Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Events
icon featured
Events

Jadi Pilot Project Penanganan Hipertensi

15 Oktober 2021, 10: 31: 25 WIB | editor : Bayu Saksono

Jadi Pilot Project Penanganan Hipertensi

KOLABORATIF: Stafsus Menkes Laksono Trisnantoro menandatangani dokumen perancangan Model Inovasi Administrasi Publik Petahelix Collaborative Governance di Banyuwangi Rabu (13/10). (DINI FOR RABA)

Share this      

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Inovasi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi di sektor pelayanan publik kembali menuai apresiasi pemerintah pusat. Kali ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memilih kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini sebagai pilot project (proyek percontohan) penerapan pencegahan dan pengendalian penyakit hipertensi.

Program ini akan dijalankan dengan menggunakan konsep pentahelix collaborative governance alias penanganan dengan melibatkan lintas elemen. Jika proyek percontohan di Bumi Blambangan ini sukses, ke depannya akan direplikasi di daerah lain di tanah air.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Ketahanan Industri Obat dan Alat Kesehatan Laksono Trisnantoro mengatakan, Banyuwangi sudah terkenal dengan inovasi pelayanan publiknya. ”Maka, kami yakin program ini akan berjalan baik di Banyuwangi mengingat semangat inovasi yang telah dimiliki Banyuwangi selama ini,” ujarnya saat pencanangan Model Inovasi Administrasi Publik Petahelix Collaborative Governance di Banyuwangi Rabu (13/10). 

Baca juga: Ansor Napak Tilas di Monumen Pancasila

Laksono menjelaskan, hipertensi menjadi perhatian khusus mengingat saat ini penyakit tersebut menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. ”Untuk itu kami meminta daerah turut memberikan perhatian lebih pada masalah ini. Penanganannya harus sesuai dengan standar pelayanan minimal di bidang kesehatan,” jelasnya.

Laksono menambahkan, program ini akan diawali dari tingkat rukun tetangga (RT). Pelacakan pasien akan dipusatkan pada warga di skala RT. ”Nantinya, setiap RT di wilayah yang ditunjuk akan memiliki alat pengukur tekanan darah sehingga mudah diakses oleh warga,” kata dia.

Analis Kebijakan Ahli Madya pada Pusat Analisis Determinan Kesehatan Sekretariat Jenderal Kemenkes dr Mukti Eka Rahardian mengatakan, ada empat proses yang perlu dilakukan dalam penanganan hipertensi. Mulai pelacakan dan penemuan penderita, konsultasi dokter dan pengobatan, rehabilitasi penderita, serta kegiatan promotif preventif kepada warga. ”Dengan proses semacam itu, maka dibutuhkan penanganan yang komprehensif dan melibatkan banyak pihak. Mulai dari pemerintah, akademisi/profesi, sektor bisnis, ormas, dan media. Itulah yang kami sebut dengan pentahelix,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi dr Widji Lestariono mengatakan, Banyuwangi termasuk salah satu dari lima daerah yang ditunjuk untuk menjadi perintis pelaksanaan program ini. Khusus di kabupaten the Sunrise of Java, Kecamatan Cluring ditunjuk sebagai wilayah pelaksanaan pilot project ini. ”Nanti akan kami laksanakan di Cluring sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Kemenkes, yakni sesuai standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan,” katanya. 

(bw/sgt/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia