Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Elpiji Langka Jelang Lebaran, Warga Banyuwangi Beralih ke Kayu Bakar

Fredy Rizki Manunggal • Selasa, 24 Maret 2026 | 07:25 WIB

ENERGI ALTERNATIF: Warga Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro memanfaatkan kayu bakar untuk memasak, Senin (23/3).
ENERGI ALTERNATIF: Warga Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro memanfaatkan kayu bakar untuk memasak, Senin (23/3).

RADARBANYUWANGI.ID – Kelangkaan gas elpiji bersubsidi atau gas melon menjelang Idul Fitri 2026 memaksa sebagian masyarakat pedesaan di Banyuwangi mencari alternatif energi. Salah satu solusi yang dipilih adalah kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak kebutuhan rumah tangga.

Kondisi ini dipicu oleh tersendatnya distribusi elpiji selama masa libur Lebaran. Akibatnya, pasokan di tingkat pengecer mengalami kekosongan meskipun stok di pangkalan disebut masih tersedia.

Warga Desa Kelir Kembali Gunakan Tungku Tradisional

Di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, sejumlah warga mulai kembali memanfaatkan tungku tradisional berbahan bakar kayu. Sejak H-3 Lebaran, aktivitas memasak dengan kayu bakar meningkat, terutama untuk menyiapkan hidangan hari raya.

Nurul Bariah, 46, salah satu warga, mengaku tidak terlalu kesulitan beradaptasi karena ketersediaan kayu bakar di wilayahnya masih melimpah.

“Kayu bakar masih banyak di sini. Jadi saat elpiji habis, kami tidak bingung. Cuma memang memasaknya lebih lama,” ujarnya.

Meski demikian, penggunaan kayu bakar dinilai kurang praktis dibandingkan elpiji, terutama bagi masyarakat yang sudah terbiasa dengan kompor gas.

Kelangkaan Meluas hingga Perkotaan

Kelangkaan elpiji tidak hanya terjadi di wilayah pedesaan. Hingga H+1 Lebaran, kondisi serupa juga dirasakan di kawasan kota di Banyuwangi.

Kusyanto, 72, seorang pengecer elpiji di Kecamatan Banyuwangi, mengaku sudah hampir lima hari tidak mendapatkan pasokan dari pangkalan.

“Saya sudah minta beberapa kali, tapi belum dikirim. Akibatnya pelanggan banyak yang tidak kebagian,” katanya.

Kondisi ini membuat masyarakat harus mencari elpiji ke berbagai tempat, bahkan ada yang terpaksa menunda aktivitas memasak.

Distribusi Terhambat karena Libur Lebaran

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menjelaskan bahwa kelangkaan bukan semata karena kekurangan stok, melainkan lebih disebabkan oleh hambatan distribusi.

Menurutnya, saat dilakukan pengecekan ke pangkalan, stok elpiji sebenarnya masih tersedia. Namun, tidak ada tenaga distribusi yang mengantarkan ke pengecer karena banyak pekerja yang libur Lebaran.

“Saat dicek ke pangkalan, stoknya ada. Tapi tidak ada yang mendistribusikan dari pangkalan ke pengecer karena tenaga yang bekerja cuti atau libur,” jelasnya.

Akibatnya, stok di tingkat pengecer habis dan masyarakat kesulitan memperoleh elpiji.

Pemkab Ubah Skema Distribusi

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Banyuwangi mengambil langkah cepat dengan mengubah skema distribusi. Pengecer dan sub pangkalan kini diperbolehkan mengambil langsung elpiji ke pangkalan resmi.

Selain itu, pemerintah daerah juga menggandeng Pertamina untuk menggelar operasi pasar, khususnya di wilayah pedesaan yang terdampak cukup parah.

“Jadi akhirnya dibalik sistem distribusinya, pengecer atau sub pangkalan mengambil ke pangkalan. Kita juga melakukan operasi pasar dengan Pertamina,” tegas Ipuk.

Pertamina Pastikan Stok Aman

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, memastikan bahwa stok elpiji subsidi di tingkat agen dan pangkalan resmi masih dalam kondisi aman.

Menurutnya, distribusi tetap dilakukan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

Sebagai langkah antisipasi, selama Maret 2026 Pertamina telah menambah pasokan melalui mekanisme fakultatif dan ekstra dropping. Khusus untuk Banyuwangi, tambahan pasokan mencapai 11 persen atau setara 172.188 tabung dari rata-rata penyaluran harian.

“Kami pastikan stok elpiji subsidi tetap aman dan masyarakat tidak perlu khawatir,” tandasnya.

Kayu Bakar Jadi Alternatif, Tapi Tidak Solutif

Terkait penggunaan kayu bakar sebagai alternatif, Ipuk menyebut hal tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Banyuwangi. Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua sektor bisa beralih ke energi tradisional tersebut.

“Kayu bakar ini menjadi potensi lokal kita. Tapi banyak sektor yang tidak bisa menggunakannya. Jadi fokus kita tetap pada perbaikan distribusi elpiji,” jelasnya.

Pemkab Banyuwangi pun berkomitmen memastikan distribusi kembali normal dalam waktu dekat agar kebutuhan energi masyarakat selama momentum Lebaran tetap terpenuhi. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#pertamina #gas elpiji langka #distribusi elpiji #Ipuk Fiestiandani #banyuwangi #kayu bakar