Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Diproyeksi Menguat Terbatas di Tengah Penantian Keputusan BI

Lugas Rumpakaadi
Penulis: Lugas Rumpakaadi❯
Pergerakan rupiah diperkirakan cenderung menguat terbatas. Hasil RDG Bank Indonesia pada 18–19 Agustus 2026 menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah nilai tukar dalam perdagangan berikutnya. (Wikimedia Commons/Rochelimit)
Pergerakan rupiah diperkirakan cenderung menguat terbatas. Hasil RDG Bank Indonesia pada 18–19 Agustus 2026 menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah nilai tukar dalam perdagangan berikutnya. (Wikimedia Commons/Rochelimit)

Advertisement

RADAR BANYUWANGI - Pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat. Sentimen domestik dinilai relatif positif, sementara pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi katalis eksternal.

Namun, pasar keuangan masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung 18–19 Agustus 2026. Arah kebijakan suku bunga acuan menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pasar memperkirakan BI-Rate masih bertahan di level 5,75 persen. Keputusan tersebut sekaligus menjadi salah satu penentu arah rupiah setelah hasil RDG diumumkan.

Advertisement

“Perhatian utama tertuju pada arah kebijakan BI-Rate yang diperkirakan tetap di level 5,75 persen,” kata Amru, Selasa (18/8), dikutip Antara.

Di dalam negeri, kebijakan BI juga diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. Pelonggaran likuiditas perbankan terus didorong agar penyaluran kredit meningkat, sehingga dapat menopang konsumsi dan aktivitas ekonomi.

Di saat bersamaan, bank sentral tetap menghadapi tantangan menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Karena itu, sinyal kebijakan yang keluar dari RDG BI akan menjadi perhatian pasar, terutama terkait langkah untuk menjaga stabilitas rupiah.

Advertisement

Dari pasar global, tekanan terhadap rupiah sedikit mereda seiring melemahnya dolar AS. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September juga menurun setelah sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan tanda perlambatan.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah penjualan ritel dan layanan makanan AS. Mengutip Anadolu, indikator tersebut turun 0,6 persen secara bulanan pada Juli 2026. Angka itu berbalik dari pertumbuhan 0,2 persen pada Juni dan menjadi penurunan pertama sejak Oktober 2025.

Kondisi pasar tenaga kerja AS juga menunjukkan perlambatan. Jumlah lapangan kerja sektor nonpertanian atau nonfarm payrolls berkurang 23 ribu pada Juli. Sementara tingkat pengangguran tercatat 4,1 persen.

Data tersebut mengurangi tekanan terhadap dolar AS. Dampaknya, rupiah memperoleh ruang untuk bergerak lebih positif. Meski demikian, penguatan mata uang Garuda diperkirakan belum akan terlalu besar karena masih dibayangi sejumlah risiko eksternal.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rupiah Menguat, Investor Sambut Target Ekonomi 6 Persen

Rupiah Menguat, Investor Sambut Target Ekonomi 6 Persen

Rupiah menguat 50 poin ke Rp17.827 per dolar AS setelah pasar merespons positif pidato RAPBN 2027 Prabowo, dengan target pertumbuhan 6 persen dan defisit 2,4 persen PDB.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp17.825-Rp17.950 per Dolar AS, Sentimen PPI AS dan RAPBN 2027 Jadi Penentu

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp17.825-Rp17.950 per Dolar AS, Sentimen PPI AS dan RAPBN 2027 Jadi Penentu

Rupiah menguat tipis ke Rp17.873 per dolar AS pada pembukaan Jumat, ditopang PPI AS yang lebih rendah dari perkiraan. Pasar juga mencermati pidato Presiden Prabowo dan RAPBN 2027, dalam perdagangan Jumat ini, dan global.

Kurs Rupiah Kamis 13 Agustus 2026 Stabil di Rp17.877 per Dolar AS, MSCI Jadi Sorotan dan Pasar Pantau Calon Deputi Gubernur BI

Kurs Rupiah Kamis 13 Agustus 2026 Stabil di Rp17.877 per Dolar AS, MSCI Jadi Sorotan dan Pasar Pantau Calon Deputi Gubernur BI

Rupiah ditutup stabil di Rp17.877 per dolar AS pada Kamis. Euforia MSCI mulai mereda, sementara pasar mencermati calon pejabat BI dan perkembangan konflik Timur Tengah serta harga minyak.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer