Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pedagang Blewah di Banyuwangi Raup Berkah Ramadan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 24 Februari 2026 | 10:00 WIB

DAGANGAN MUSIMAN: Pedagang buah blewah dan timun suri menjajakan dagangan di pasar Banyuwangi, Senin (23/2).
DAGANGAN MUSIMAN: Pedagang buah blewah dan timun suri menjajakan dagangan di pasar Banyuwangi, Senin (23/2).

RADARBANYUWANGI.ID - Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para pedagang buah blewah dan timun suri di Banyuwangi. Pedagang musiman yang “hanya” beroperasi menjelang dan bulan Ramadan ini “diserbu” pembeli.

Maklum, blewah maupun timun suri memang memang identik sebagai bahan minuman segar untuk berbuka puasa.

Pantauan wartawan Radar Banyuwangi Senin (23/2), lapak pedagang blewah dan timun suri menjamur di Pasar Blambangan maupun Pasar Banyuwangi.

Photo
Photo

Para pembeli terlihat silih berganti mendatangi lapak untuk membeli blewah maupun timun suri.

Zainuri, pedagang blewah dan timun suri di Pasar Banyuwangi, mengaku dirinya hanya berjualan kedua buah tersebut saat Ramadan

. Menurutnya, kegemaran masyarakat berbuka dengan minuman segar membuat permintaan blewah dan timun suri selalu meningkat setiap bulan puasa.

“Saya memang hanya jualan blewah dan timun suri saat Ramadan. Sudah jadi tradisi, pasti banyak yang mencari untuk minuman berbuka,” ujar pria asal Desa Kemiren, Kecamatan Glagah tersebut.

Zainuri menambahkan, buah yang dijual merupakan hasil panen dari kebunnya sendiri di Desa Kemiren.

Masa tanam blewah dan timun suri relatif singkat, sekitar 60 hari, hampir sama dengan semangka.

“Saya tanam sendiri di kebun saya. Sekitar dua bulan sudah panen,” katanya.

Untuk memenuhi permintaan buah blewah dan timun suri, Zainuri rata-rata menyetok hingga satu kuintal per hari.

Meski begitu, ia mengaku pendapatan tahun ini mengalami penurunan dibanding dua tahun lalu.

“Pendapatan kotor sekitar Rp 500 ribu per hari. Ini turun dibanding dua tahun lalu sejak Pasar Banyuwangi dipindahkan. Biasanya saya bisa meraih omzet Rp 1 Juta per hari,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan Aspirah, pedagang blewah dan timun suri lainnya di Pasar Banyuwangi. Ia juga hanya berjualan saat Ramadan karena tingginya minat masyarakat.

Aspirah menjual blewah dan timun suri sekitar Rp 10 ribu per kilogram. Ia mengatakan harga dapat berubah sesuai kondisi cuaca.

“Kalau sekarang cuaca mendung, harganya normal. Tapi saat musim panas bisa naik menjadi Rp 12.500 hingga Rp 15 ribu per kilogram karena permintaan yang semakin meningkat,” katanya.

Sementara itu, Wardah, salah satu pembeli di Pasar Banyuwangi, mengaku es blewah menjadi menu wajib saat berbuka.

“Kalau Ramadan rasanya kurang lengkap tanpa es blewah. Sudah identik dengan bulan puasa,” pungkasnya. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Pedagang Blewah #ramadan #banyuwangi