alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Cerita Korban Selamat Perahu Terbalik, 6 Nelayan Ternyata Tak Pakai Pelampung

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Enam nelayan pancing yang menjadi korban perahu Hokky 88 yang terbalik diterjang ombak besar di perairan Plawangan, daerah Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwojarjo pada Sabtu (16/7), ternyata tidak ada yang mengenakan pelampung.

Biasanya, mereka itu selalu mengenakan pelampung, terutama saat melintasi di perairan Plawangan yang dikenal kawasan maut dengan ombak yang cukup besar. “Saya selamat setelah menemukan pelampung di laut,” terang Mohammad Zainul, 36, salah satu korban selamat asal Dusun Krajan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Dalam kecelakaan itu, empat nelayan tewas dan dua lainnya selamat. Keempat korban yang meninggal itu Sapuwan Samsudin, 54, dan Ja’far Abas, 66, kakak beradik yang tinggal di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng; Mohadi, 42, asal Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, dan Zainul, 44, warga Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Sedang dua yang selamat Mohammad Zainul dan sang nahkoda Jarwanto, asal Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.

Baca Juga :  Perahu Nelayan Grajagan Terbalik Dihantam Ombak

Zainul menyebut saat berangkat dari Pantai Grajagan, enam orang yang naik perahu Hokky 88 itu tidak ada yang mengenakan pelampung. “Biasanya dipakai saatr akan lewat Plawangan, setelah itu pelampung dicopot karena ombak sudah tenang,” katanya kemarin (22/7).

Rombongannya itu, jelas dia, mulai berangkat dari pantai sekitar pukul 16.00. Dan itu, sebenarnya terlalu sore dan ombak di Laut Selatan sedang ganas-ganasnya menghantam bibir pantai. “Serba terburu-buru, saya diajak untuk berangkat pukul 12.00,” ungkapnya.

Sambil menahan napas, Zainul mengisahkan saat berangkat dari pantai semua berjalan aman. Saat perahu yang dinaiki bersama lima orang lainnya memasuki perairan Plawangan, tiba-tiba mesin mati. Bersamaan dengan itu, datang ombak besar dan menghantam perahunya. “Kejadiannya terlalu cepat, saat mesin mati kami tidak sempat pakai pelampung, ombak besar keburu menghantam dan perahu terbalik,” ucapnya.

Zainul masih ingat bagaimana nakhoda perahu berteriak kepada para pemancing untuk berpegangan perahu yang terbalik, saat perahu terbalik. Itu dilakukan agar tidak tersebar dan bisa mengapung dengan bantuan perahu. “Sekitar lima menit pegangan, orang-orang kembali menyebar, tidak kuat karena terus ditabrak ombak,” jelasnya.

Baca Juga :  Pengumpulan Karya Lomba Video Kreatif Mulai 25 Juni

Setelah terlempar dari perahu yang terbalik, Zainul mengaku sudah tidak melihat empat temannya. Ia hanya melihat nakhoda yang juga sudah mulai lemas karena menahan napas. “Kalau Pak Jarwanto setahu saya menemukan jeriken, dia pegangan itu biar bisa mengambang terus,” ucapnya.

Saat terombang-ambing di laut itu, Zainul menemukan pelampung. Pelampung itu, sebenarnya yang dibawa perahunya dan terlempar ke laut saat perahu terbalik. “Saya pakai pelampung sambil berharap ada nelayan yang datang menolong,” katanya.

Dengan mengenakan pelampung, Zainul sempat berenang kea rah tengah laut. Ia melihat, ada perahu yang sedang parkir. Setelah 10 menit di perahu, ada nelayan yang melintas untuk mencari benur. “Saya dibawa ke pantai dan ditolong ke rumah warga,” pungkasnya.(sas/abi)

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Enam nelayan pancing yang menjadi korban perahu Hokky 88 yang terbalik diterjang ombak besar di perairan Plawangan, daerah Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwojarjo pada Sabtu (16/7), ternyata tidak ada yang mengenakan pelampung.

Biasanya, mereka itu selalu mengenakan pelampung, terutama saat melintasi di perairan Plawangan yang dikenal kawasan maut dengan ombak yang cukup besar. “Saya selamat setelah menemukan pelampung di laut,” terang Mohammad Zainul, 36, salah satu korban selamat asal Dusun Krajan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Dalam kecelakaan itu, empat nelayan tewas dan dua lainnya selamat. Keempat korban yang meninggal itu Sapuwan Samsudin, 54, dan Ja’far Abas, 66, kakak beradik yang tinggal di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng; Mohadi, 42, asal Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, dan Zainul, 44, warga Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Sedang dua yang selamat Mohammad Zainul dan sang nahkoda Jarwanto, asal Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.

Baca Juga :  Smanta Sabet Juara Paduan Suara Piala Kapolres

Zainul menyebut saat berangkat dari Pantai Grajagan, enam orang yang naik perahu Hokky 88 itu tidak ada yang mengenakan pelampung. “Biasanya dipakai saatr akan lewat Plawangan, setelah itu pelampung dicopot karena ombak sudah tenang,” katanya kemarin (22/7).

Rombongannya itu, jelas dia, mulai berangkat dari pantai sekitar pukul 16.00. Dan itu, sebenarnya terlalu sore dan ombak di Laut Selatan sedang ganas-ganasnya menghantam bibir pantai. “Serba terburu-buru, saya diajak untuk berangkat pukul 12.00,” ungkapnya.

Sambil menahan napas, Zainul mengisahkan saat berangkat dari pantai semua berjalan aman. Saat perahu yang dinaiki bersama lima orang lainnya memasuki perairan Plawangan, tiba-tiba mesin mati. Bersamaan dengan itu, datang ombak besar dan menghantam perahunya. “Kejadiannya terlalu cepat, saat mesin mati kami tidak sempat pakai pelampung, ombak besar keburu menghantam dan perahu terbalik,” ucapnya.

Zainul masih ingat bagaimana nakhoda perahu berteriak kepada para pemancing untuk berpegangan perahu yang terbalik, saat perahu terbalik. Itu dilakukan agar tidak tersebar dan bisa mengapung dengan bantuan perahu. “Sekitar lima menit pegangan, orang-orang kembali menyebar, tidak kuat karena terus ditabrak ombak,” jelasnya.

Baca Juga :  Polisi Cari Batu Bata yang Dihantamkan ke Kepala Nenek Riyani

Setelah terlempar dari perahu yang terbalik, Zainul mengaku sudah tidak melihat empat temannya. Ia hanya melihat nakhoda yang juga sudah mulai lemas karena menahan napas. “Kalau Pak Jarwanto setahu saya menemukan jeriken, dia pegangan itu biar bisa mengambang terus,” ucapnya.

Saat terombang-ambing di laut itu, Zainul menemukan pelampung. Pelampung itu, sebenarnya yang dibawa perahunya dan terlempar ke laut saat perahu terbalik. “Saya pakai pelampung sambil berharap ada nelayan yang datang menolong,” katanya.

Dengan mengenakan pelampung, Zainul sempat berenang kea rah tengah laut. Ia melihat, ada perahu yang sedang parkir. Setelah 10 menit di perahu, ada nelayan yang melintas untuk mencari benur. “Saya dibawa ke pantai dan ditolong ke rumah warga,” pungkasnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/