akunya.

Sementara itu, selain pemaparan materi, workshop kali ini juga diisi sesi tanya jawab. Salah satu peserta, yakni P. Nuraini yang salah satu karyanya juga dimuat di buku antologi puisi “Senyuman Lembah Ijen” mengaku sebenarnya dirinya belum percaya diri (pede). Sebab, tidak jarang dia menunjukkan puisi karyanya ke pakar puisi, tetapi dinyatakan puisi karyanya itu sering “lepas”, kadang menampilkan kata-kata kristalis, kadang menampilkan kalimat “polos”.

Baca Juga :  Hidup tanpa Famili, Baznas Kirim Sembako

Menanggapi hal itu, Hasan menuturkan, bagi dirinya kata dalam puisi menampilkan gaya kristalis atau diafan alias kata-kata konkret yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. “Yang terpenting menemukan gaya ucap. Kalau ini sudah ketemu, meskipun sudah nama penulisnya, orang sudah tahu itu pusisi karya siapa?” cetusnya.

Sementara itu, peserta lain Nurul Azizah mengaku ketika dirinya sudah selesai menulis puisi, kadang dia kesulitan menentukan judul puisi tersebut. Nah, menanggapi pertanyaan tersebut, Hasan menyampaikan bagi dirinya, judul tidak menentukan bagus atau tidaknya puisi. “Bahkan, tidak dikasih judul pun tidak apa-apa. Banyak puisi Indonesia yang tidak ada judulnya, tetapi puisi itu bagus sekali,” pungkasnya.

JawaPos.com – Rangkaian kegiatan “Kemah Sastra Nasional” berlanjut di Rumah Budaya Oseng, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, siang hingga sore kemarin (28/4). Sastrawan nasional, Hasan Aspahani berbagi pengalaman dan kiat penulisan puisi dengan para peserta yang berasal dari berbagai penjuru tanah air.

Hasan mengatakan, kunci menulis puisi dua hal. Yang pertama, mau menulis apa? Ini akan menjadi tema puisi yang dihasilkan. Sedangkan kunci kedua, bagaimana menulisnya? “Bagaimana kita menulis puisi, itu akan menjadi estetika,” ujarnya.

Penulis buku puisi terbaik pada Hari Puisi Indonesia 2016 menuturkan, banyak membaca sangat membantu perkembangan dirinya menjadi penulis. Apa pun dilakukan untuk mengatasi keterbatasan akses ke sumber-sumber bacaan. “Itu juga yang mendorong saya bekerja ketika SMA. Gajinya untuk beli buku dan berlangganan majalah,” kata Hasan.

Baca Juga :  Segoro Cafe Susul Umbul Bening Like Terbanyak

Dia lantas bercerita bagaimana dia menulis puisi berjudul “Eulogi Banyuwangi”. Puisi tersebut merupakan salah satu karya sastra yang dimuat di buku antologi puisi “Senyuman Lembah Ijen”. Dia mengaku pernah sekali datang ke Banyuwangi dalam sebuah kunjungan singkat. Tentu saja itu tidak terlalu memperkaya pengalaman dirinya tentang Bumi Blambangan.

“Maka, saya kemudian mencari informasi. Membaca berita dan artikel, juga menonton tayangan video tentang Banyuwangi. Semua itu kemudian saya jadikan bahan untuk berimajinasi,” akunya.

Sementara itu, selain pemaparan materi, workshop kali ini juga diisi sesi tanya jawab. Salah satu peserta, yakni P. Nuraini yang salah satu karyanya juga dimuat di buku antologi puisi “Senyuman Lembah Ijen” mengaku sebenarnya dirinya belum percaya diri (pede). Sebab, tidak jarang dia menunjukkan puisi karyanya ke pakar puisi, tetapi dinyatakan puisi karyanya itu sering “lepas”, kadang menampilkan kata-kata kristalis, kadang menampilkan kalimat “polos”.

Baca Juga :  Pendaftaran Ditutup 28 Juni

Menanggapi hal itu, Hasan menuturkan, bagi dirinya kata dalam puisi menampilkan gaya kristalis atau diafan alias kata-kata konkret yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. “Yang terpenting menemukan gaya ucap. Kalau ini sudah ketemu, meskipun sudah nama penulisnya, orang sudah tahu itu pusisi karya siapa?” cetusnya.

Sementara itu, peserta lain Nurul Azizah mengaku ketika dirinya sudah selesai menulis puisi, kadang dia kesulitan menentukan judul puisi tersebut. Nah, menanggapi pertanyaan tersebut, Hasan menyampaikan bagi dirinya, judul tidak menentukan bagus atau tidaknya puisi. “Bahkan, tidak dikasih judul pun tidak apa-apa. Banyak puisi Indonesia yang tidak ada judulnya, tetapi puisi itu bagus sekali,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/