alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Tahun Ini, Keboan Aliyan Masih Belum Pasti Digelar

RadarBanyuwangi.id – Keboan Aliyan dilaksanakan setiap bulan Suro pada kalender Jawa. Sejumlah petani biasanya kerasukan dan bertingkah layaknya kebo (kerbau). Tahun ini, belum ada kepastian tradisi adat itu dihelat atau tidak.

Saat tradisi Keboan berlangsung, warga yang kesurupan itu biasanya berkeliling empat penjuru desa. Sesekali, belasan ”kerbau jadi-jadian” itu nyemplung di kubangan.

Warga desa sangat antusias menyambut tradisi ini. Mereka bergotong royong menyiapkan acara tersebut. Mulai dari menyiapkan ragam kebutuhan untuk ritual hingga membangun gapura dari janur untuk menggantung aneka hasil bumi di sepanjang jalan desa. Ini sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Tradisi Keboan menjadi perayaan yang dinantikan warga Desa Aliyan. Bahkan, warga desa yang tinggal di luar kota juga menyempatkan mudik untuk menghadiri ritual adat ini. Tahun 2020 lalu, meski di tengah pandemi, ritual tahunan itu tetap digelar dengan sederhana. Namun untuk tahun ini, masih dalam pembahasan. Belum pasti, apakah digelar atau tidak.

Biasanya tradisi Keboan ini dimulai sejak pagi. Rangkaian acara diawali dengan selametan latar atau selamatan yang digelar di halaman rumah dan di tepi jalan kampung. Setelah doa dikumandangkan, warga menyantap tumpeng berisi nasi dan lauk yang dihidangkan di pagi hari.

Tak menunggu lama, setelah selametan latar selesai, tanpa diketahui sebabnya, sejumlah warga setempat mendadak kesurupan. Warga meyakininya sebagai roh leluhur Desa Aliyan.

Tak pelak, situasi yang semula tenang mulai berubah menjadi riuh. Para sanak dan keluarga langsung memegang warga yang kesurupan roh leluhur tersebut. Ada yang membawa timba ada juga yang memegangi kedua tangan dan dagu. ”Orang yang mendadak kesurupan langsung mencari kubangan lumpur,” ungkap Zaenal, warga Dusun Sukodono.

Agar tidak membahayakan keselamatan orang yang sedang kesurupan, keluarga maupun saudara dan teman selalu mendampingi ke mana pun orang yang kesurupan tersebut berjalan. ”Kalau sudah kesurupan segala sesuatu bisa terjadi. Mulai menari-nari, kadang kepalanya diceburkan ke kubangan lumpur,” katanya.

Beberapa warga yang kesurupan harus didampingi. Sebab, mereka selalu mencari kubangan air layaknya kerbau yang senang berguling-guling di kubangan lumpur.

Beberapa orang yang kesurupan itulah yang akan menjadi simbol Keboan. Dua orang yang sedang kesurupan itu pada bagian bahunya dipasangkan seperangkat alat bajak tradisional (singkal). Kemudian berjalan keliling kampung bersama seorang gadis di atas tandu yang jadi simbol Dewi Padi, Dewi Sri. Iring-iringan itu diiringi alat musik tradisional barong dan kuntulan.

Kepala Desa Aliyan Anton Sujarwo mengatakan, ritual adat Keboan tidak bisa ditinggalkan. Karena sudah mengakar dan mendarah daging dalam kehidupan warga Desa Aliyan secara turun-temurun. Apalagi, sejak memasuki bulan Suro atau tahun baru Hijriah, tidak sedikit warga yang kesurupan roh leluhur yang meminta agar tradisi keboan tetap digelar secara sederhana.

”Karena masih pandemi virus korona, sebetulnya berencana tidak diselenggarakan. Tetapi karena banyak warga yang kesurupan minta tetap diadakan, kami tak bisa berbuat banyak. Ritual Keboan tetap kami gelar secara sederhana khusus warga Desa Aliyan. Tanpa kehadiran tamu atau warga dari luar desa,” tegas Anton tahun 2020 lalu.

Tidak itu saja, kata Anton, rangkaian ritual adat yang biasanya berlangsung hingga siang hari juga dipersingkat hanya dua jam. Jika biasanya rombongan arak-arakan Keboan bergantian datang ke balai desa. Kali ini, rombongan cukup berkeliling di dusun masing-masing, tanpa harus dikumpulkan di balai desa. ”Karena sudah menjadi adat tradisi, maka ritual ini tetap harus ada dan dijaga kelestariannya,” jelas Ketua Asosiasi Kepala Desa Banyuwangi ini.

Praktis, jika biasanya setiap upacara adat Keboan dihadiri pejabat daerah dan dibarengi dengan pergelaran kesenian seperti tari-tarian, jaranan, orkes musik dangdut, serta berbagai kesenian tradisional, tahun lalu pelaksanaan ritual adat berlangsung tanpa hiburan dan tanpa sambutan seremonial pejabat daerah.

Meski demikian, ritual adat Keboan di tahun 2020 lalu berlangsung lancar, aman, dan tetap berkesan. Ritual ditutup dengan prosesi menebar benih atau ”ngurit”. Benih padi ditebar di simpang empat jalan. Belasan kerbau jadi-jadian berguling-guling di atas benih yang ditebar, tak lama disusul warga yang berebut benih padi tersebut.

