alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Friday, August 19, 2022

”Banjir’’ Kopi di Kemiren

BANYUWANGI – Warna-warni Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017 berlanjut Sabtu malam (21/10). Kali ini, puluhan ribu cangkir kopi tersaji di tepi sepanjang jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Saking banyaknya kopi yang disuguhkan, desa adat yang berlokasi di kawasan kaki Gunung Ijen tersebut layaknya dilanda banjir kopi.

Ya, setelah beragam event berbasis seni tradisi lokal, sport tourism, hingga budaya agraris dan lain-lain, tadi malam Pemkab Banyuwangi menggelar event bertajuk Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Event ini bertujuan untuk semakin mendongkrak pamor kopi lokal Bumi Blambangan.

Bukan hanya bertujuan mengangkat pamor kopi lokal Banyuwangi, Festival Ngopi Sepuluh Ewu juga mengangkat falsafah yang dipegang teguh warga Oseng Kemiren, yakni ”Sak Corot Dadi Sakduluran” atau ‘Sekali Seduh Kita Bersaudara’. Tak heran, pelataran rumah maupun tepi sepanjang jalan Desa Kemiren disulap menjadi ruang tamu yang menyuguhkan kopi Oseng dan jajanan tradisional Banyuwangi. Setiap orang bisa duduk di halaman rumah siapa saja.

Baca Juga :  Dewan Pers Dorong Wartawan Miliki Kemampuan Digital

Menariknya lagi, cangkir yang digunakan untuk wadah kopi pada festival kali ini memiliki bentuk dan motif yang seragam. ”Unik. Baru kali ini saya menjumpai event seperti ini,” ujar Desy, salah satu pengunjung asal Purwokerto, Jawa Tengah.

Rangkaian Festival Ngopi Sepuluh Ewu tahun ini telah diawali event Banyuwangi Coffee Processing Festival. Pada event tersebut digelar di Rumah Kreatif Banyuwangi sejak Rabu (18/10) sampai kemarin (20/20) itu, para peserta dibekali wawasan seputar pengolahan kopi pascapanen dan barista.

BANYUWANGI – Warna-warni Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017 berlanjut Sabtu malam (21/10). Kali ini, puluhan ribu cangkir kopi tersaji di tepi sepanjang jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Saking banyaknya kopi yang disuguhkan, desa adat yang berlokasi di kawasan kaki Gunung Ijen tersebut layaknya dilanda banjir kopi.

Ya, setelah beragam event berbasis seni tradisi lokal, sport tourism, hingga budaya agraris dan lain-lain, tadi malam Pemkab Banyuwangi menggelar event bertajuk Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Event ini bertujuan untuk semakin mendongkrak pamor kopi lokal Bumi Blambangan.

Bukan hanya bertujuan mengangkat pamor kopi lokal Banyuwangi, Festival Ngopi Sepuluh Ewu juga mengangkat falsafah yang dipegang teguh warga Oseng Kemiren, yakni ”Sak Corot Dadi Sakduluran” atau ‘Sekali Seduh Kita Bersaudara’. Tak heran, pelataran rumah maupun tepi sepanjang jalan Desa Kemiren disulap menjadi ruang tamu yang menyuguhkan kopi Oseng dan jajanan tradisional Banyuwangi. Setiap orang bisa duduk di halaman rumah siapa saja.

Baca Juga :  Beasiswa Study in China

Menariknya lagi, cangkir yang digunakan untuk wadah kopi pada festival kali ini memiliki bentuk dan motif yang seragam. ”Unik. Baru kali ini saya menjumpai event seperti ini,” ujar Desy, salah satu pengunjung asal Purwokerto, Jawa Tengah.

Rangkaian Festival Ngopi Sepuluh Ewu tahun ini telah diawali event Banyuwangi Coffee Processing Festival. Pada event tersebut digelar di Rumah Kreatif Banyuwangi sejak Rabu (18/10) sampai kemarin (20/20) itu, para peserta dibekali wawasan seputar pengolahan kopi pascapanen dan barista.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/