alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Bangga Turut Sukseskan WSL

Sekardadu Intesifkan Monitoring DAS

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Dinas Pengairan Banyuwangi terus menfollow up program Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai (Sekardadu) yang dilaunching Bupati Ipuk Fiestiandani pada 30 April 2022 lalu. Kegiatan ini menitikberatkan kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum sebagai penggerak utama pelaksanaannya.

Sedikitya  ada 137 SD, 14 MI, 65 SMP, 8 MTs, 30 SMA, 14 SMK, 3 MA, dan 5 pondok pesantren yang menjadi patner utama dalam DAS yang ada di daerah sekitarnya. ”Paling dekat radius satu kilometer dari lokasi  lembaga-lembaga pendidikan yang ada disana mereka akan fokus di DAS yang ada,” kata Kepala Dinas Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo.

Secara kontinyu hingga bulan Desember 2022 mendatang. Mereka akan diberi pembinaan oleh sembilan perguruan tinggi (PT) yang bermitra dengan Dinas PU Pengairan dalam program ini.  Dari tingkatan SD hingga SMA akan ada pendampingan yang semuanya dari perguruan tinggi telah ditunjuk.

Selanjutnya, mereka diharapkan bisa melakukan pembinaan, memonitor, dan memberikan evaluasi terkait tugas yang telah diberikan.  Sebagai bentuk motivasi dan apresiasi, Doni Arsilo menyatakan akan ada reward bagi lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki DAS paling bersih. “Nanti akhir tahun akan diberikan,” tegasnya.

Ke depannya, Guntur berharap program ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Pihak  terlibat bisa lebih luas dengan jangkauan penanganan DAS yang lebih luas lagi. Target kegiatan ini bisa menjadi sarana menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap DAS.  Mereka tidak hanya mengambil manfaat tetapi juga merawat kelestariannya.

Ketua Pelaksana Program Sekardadu Doni Arsilo ikut bisa bernafas lega. Setidaknya kepedulian masyarakat ini mulai tumbuh. Ini ditampakkan diantaranya dengan gelaran World Surfing League (WSL) 26 Mei hingga 6 Juni lalu di Pantai Plengkung. Masyarakat terlihat aktif untuk mensukseskan kegiatan internasional tersebut.

Mereka terlibat dalam pembersihan dan penataan aliran sungai secara masal sebelum dan sesudah kegiatan itu.  Beberapa sungai yang ada di sekitar jalur dan menuju kawasan lomba menjadi sarana pembersihan masyarakat secara gotong royong. “Adik adik pelajar aktif juga dan bersemangat. Ini luar biasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Doni berharap program ini jangan hanya sekadar formalitas saja. Pihaknya meminta sekolah dan perguruan tinggi untuk membuat program-program yang bisa menjaga kebersihan sungai. Mereka diberi tugas untuk memonitor DAS-DAS se-Banyuwangi.

”Kalau hanya sekadar membersihkan sungai dari sampah itu gampang, cukup dengan memberikan screen guard (jaring penahan sampah). Tapi, Sekardadu berupaya menumbuhkan rasa malu jika membuang sampah ke sungai dan mengubah perilaku masyarakat untuk bersama-sama menjaga sungai,” pungkasnya. (*/afi)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Dinas Pengairan Banyuwangi terus menfollow up program Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai (Sekardadu) yang dilaunching Bupati Ipuk Fiestiandani pada 30 April 2022 lalu. Kegiatan ini menitikberatkan kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum sebagai penggerak utama pelaksanaannya.

Sedikitya  ada 137 SD, 14 MI, 65 SMP, 8 MTs, 30 SMA, 14 SMK, 3 MA, dan 5 pondok pesantren yang menjadi patner utama dalam DAS yang ada di daerah sekitarnya. ”Paling dekat radius satu kilometer dari lokasi  lembaga-lembaga pendidikan yang ada disana mereka akan fokus di DAS yang ada,” kata Kepala Dinas Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo.

Secara kontinyu hingga bulan Desember 2022 mendatang. Mereka akan diberi pembinaan oleh sembilan perguruan tinggi (PT) yang bermitra dengan Dinas PU Pengairan dalam program ini.  Dari tingkatan SD hingga SMA akan ada pendampingan yang semuanya dari perguruan tinggi telah ditunjuk.

Selanjutnya, mereka diharapkan bisa melakukan pembinaan, memonitor, dan memberikan evaluasi terkait tugas yang telah diberikan.  Sebagai bentuk motivasi dan apresiasi, Doni Arsilo menyatakan akan ada reward bagi lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki DAS paling bersih. “Nanti akhir tahun akan diberikan,” tegasnya.

Ke depannya, Guntur berharap program ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Pihak  terlibat bisa lebih luas dengan jangkauan penanganan DAS yang lebih luas lagi. Target kegiatan ini bisa menjadi sarana menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap DAS.  Mereka tidak hanya mengambil manfaat tetapi juga merawat kelestariannya.

Ketua Pelaksana Program Sekardadu Doni Arsilo ikut bisa bernafas lega. Setidaknya kepedulian masyarakat ini mulai tumbuh. Ini ditampakkan diantaranya dengan gelaran World Surfing League (WSL) 26 Mei hingga 6 Juni lalu di Pantai Plengkung. Masyarakat terlihat aktif untuk mensukseskan kegiatan internasional tersebut.

Mereka terlibat dalam pembersihan dan penataan aliran sungai secara masal sebelum dan sesudah kegiatan itu.  Beberapa sungai yang ada di sekitar jalur dan menuju kawasan lomba menjadi sarana pembersihan masyarakat secara gotong royong. “Adik adik pelajar aktif juga dan bersemangat. Ini luar biasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Doni berharap program ini jangan hanya sekadar formalitas saja. Pihaknya meminta sekolah dan perguruan tinggi untuk membuat program-program yang bisa menjaga kebersihan sungai. Mereka diberi tugas untuk memonitor DAS-DAS se-Banyuwangi.

”Kalau hanya sekadar membersihkan sungai dari sampah itu gampang, cukup dengan memberikan screen guard (jaring penahan sampah). Tapi, Sekardadu berupaya menumbuhkan rasa malu jika membuang sampah ke sungai dan mengubah perilaku masyarakat untuk bersama-sama menjaga sungai,” pungkasnya. (*/afi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/