RADARBANYUWANGI.ID - Nama Warren Buffett identik dengan pendekatan value investing—strategi yang menekankan fundamental kuat, produktivitas aset, serta arus kas jangka panjang.
Pendiri dan mantan CEO Berkshire Hathaway itu dikenal konsisten menghindari aset yang dinilai tidak menghasilkan nilai tambah.
Dalam berbagai kesempatan, Buffett secara terbuka mengkritik emas. Namun menariknya, sejarah mencatat ia pernah mengambil posisi besar di perak pada akhir 1990-an.
Langkah tersebut memicu perdebatan: mengapa Buffett keras terhadap emas, tetapi justru berani memborong ratusan juta ounce perak?
Kritik Buffett terhadap Emas: “Tidak Menghasilkan Apa-apa”
Pandangan Buffett tentang emas terdokumentasi jelas dalam surat tahunan kepada pemegang saham Berkshire Hathaway tahun 2011.
Dalam surat tersebut, ia mengelompokkan emas sebagai aset tidak produktif.
“Aset utama dalam kategori ini adalah emas, yang saat ini menjadi favorit para investor yang takut akan hampir semua aset lainnya. Jika Anda memiliki satu ons emas untuk selamanya, Anda akan tetap memiliki satu ons emas pada akhirnya,” tulisnya.
Menurut Buffett, emas tidak menciptakan arus kas, tidak berkembang biak, dan tidak menghasilkan nilai tambah seperti lahan pertanian atau bisnis produktif.
Dalam wawancara dengan CNBC pada 2011, ia bahkan menyebut emas lebih banyak dibeli saat rasa takut melanda pasar.
Pernyataan tersebut menegaskan filosofi investasinya: aset ideal adalah yang mampu memproduksi pendapatan dan bertumbuh dari waktu ke waktu, bukan sekadar disimpan.
Beralih ke Perak: Langkah Mengejutkan di Akhir 1990-an
Meski keras terhadap emas, Buffett justru mengambil langkah signifikan di pasar perak. Pada periode 1997–1998, Berkshire Hathaway membeli sekitar 129,7 juta ounce perak.
Informasi ini dilaporkan oleh The Wall Street Journal pada akhir 1990-an. Pembelian dilakukan antara Juli 1997 hingga awal 1998, menjadikan Berkshire salah satu pemegang perak terbesar saat itu.
Langkah ini mengejutkan pasar karena skalanya sangat besar. Saat itu, harga perak relatif rendah dan cadangan bullion global disebut mengalami penurunan.
Sejumlah analis menilai aksi tersebut sebagai taruhan terhadap ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.
Investasi tersebut terbukti menguntungkan ketika harga perak naik pada tahun-tahun berikutnya, meskipun Berkshire akhirnya melepas kepemilikannya.
Faktor Fundamental: Perak Punya Utilitas Industri
Perbedaan utama emas dan perak terletak pada struktur permintaannya. Emas sebagian besar berfungsi sebagai penyimpan nilai (store of value) dan perhiasan. Sementara itu, perak memiliki penggunaan industri yang luas.
Perak digunakan dalam komponen elektronik, konduktor listrik, panel surya (fotovoltaik), otomotif, hingga perangkat medis.
Karakter ini membuat permintaan perak tidak hanya bergantung pada sentimen investor, tetapi juga pertumbuhan industri global.
Laporan World Silver Survey 2025 yang dirilis Silver Institute mencatat produksi tambang global pada 2024 mencapai 819,7 juta ounce, naik sekitar 0,9 persen secara tahunan.
Pada saat yang sama, permintaan industri mencetak rekor, terutama didorong sektor energi surya dan elektronik.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar perak bahkan disebut mengalami defisit ketika permintaan industri melampaui pasokan tambang dan daur ulang.
Struktur permintaan ganda—sebagai logam mulia dan logam industri—membuat dinamika harga perak berbeda dibanding emas.
Safe Haven vs Logam Industri
Harga emas cenderung dipengaruhi ketidakpastian geopolitik, inflasi, suku bunga, serta permintaan bank sentral. Ketika ketegangan global meningkat, emas menguat sebagai aset safe haven.
Sebaliknya, perak mencerminkan kombinasi sentimen investasi dan kondisi ekonomi riil. Ketika industri berkembang, permintaan perak ikut meningkat.
Karakter inilah yang dinilai sejalan dengan pendekatan fundamental Buffett. Ketika ia membeli perak pada akhir 1990-an, keputusan itu didasari analisis pasokan-permintaan, bukan sekadar sentimen ketakutan pasar.
Filosofi Buffett: Aset Produktif Lebih Menarik
Dalam berbagai surat tahunannya, Buffett kerap membandingkan emas dengan lahan pertanian atau perusahaan produktif.
Aset produktif, menurutnya, akan menghasilkan arus kas, menciptakan lapangan kerja, dan menambah nilai ekonomi.
Preferensi terhadap perak pada periode tertentu dinilai lebih dekat dengan logika tersebut, karena permintaannya berkaitan langsung dengan aktivitas industri.
Meski demikian, Buffett tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa perak selalu lebih unggul dibanding emas. Kritiknya lebih banyak diarahkan pada karakter emas sebagai aset yang tidak produktif.
Namun sejarah pembelian besar perak oleh Berkshire Hathaway menunjukkan satu hal: bahkan investor legendaris seperti Buffett tetap membuka peluang pada logam mulia—selama fundamentalnya mendukung.
Bagi investor, pelajaran terpenting bukan sekadar memilih emas atau perak, melainkan memahami karakter aset, sumber permintaan, serta nilai intrinsiknya dalam jangka panjang. (*)
Editor : Ali Sodiqin