RADARBANYUWANGI.ID – Konflik geopolitik antara Iran dan sejumlah pihak global yang memicu gangguan aliran minyak dunia ternyata tidak serta-merta mengangkat harga emas.
Justru sebaliknya, logam mulia yang dikenal sebagai aset aman (safe haven) itu mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir.
Mengutip laporan CNN, harga emas anjlok hingga 11 persen dalam satu minggu—menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 1983. Bahkan sejak konflik dimulai, harga emas telah merosot lebih dari 14 persen.
Pada penutupan perdagangan Jumat (20/3/2026), harga emas turun 0,7 persen ke level USD 4.574,90 per ounce.
Safe Haven Tak Lagi Jadi Pilihan Utama?
Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global, emas biasanya menjadi instrumen favorit investor. Logam mulia ini dianggap mampu menjaga nilai saat inflasi melonjak, mata uang melemah, hingga krisis terjadi.
Namun, dinamika pasar kali ini menunjukkan fenomena berbeda. Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah justru memicu perubahan kebijakan moneter global, yang berdampak langsung pada pergerakan emas.
Efek Domino Suku Bunga dan Dolar AS
Salah satu faktor utama penurunan harga emas adalah kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil sepanjang 2026.
Kondisi ini meningkatkan daya tarik instrumen investasi yang memberikan imbal hasil seperti obligasi, sehingga mengurangi minat terhadap emas yang tidak memberikan yield.
Data dari CME FedWatch juga menunjukkan ekspektasi pasar bahwa tidak akan ada penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Kebijakan ini berdampak langsung pada penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar AS tercatat naik hampir 2 persen sejak konflik Iran memanas.
Penguatan dolar membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan pun menurun.
Bank Sentral Global Ikut Menyesuaikan
Tak hanya The Fed, bank sentral di berbagai negara juga mulai menyesuaikan kebijakan moneternya.
Beberapa bank sentral memilih mempertahankan suku bunga, bahkan ada yang menaikkannya untuk mengantisipasi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Langkah ini semakin menekan daya tarik emas di pasar global.
Momentum Emas Mulai Melemah
Sebelum penurunan tajam ini, harga emas sebenarnya tengah berada dalam tren bullish. Sepanjang 2025, emas mencatat kenaikan hingga 64 persen—menjadi performa terbaik sejak 1979.
Pada Januari 2026, harga emas bahkan sempat menyentuh level USD 5.000 per troy ounce untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Namun, euforia tersebut kini mulai mereda. Harga emas bahkan sempat turun di bawah USD 4.500 per ounce, menghapus kenaikan selama dua bulan terakhir.
Investor Mulai Jual Emas
Analis menyebut, penurunan harga emas juga dipicu aksi ambil untung oleh investor. Banyak pelaku pasar menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain atau melakukan rebalancing portofolio.
Economic Strategist Fundstrat, Hardika Singh, menyebut imbal hasil obligasi yang lebih tinggi menjadi faktor utama tekanan terhadap emas.
“Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar,” ujarnya.
Bahkan, sejumlah analis dari bank Belanda ING menilai emas dalam beberapa pekan terakhir diperdagangkan layaknya “saham meme”, bukan sebagai aset safe haven yang stabil.
Prospek Emas Masih Diperdebatkan
Meski mengalami tekanan, sebagian analis masih optimistis terhadap prospek emas ke depan.
Veteran Wall Street, Ed Yardeni, bahkan masih menargetkan harga emas bisa mencapai USD 6.000 per ounce pada akhir tahun.
Namun, ia juga membuka kemungkinan revisi target menjadi USD 5.000 jika tren pelemahan terus berlanjut.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik, inflasi, serta utang pemerintah Amerika Serikat tetap menjadi faktor pendukung kenaikan emas dalam jangka panjang.
Kesimpulan: Geopolitik Tak Selalu Untungkan Emas
Fenomena turunnya harga emas di tengah konflik Iran menunjukkan bahwa dinamika pasar global semakin kompleks.
Faktor suku bunga, penguatan dolar, hingga kebijakan bank sentral kini memiliki pengaruh besar yang bahkan bisa mengalahkan sentimen geopolitik.
Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa emas tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi sebagai aset aman.
Di tengah ketidakpastian global, strategi investasi yang adaptif menjadi kunci utama menghadapi perubahan pasar yang cepat. (*)
Editor : Ali Sodiqin