Lantas, di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini, apakah ritual adat Keboan tersebut bakal tetap digelar? Anton masih belum bisa menjawab dengan pasti. ”Kami masih melihat perkembangan dan situasi karena ini kami masih akan membahas bersama sesepuh dan tokoh adat di desa kami. Semoga saja segera ada solusi,” pungkasnya. (ddy/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Keboan Aliyan dilaksanakan setiap bulan Suro pada kalender Jawa. Sejumlah petani biasanya kerasukan dan bertingkah layaknya kebo (kerbau). Tahun ini, belum ada kepastian tradisi adat itu dihelat atau tidak.

Saat tradisi Keboan berlangsung, warga yang kesurupan itu biasanya berkeliling empat penjuru desa. Sesekali, belasan ”kerbau jadi-jadian” itu nyemplung di kubangan.

Warga desa sangat antusias menyambut tradisi ini. Mereka bergotong royong menyiapkan acara tersebut. Mulai dari menyiapkan ragam kebutuhan untuk ritual hingga membangun gapura dari janur untuk menggantung aneka hasil bumi di sepanjang jalan desa. Ini sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Tradisi Keboan menjadi perayaan yang dinantikan warga Desa Aliyan. Bahkan, warga desa yang tinggal di luar kota juga menyempatkan mudik untuk menghadiri ritual adat ini. Tahun 2020 lalu, meski di tengah pandemi, ritual tahunan itu tetap digelar dengan sederhana. Namun untuk tahun ini, masih dalam pembahasan. Belum pasti, apakah digelar atau tidak.

Biasanya tradisi Keboan ini dimulai sejak pagi. Rangkaian acara diawali dengan selametan latar atau selamatan yang digelar di halaman rumah dan di tepi jalan kampung. Setelah doa dikumandangkan, warga menyantap tumpeng berisi nasi dan lauk yang dihidangkan di pagi hari.

Tak menunggu lama, setelah selametan latar selesai, tanpa diketahui sebabnya, sejumlah warga setempat mendadak kesurupan. Warga meyakininya sebagai roh leluhur Desa Aliyan.

Tak pelak, situasi yang semula tenang mulai berubah menjadi riuh. Para sanak dan keluarga langsung memegang warga yang kesurupan roh leluhur tersebut. Ada yang membawa timba ada juga yang memegangi kedua tangan dan dagu. ”Orang yang mendadak kesurupan langsung mencari kubangan lumpur,” ungkap Zaenal, warga Dusun Sukodono.

Agar tidak membahayakan keselamatan orang yang sedang kesurupan, keluarga maupun saudara dan teman selalu mendampingi ke mana pun orang yang kesurupan tersebut berjalan. ”Kalau sudah kesurupan segala sesuatu bisa terjadi. Mulai menari-nari, kadang kepalanya diceburkan ke kubangan lumpur,” katanya.

Beberapa warga yang kesurupan harus didampingi. Sebab, mereka selalu mencari kubangan air layaknya kerbau yang senang berguling-guling di kubangan lumpur.

Beberapa orang yang kesurupan itulah yang akan menjadi simbol Keboan. Dua orang yang sedang kesurupan itu pada bagian bahunya dipasangkan seperangkat alat bajak tradisional (singkal). Kemudian berjalan keliling kampung bersama seorang gadis di atas tandu yang jadi simbol Dewi Padi, Dewi Sri. Iring-iringan itu diiringi alat musik tradisional barong dan kuntulan.

Kepala Desa Aliyan Anton Sujarwo mengatakan, ritual adat Keboan tidak bisa ditinggalkan. Karena sudah mengakar dan mendarah daging dalam kehidupan warga Desa Aliyan secara turun-temurun. Apalagi, sejak memasuki bulan Suro atau tahun baru Hijriah, tidak sedikit warga yang kesurupan roh leluhur yang meminta agar tradisi keboan tetap digelar secara sederhana.

”Karena masih pandemi virus korona, sebetulnya berencana tidak diselenggarakan. Tetapi karena banyak warga yang kesurupan minta tetap diadakan, kami tak bisa berbuat banyak. Ritual Keboan tetap kami gelar secara sederhana khusus warga Desa Aliyan. Tanpa kehadiran tamu atau warga dari luar desa,” tegas Anton tahun 2020 lalu.

Tidak itu saja, kata Anton, rangkaian ritual adat yang biasanya berlangsung hingga siang hari juga dipersingkat hanya dua jam. Jika biasanya rombongan arak-arakan Keboan bergantian datang ke balai desa. Kali ini, rombongan cukup berkeliling di dusun masing-masing, tanpa harus dikumpulkan di balai desa. ”Karena sudah menjadi adat tradisi, maka ritual ini tetap harus ada dan dijaga kelestariannya,” jelas Ketua Asosiasi Kepala Desa Banyuwangi ini.

Praktis, jika biasanya setiap upacara adat Keboan dihadiri pejabat daerah dan dibarengi dengan pergelaran kesenian seperti tari-tarian, jaranan, orkes musik dangdut, serta berbagai kesenian tradisional, tahun lalu pelaksanaan ritual adat berlangsung tanpa hiburan dan tanpa sambutan seremonial pejabat daerah.

Meski demikian, ritual adat Keboan di tahun 2020 lalu berlangsung lancar, aman, dan tetap berkesan. Ritual ditutup dengan prosesi menebar benih atau ”ngurit”. Benih padi ditebar di simpang empat jalan. Belasan kerbau jadi-jadian berguling-guling di atas benih yang ditebar, tak lama disusul warga yang berebut benih padi tersebut.

Lantas, di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini, apakah ritual adat Keboan tersebut bakal tetap digelar? Anton masih belum bisa menjawab dengan pasti. ”Kami masih melihat perkembangan dan situasi karena ini kami masih akan membahas bersama sesepuh dan tokoh adat di desa kami. Semoga saja segera ada solusi,” pungkasnya. (ddy/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/