alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Tumbuhkan Entrepreneur Muda Lewat Banyuwangi Coffee Week

BANYUWANGI Kompleks Gedung Juang 45 Banyuwangi menjelma “surga” sekaligus “kawah candradimuka” bagi pegiat kopi di Banyuwangi. Betapa tidak, beragam produk kopi asal berbagai penjuru Banyuwangi dipamerkan di lokasi tersebut. Bukan itu saja, di lokasi yang sama juga digelar klinik pelatihan kopi alias coffee coaching clinic.

Ya, sejak Jumat (25/2) hingga Minggu (27/2) Pemkab Banyuwangi menggeber “Banyuwangi Cofee Week” di kompleks Gedung Juang 45 tersebut. Selama tiga hari pelaksanaannya, dihadirkan para ahli kopi dan berbagai produk kopi Banyuwangi. Sebut saja Setiawan Subekti yang merupakan pakar kopi internasional asal Banyuwangi.

Produk kopi milik Iwan yang telah terkenal dan menjadi rujukan cara mengolah kopi dengan benar, yakni Kopai Osing, turut dihadirkan di acara ini. Selain Kopai Osing, berbagai produk hasil olahan pelaku usaha kopi Banyuwangi di sekitar kawasan Kawah Ijen dan Gunung Raung juga dihadirkan di Banyuwangi Coffee Week. Seperti Kopi Telemung, Kasela Coffee, House of Coffee, Leaf Coffee, Kemangi Coffee, Coffee Wangi, dan serta berbagai produk kopi Banyuwangi lainnya. 

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, akhir-akhir ini ngopi sudah menjadi gaya hidup. Bahkan, di Banyuwangi usaha di bidang kopi sedang tumbuh dengan pesat. “Kopi lokal Banyuwangi menjadi salah satu produk Indonesia yang terus mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Kini di Banyuwangi telah banyak muncul kedai-kedai kopi yang dikelola anak-anak muda Banyuwangi,” ujarnya. 

Berdasar data pada Dinas Pertanian dan Pangan, tahun 2021 Banyuwangi menghasilkan kopi sebesar 10.575 ton. Menjadikan kabupaten the Sunrise of Java sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di Jatim. Kopi yang dihasilkan di Banyuwangi didominasi perkebunan rakyat. Banyuwangi juga dikenal Berbagai produk kopi Banyuwangi juga telah diekspor ke berbagai negara. “Melalui Banyuwangi Coffee Week, diharapkan mampu meningkatkan ekonomi kreatif di sektor kopi lokal Banyuwangi. Ini menjadi wadah bagi anak-anak muda Banyuwangi, mulai dari yang akan hingga telah menjadi entrepreneur di bidang kopi,” kata Ipuk.

Ipuk mengatakan Banyuwangi Festival bukan sekadar seremonial saja. Namun harus ada unsur pertumbuhan ekonomi. “Dari Banyuwangi Coffee Week ini diharapkan banyak yang terdorong menjadi entrepreneur kopi. Selain itu bisa menjadi ajang pertemuan para pelaku kopi. Bisa saling mengenal, saling membantu, yang ending-nya ada hubungan business to business,” jelasnya.

Di Banyuwangi Coffee Week, selain memamerkan produk-produk kopi lokal Banyuwangi juga terdapat coffee coaching clinic bagi mereka yang ingin terjun di dunia kopi. Puluhan anak muda dari berbagai kalangan, seperti santri dari pondok pesantren, pemuda gereja, dan lainnya ikut dalam coaching clinic yang dipandu oleh Bayu Satria dari Coffee Wangi. 

Di coaching clinic tersebut dilatih cara mengolah dan menjadi barista kopi. Mulai cara menggoreng hingga penyeduhan kopi. “Saya suka kopi dan tertarik untuk mendalami kopi. Di sini saya diajarkan bagaimana cara mengolah kopi,” kata Yusril Hamdani, santri dari Pondok Pesantren Al Anwari Banyuwangi. 

Selain itu, di Banyuwangi Coffee Week juga diperkenalkan sejarah industri kopi di Banyuwangi. Industri kopi mulai hadir di Banyuwangi sekitar abad ke-17 M. Banyuwangi yang memiliki lahan cukup luas di lereng Gunung Ijen, sangat mendukung keberlangsungan program penanaman kopi. 

Mencermati perkembangan niaga yang semakin menjanjikan, membuat Clement de Harris, Residen pertama Besuki, memutuskan untuk menanam kopi di perkebunan Sukaraja (kini Kecamatan Giri) pada tahun 1811. Perkebunan tersebut kemudian dijadikan lahan pembibitan kopi. Namun, kurangnya penduduk yang tinggal di Banyuwangi kala itu menyulitkan pemerintah kolonial untuk memenuhi target produksi.

Selain Sukaraja, dalam rentang waktu 1818-1865 ada beberapa perkebunan baru di wilayah Banyuwangi Selatan yang sengaja dibuka untuk memenuhi target produksi seperti di Desa Genteng ada 36 kebun dan Desa Parijatah ada 32 kebun. Dengan jumlah rata-rata setiap kebun mampu menanam antara 1.565-11.410 pohon. Hingga medio 1887-1889 produksi kopi di Afdeling Banyuwangi masih mampu mencatatkan hasil sebesar 13.630 pikul. 

