Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Festival Ngerandu Buko Banyuwangi 2026 Resmi Dibuka, Pasar Takjil Pantai Boom Diserbu Warga di Hari Pertama Ramadan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 20 Februari 2026 | 05:45 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Pemimpin Cabang Bank Jatim Banyuwangi Ni Gusti Ayu Putu Sri Lestari membeli takjil di stand Festival Ngerandu Buko di kawasan Marina Boom, petang Kamis (19/2).
Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi Pemimpin Cabang Bank Jatim Banyuwangi Ni Gusti Ayu Putu Sri Lestari membeli takjil di stand Festival Ngerandu Buko di kawasan Marina Boom, petang Kamis (19/2).

RADARBANYUWANGI.ID – Hari pertama Ramadan di Banyuwangi berlangsung semarak, Kamis (19/2). Sejumlah pasar takjil mulai dibuka di berbagai kecamatan di Bumi Blambangan.

Salah satu yang paling ramai adalah Pasar Takjil di kawasan Pantai Marina Boom yang dikemas dalam Festival Ngerandu Buko.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir langsung membuka gelaran tersebut bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Kehadiran orang nomor satu di Banyuwangi itu menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan Ramadan yang tidak hanya bernuansa religi, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

Puluhan lapak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berjejer rapi di sepanjang area Pantai Boom. Beragam menu takjil ditawarkan, mulai dari kolak, es buah, jajanan tradisional, hingga makanan kekinian yang digemari anak muda.

Photo
Photo

Fasilitasi Warga Ngabuburit, Perkuat Tradisi Kebersamaan

Dalam sambutannya, Ipuk mengatakan Festival Ngerandu Buko bertujuan memfasilitasi masyarakat untuk ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa. Kawasan Pantai Boom dipilih karena memiliki daya tarik wisata sekaligus ruang publik yang luas dan nyaman bagi keluarga.

“Kegiatan Ngerandu Buko ini kita selenggarakan untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin ngabuburit. Ini juga merupakan bagian dari tradisi di mana ada kebersamaan, tidak memandang apa pun serta memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari takjil untuk berbuka nanti dan menyemarakkan Ramadan,” ujarnya.

Ipuk menegaskan, esensi dari Ngerandu Buko adalah kebersamaan. Ramadan menjadi momentum mempererat silaturahmi lintas lapisan masyarakat, sekaligus menghidupkan ruang-ruang publik dengan kegiatan positif.

Dorong UMKM dan Putar Roda Ekonomi

Selain bernilai sosial dan budaya, Festival Ngerandu Buko juga berdampak langsung terhadap perekonomian warga. Ratusan pelaku UMKM dilibatkan dalam pasar takjil yang tersebar di berbagai kecamatan di Banyuwangi.

“Esensi dari Ngerandu Buko sendiri adalah kebersamaan. Di sini pelaku UMKM bergerak, roda ekonomi berputar, dan budaya juga kita tampilkan,” jelas Ipuk.

Pada kesempatan tersebut, Ipuk juga menyapa pelaku UMKM di sejumlah pasar takjil di kecamatan lain secara daring. Melalui sambungan virtual itu, ia memastikan pelaksanaan pasar takjil berjalan tertib, aman, dan ramai pengunjung.

Ia juga mengapresiasi peran camat dan panitia di tingkat kecamatan yang telah menyiapkan pasar takjil selama Ramadan. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, kecamatan, dan masyarakat menjadi kunci suksesnya kegiatan tersebut.

Bagian dari Banyuwangi Attraction 2026

Festival Ngerandu Buko bukan sekadar agenda tahunan Ramadan. Kegiatan ini menjadi salah satu event rutin dalam balutan kalender pariwisata daerah yang sebelumnya dikenal sebagai Banyuwangi Festival (B-Fest).

Kini, B-Fest bertransformasi menjadi Banyuwangi Attraction 2026 dengan total 86 event sepanjang tahun.

“Kita meluncurkan sebuah kegiatan yang rutin kita lakukan. Ini merupakan transformasi dari Banyuwangi Festival menjadi Banyuwangi Attraction dengan 86 event dalam tahun ini,” pungkas Ipuk.

Transformasi tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan nasional, sekaligus menjaga denyut ekonomi kreatif dan UMKM lokal.

Warga dan Pedagang Rasakan Manfaat

Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Warga memadati kawasan Pantai Boom untuk menikmati suasana ngabuburit sambil berburu takjil.

Salah satu pengunjung, Wiwit, mengaku terbantu dengan adanya festival tersebut. Ia menilai masyarakat lebih mudah mendapatkan pilihan takjil yang beragam dalam satu lokasi.

“Ya, adanya acara seperti ini memudahkan masyarakat untuk mencari takjil yang beragam menjelang berbuka,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Arya, pelaku UMKM yang menjual dimsum. Ia mengaku dagangannya cukup laris pada hari pertama Ramadan.

“Ini pertama kali buka di sini. Dalam beberapa jam saja saya mendapatkan omzet kotor sekitar Rp 200 ribu. Semoga ke depan terus ramai,” harapnya.

Dengan semaraknya hari pertama Ramadan melalui Festival Ngerandu Buko di Pantai Boom, Banyuwangi kembali menunjukkan kekuatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Ramadan tak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga ruang menggerakkan ekonomi, memperkuat budaya, dan menumbuhkan kebersamaan di Bumi Blambangan. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#pasar takjil #bupati ipuk #pantai boom #hari pertama ramadan #ngerandu buko #banyuwangi