Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Emas Anjlok Parah! Jatuh 10,58 Persen Sepekan, Terburuk Sejak 1983 Akibat Gejolak Timur Tengah

Ali Sodiqin • Sabtu, 21 Maret 2026 | 13:54 WIB

Ilustrasi, harga emas dan perak anjlok tajam.
Ilustrasi, harga emas dan perak anjlok tajam.

RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas dunia mengalami tekanan luar biasa sepanjang pekan ini. Logam mulia tersebut bahkan mencatat kinerja mingguan terburuk sejak 1983 atau dalam 43 tahun terakhir.

Mengacu data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (20/3/2026) berada di level US$ 4.494,02 per troy ons, atau merosot 3,32% dalam sehari.

Penurunan ini memperpanjang tren negatif emas yang sudah berlangsung selama delapan hari berturut-turut dengan total koreksi mencapai 13,43%. Ini menjadi salah satu periode penurunan terpanjang dalam beberapa tahun terakhir.

Penurunan Terburuk Sejak 1983

Dalam skala mingguan, harga emas tercatat ambruk hingga 10,58%. Angka ini menjadikannya sebagai penurunan mingguan terbesar sejak awal Maret 1983.

Tak hanya itu, posisi harga saat ini juga menjadi yang terendah sejak awal Januari 2026. Artinya, dalam waktu lebih dari tiga bulan, emas kehilangan momentum kenaikannya secara signifikan.

Fenomena ini sekaligus menandai tekanan besar terhadap aset safe haven yang selama ini dikenal sebagai pelindung nilai saat ketidakpastian global meningkat.

Konflik Timur Tengah Picu Kepanikan Pasar

Tekanan terhadap harga emas tak lepas dari meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Laporan menyebut Amerika Serikat mengirim tambahan ribuan pasukan ke kawasan tersebut.

Situasi ini berkaitan dengan eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan dukungan dari Amerika Serikat.

Konflik yang memanas sejak akhir Februari tersebut telah memicu gangguan rantai pasok energi global, termasuk potensi terganggunya jalur vital di Selat Hormuz.

Dampaknya, harga minyak dunia melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi.

Dolar AS Menguat, Emas Makin Tertekan

Di sisi lain, penguatan dolar AS turut memperparah tekanan terhadap emas. Indeks dolar tercatat naik ke level 99,65 dari posisi sebelumnya 99,23.

Penguatan mata uang Amerika Serikat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan global.

Tak hanya itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga melonjak ke 4,39%—level tertinggi sejak Juli 2025.

Kondisi ini membuat investor beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dibanding emas.

Efek Domino Suku Bunga Global

Kenaikan imbal hasil obligasi turut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global yang lebih tinggi.

Federal Reserve diketahui mempertahankan suku bunga, namun memberikan sinyal inflasi yang lebih tinggi ke depan.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa arah kebijakan masih penuh ketidakpastian akibat konflik global.

Sementara itu, bank sentral lain seperti Bank of England dan European Central Bank diperkirakan akan segera menaikkan suku bunga, bahkan secepat April.

Kondisi ini semakin mengurangi daya tarik emas, yang tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.

Emas Kehilangan Status Safe Haven?

Selama ini, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian. Namun, dalam situasi suku bunga tinggi, daya tarik tersebut menjadi berkurang.

Analis pasar menyebut emas kini bergerak lebih selaras dengan aset berisiko lainnya, seperti saham dan komoditas, terutama sejak konflik global meningkat.

Seorang trader logam independen menyebut pasar saat ini tengah menghadapi “tembok kekhawatiran” yang memicu volatilitas tinggi di berbagai instrumen.

Prospek: Volatilitas Masih Tinggi

Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan bergejolak. Meski ada peluang konsolidasi jangka pendek, tekanan dari faktor eksternal seperti suku bunga, dolar AS, dan konflik geopolitik masih sangat dominan.

Investor pun diimbau untuk lebih berhati-hati dalam mengambil posisi, mengingat ketidakpastian global yang masih tinggi.

Dengan kondisi saat ini, pasar emas memasuki fase kritis yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya—apakah mampu bangkit kembali atau justru melanjutkan tren penurunan yang lebih dalam. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#gejolak timur tengah #harga emas dunia #harga emas hari ini #21 maret 2026 #logam mulia #harga emas anjlok