RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pemerintah Indonesia memastikan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat.
Keputusan ini disambut lega masyarakat yang tengah bersiap menghadapi periode konsumsi tinggi Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa belum ada rencana perubahan kebijakan subsidi energi meski tekanan harga minyak global terus meningkat.
"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian menaikkan harga BBM," kata Purbaya, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, rata-rata harga minyak dunia saat ini masih berada dalam batas kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk menyerap dampak kenaikan harga energi.
Penilaian tersebut menjadi dasar keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi pada level saat ini.
Data pasar global menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh US$118 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022, melonjak drastis dibandingkan rata-rata Januari 2026 yang hanya sekitar US$64 per barel.
Sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat sekitar US$57,87 per barel pada periode yang sama.
Keputusan mempertahankan harga BBM bersubsidi memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
BBM seperti Pertalite berpengaruh langsung terhadap biaya logistik, inflasi, dan harga kebutuhan pokok, faktor yang semakin krusial menjelang lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran.
Dalam beberapa periode sebelumnya, kenaikan harga minyak global kerap memaksa pemerintah menyesuaikan harga BBM subsidi demi menjaga stabilitas fiskal.
Namun kali ini pemerintah menilai kondisi APBN masih mampu menahan tekanan tersebut, setidaknya untuk saat ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi