alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Kayu Cengkih Dikenal Paling Stabil untuk Sangra

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Gampang-gampang susah. Namun, asalkan tahu cara dan peranti yang tepat, maka proses sangrai kopi secara tradisional, bisa dengan mudah menghasilkan kopi berkualitas.

Seperti diketahui, proses penyangraian memberikan andil besar dalam menentukan kualitas kopi. Menurut pakar kopi, 60 persen kualitas kopi ditentukan di kebun, yakni mulai varietas kopi yang ditanam, ketinggian lahan, pengolahan tanah, waktu panen, hingga proses pengeringan atau penjemuran kopi. Biji kopi yang baik adalah biji kopi yang memiliki kadar air sebesar 12 persen atau kurang.

Selebihnya, kualitas kopi juga ditentukan dalam proses sangrai alias roasting dan cara penyajian kopi tersebut. Versi pakar kopi, proses roasting memberikan andil 30 persen terhadap kualitas kopi. Sedangkan 10 persen sisanya dipengaruhi cara penyajian kopi tersebut.

Nah, berkaitan dengan proses roasting, khususnya roasting kopi secara tradisional, pakar kopi tingkat dunia asal Banyuwangi, Setiawan Subekti mengatakan, ada beberapa hal yang sangat menentukan. Salah satunya kayu yang digunakan untuk pembakaran.

Pak Iwan –sapaan karib Setiawan Subekti— menuturkan, untuk proses pembakaran sebaiknya menggunakan kayu yang bersifat keras. Contohnya kayu cengkih, kayu lamtoro, dan sebagainya. ”Supaya temperatur yang dihasilkan pada proses pembakaran stabil,” ujar pemilik Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tersebut.

Iwan menambahkan, dalam proses roasting kopi secara tradisional, yang dibutuhkan bukanlah nyala api, melainkan bara. ”Karena suhu bara api juga lebih stabil,” kata dia.

Masih menurut Iwan, menyangrai kopi sebaiknya tidak menggunakan kompor berbahan bahan bakar gas. ”Sebab, aroma gas bisa masuk ke kopi yang disangrai sehingga berpengaruh pada kualitas kopi yang dihasilkan,” pungkasnya. 

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Gampang-gampang susah. Namun, asalkan tahu cara dan peranti yang tepat, maka proses sangrai kopi secara tradisional, bisa dengan mudah menghasilkan kopi berkualitas.

Seperti diketahui, proses penyangraian memberikan andil besar dalam menentukan kualitas kopi. Menurut pakar kopi, 60 persen kualitas kopi ditentukan di kebun, yakni mulai varietas kopi yang ditanam, ketinggian lahan, pengolahan tanah, waktu panen, hingga proses pengeringan atau penjemuran kopi. Biji kopi yang baik adalah biji kopi yang memiliki kadar air sebesar 12 persen atau kurang.

Selebihnya, kualitas kopi juga ditentukan dalam proses sangrai alias roasting dan cara penyajian kopi tersebut. Versi pakar kopi, proses roasting memberikan andil 30 persen terhadap kualitas kopi. Sedangkan 10 persen sisanya dipengaruhi cara penyajian kopi tersebut.

Nah, berkaitan dengan proses roasting, khususnya roasting kopi secara tradisional, pakar kopi tingkat dunia asal Banyuwangi, Setiawan Subekti mengatakan, ada beberapa hal yang sangat menentukan. Salah satunya kayu yang digunakan untuk pembakaran.

Pak Iwan –sapaan karib Setiawan Subekti— menuturkan, untuk proses pembakaran sebaiknya menggunakan kayu yang bersifat keras. Contohnya kayu cengkih, kayu lamtoro, dan sebagainya. ”Supaya temperatur yang dihasilkan pada proses pembakaran stabil,” ujar pemilik Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tersebut.

Iwan menambahkan, dalam proses roasting kopi secara tradisional, yang dibutuhkan bukanlah nyala api, melainkan bara. ”Karena suhu bara api juga lebih stabil,” kata dia.

Masih menurut Iwan, menyangrai kopi sebaiknya tidak menggunakan kompor berbahan bahan bakar gas. ”Sebab, aroma gas bisa masuk ke kopi yang disangrai sehingga berpengaruh pada kualitas kopi yang dihasilkan,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/