alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Dampak PPKM, Petani Hidroponik Mengeluh Omset Terus Menurun

RadarBanyuwangi.id – PPKM darurat yang masih terus diperpanjang dikeluhkan sejumlah petani hidroponik di Situbondo. Sebab, permintaan konsumen menurun drastis, akibat pandemi yang tak kunjung usai.

Hal itu disampaikan Syamsul Arifin, petani selada asal Desa Talkandang, Kecamatan Situbondo. Pria yang masih lajang tersebut mengatakan, sayur selada sebenarnya memiliki pangsa pasar yang baik. Namun, karena PPKM, kemudian berdampak terhadap pemintaan konsumen.

“Sebelum pandemi, permintaan sayur selada mencapai 15 sampai 20 kg perharinya. Pesanan tersebut pemilik usaha cafe dan rumah makan/restoran. Itu belum yang dikirim ke pasar lokal. Jadi perharinya bisa panen 40 kg sayur selada. Namun sejak pandemi mewabah, permintaan hanya berkisar tujuh sampai sepuluh kg perharinya,”

Syamsul mengaku, dirinya menggeluti usaha tersebut sejak tahun 2019. Dia bersyukur usahanya tetap berjalan, meski di tengah gempuran pandemi Covid-19.

Ahmadi, petani hidroponik lainnya menuturkan, pandemi covid 19 dan perpanjangan PPKM sangat berdampak terhadap sektor perekonomian dan permintaan pasar. Hal itu juga berpengaruh terhadap produksi usahanya. “Pandemi tentu berdampak, maka kami mengurangi jumlah tanaman, karena permintaan pasar berkurang,”tuturnya

Dia menerangkan, masa tanam hidroponik jenis sayuran selada hanya membutuhkan waktu 30 hingga 40 hari untuk di panen. Dan harganya pun relatif mahal. “Harganya 28 ribu perkg, jadi setiap kali panen biasanya mendapatkan penghasilan sebesar 2 juta, namun akibat pandemi, penghasilan sangat minim,” terangnya. (jon/pri)

RadarBanyuwangi.id – PPKM darurat yang masih terus diperpanjang dikeluhkan sejumlah petani hidroponik di Situbondo. Sebab, permintaan konsumen menurun drastis, akibat pandemi yang tak kunjung usai.

Hal itu disampaikan Syamsul Arifin, petani selada asal Desa Talkandang, Kecamatan Situbondo. Pria yang masih lajang tersebut mengatakan, sayur selada sebenarnya memiliki pangsa pasar yang baik. Namun, karena PPKM, kemudian berdampak terhadap pemintaan konsumen.

“Sebelum pandemi, permintaan sayur selada mencapai 15 sampai 20 kg perharinya. Pesanan tersebut pemilik usaha cafe dan rumah makan/restoran. Itu belum yang dikirim ke pasar lokal. Jadi perharinya bisa panen 40 kg sayur selada. Namun sejak pandemi mewabah, permintaan hanya berkisar tujuh sampai sepuluh kg perharinya,”

Syamsul mengaku, dirinya menggeluti usaha tersebut sejak tahun 2019. Dia bersyukur usahanya tetap berjalan, meski di tengah gempuran pandemi Covid-19.

Ahmadi, petani hidroponik lainnya menuturkan, pandemi covid 19 dan perpanjangan PPKM sangat berdampak terhadap sektor perekonomian dan permintaan pasar. Hal itu juga berpengaruh terhadap produksi usahanya. “Pandemi tentu berdampak, maka kami mengurangi jumlah tanaman, karena permintaan pasar berkurang,”tuturnya

Dia menerangkan, masa tanam hidroponik jenis sayuran selada hanya membutuhkan waktu 30 hingga 40 hari untuk di panen. Dan harganya pun relatif mahal. “Harganya 28 ribu perkg, jadi setiap kali panen biasanya mendapatkan penghasilan sebesar 2 juta, namun akibat pandemi, penghasilan sangat minim,” terangnya. (jon/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/