BANYUWANGI Kompleks Gedung Juang 45 Banyuwangi menjelma “surga” sekaligus “kawah candradimuka” bagi pegiat kopi di Banyuwangi. Betapa tidak, beragam produk kopi asal berbagai penjuru Banyuwangi dipamerkan di lokasi tersebut. Bukan itu saja, di lokasi yang sama juga digelar klinik pelatihan kopi alias coffee coaching clinic.

Ya, sejak Jumat (25/2) hingga Minggu (27/2) Pemkab Banyuwangi menggeber “Banyuwangi Cofee Week” di kompleks Gedung Juang 45 tersebut. Selama tiga hari pelaksanaannya, dihadirkan para ahli kopi dan berbagai produk kopi Banyuwangi. Sebut saja Setiawan Subekti yang merupakan pakar kopi internasional asal Banyuwangi.

Produk kopi milik Iwan yang telah terkenal dan menjadi rujukan cara mengolah kopi dengan benar, yakni Kopai Osing, turut dihadirkan di acara ini. Selain Kopai Osing, berbagai produk hasil olahan pelaku usaha kopi Banyuwangi di sekitar kawasan Kawah Ijen dan Gunung Raung juga dihadirkan di Banyuwangi Coffee Week. Seperti Kopi Telemung, Kasela Coffee, House of Coffee, Leaf Coffee, Kemangi Coffee, Coffee Wangi, dan serta berbagai produk kopi Banyuwangi lainnya. 

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, akhir-akhir ini ngopi sudah menjadi gaya hidup. Bahkan, di Banyuwangi usaha di bidang kopi sedang tumbuh dengan pesat. “Kopi lokal Banyuwangi menjadi salah satu produk Indonesia yang terus mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Kini di Banyuwangi telah banyak muncul kedai-kedai kopi yang dikelola anak-anak muda Banyuwangi,” ujarnya. 

Berdasar data pada Dinas Pertanian dan Pangan, tahun 2021 Banyuwangi menghasilkan kopi sebesar 10.575 ton. Menjadikan kabupaten the Sunrise of Java sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di Jatim. Kopi yang dihasilkan di Banyuwangi didominasi perkebunan rakyat. Banyuwangi juga dikenal Berbagai produk kopi Banyuwangi juga telah diekspor ke berbagai negara. “Melalui Banyuwangi Coffee Week, diharapkan mampu meningkatkan ekonomi kreatif di sektor kopi lokal Banyuwangi. Ini menjadi wadah bagi anak-anak muda Banyuwangi, mulai dari yang akan hingga telah menjadi entrepreneur di bidang kopi,” kata Ipuk.

Ipuk mengatakan Banyuwangi Festival bukan sekadar seremonial saja. Namun harus ada unsur pertumbuhan ekonomi. “Dari Banyuwangi Coffee Week ini diharapkan banyak yang terdorong menjadi entrepreneur kopi. Selain itu bisa menjadi ajang pertemuan para pelaku kopi. Bisa saling mengenal, saling membantu, yang ending-nya ada hubungan business to business,” jelasnya.

Di Banyuwangi Coffee Week, selain memamerkan produk-produk kopi lokal Banyuwangi juga terdapat coffee coaching clinic bagi mereka yang ingin terjun di dunia kopi. Puluhan anak muda dari berbagai kalangan, seperti santri dari pondok pesantren, pemuda gereja, dan lainnya ikut dalam coaching clinic yang dipandu oleh Bayu Satria dari Coffee Wangi. 

Di coaching clinic tersebut dilatih cara mengolah dan menjadi barista kopi. Mulai cara menggoreng hingga penyeduhan kopi. “Saya suka kopi dan tertarik untuk mendalami kopi. Di sini saya diajarkan bagaimana cara mengolah kopi,” kata Yusril Hamdani, santri dari Pondok Pesantren Al Anwari Banyuwangi. 

Selain itu, di Banyuwangi Coffee Week juga diperkenalkan sejarah industri kopi di Banyuwangi. Industri kopi mulai hadir di Banyuwangi sekitar abad ke-17 M. Banyuwangi yang memiliki lahan cukup luas di lereng Gunung Ijen, sangat mendukung keberlangsungan program penanaman kopi. 

Mencermati perkembangan niaga yang semakin menjanjikan, membuat Clement de Harris, Residen pertama Besuki, memutuskan untuk menanam kopi di perkebunan Sukaraja (kini Kecamatan Giri) pada tahun 1811. Perkebunan tersebut kemudian dijadikan lahan pembibitan kopi. Namun, kurangnya penduduk yang tinggal di Banyuwangi kala itu menyulitkan pemerintah kolonial untuk memenuhi target produksi.

Selain Sukaraja, dalam rentang waktu 1818-1865 ada beberapa perkebunan baru di wilayah Banyuwangi Selatan yang sengaja dibuka untuk memenuhi target produksi seperti di Desa Genteng ada 36 kebun dan Desa Parijatah ada 32 kebun. Dengan jumlah rata-rata setiap kebun mampu menanam antara 1.565-11.410 pohon. Hingga medio 1887-1889 produksi kopi di Afdeling Banyuwangi masih mampu mencatatkan hasil sebesar 13.630 pikul. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/