alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Harga Cabai Melambung, Petani Raup Untung

RADAR BANYUWANGI – Kenaikan harga cabai rawit cukup menguntungkan petani yang selama pandemi Covid-19 banyak menanggung rugi. Di pasaran, harga cabai rawit berada di kisaran Rp 85 ribu–Rp 88 ribu. Sebelumnya, harga cabai rawit bahkan sempat menyentuh Rp 100 ribu per kilogramnya.

Kegagalan panen cabai semasa pandemi Covid-19 terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya jatuhnya harga cabai di pasaran dan cuaca ekstrem selama dua tahun belakangan. ”Selama pandemi Covod-19, petani gagal panen. Hampir 90 persen petani merugi. Selain diakibatkan Covid-19, juga faktor cuaca yang ekstrem,” ujar Ketua Asosiasi Agrobis Cabai Indonesia (AACI) Banyuwangi Nanang Triatmoko.

Saat ini harga cabai meningkat tajam. Kenaikan ini sangat dirasakan oleh petani. Harga dari petani ke tingkat pedagang hanya selisih Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu. ”Kondisi ini bisa dirasakan oleh petani. Sebenarnya pedagang cabai suka dengan harga standar karena untungnya sama,” kata Nanang.

Banyuwangi sebagai sentra cabai nasional, menurut Nanang, sudah memiliki tata niaga yang baik bagi para petani. Permainan harga oleh pedagang tidak bisa dilakukan semaunya. ”Tidak bisa semaunya. Misalnya seminggu lalu sekilo harga cabai besar Rp 50 ribu. Kalau di pedagang hanya Rp 53 ribu. Cabai rawit Rp 70 ribu, kalau di pedagang Rp 72 ribu,” tambahnya.

Keuntungan menanam cabai yang dirasakan petani tak lepas dari pembinaan Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi. Pembinaan terus dilakukan dengan cara memberikan informasi tepat tentang rencana musim tanam. ”Dinas Pertanian selalu memberikan pembinaan yang tepat. Ditambah lagi dengan bantuan yang diberikan pada tahun lalu menjadi semangat untuk  merawat cabai,” jelasnya.

Di Jawa Timur terdapat beberapa sentra tanaman cabai. Baik cabai merah besar maupun rawit. Selain Banyuwangi, sentra lainnya yakni Blitar, Kediri, Lamongan, Tuban, Jember, dan Bojonegoro. Sebagian besar di daerah itu mengalami gagal panen. ”Satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak putus menanam cabai ya Banyuwangi. Luas lahan yang ditanami cabai 4.000 hektare (ha). Kalaupun tidak musim tanam, rata-rata per bulan ada 1.000 ha lahan ditanami cabai,” kata Nanang.

Data yang dilansir AACI, rata-rata tanaman cabai di beberapa daerah pemasok cabai antara 500 ha hingga 1.500 ha. Di Jember, musim tanam cabai pada bulan April, Mei, dan Juni dengan luas 1.500 hektare. Kabupaten Kediri pada bulan September dan Oktober luas lahan yang ditanami cabai antara 700 ha hingga 1.000 ha. Kabupaten Gresik pada bulan November dan Desember dengan luas lahan mencapai 700 sampai 1.000 ha. ”Kalau Banyuwangi sepanjang tahun. Luas lahannya 1.000 ha. Kalau yang hampir sama dengan Banyuwangi adalah Bojonegoro. Jumlah luasan tanaman antara 100 ha sampai 200 ha,” tegasnya.

Kepala Bidang Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi Ilham Juanda membenarkan kenaikan harga cabai bisa dinikmati langsung oleh petani. ”Saat ini sebagian besar petani di Banyuwangi mendapatkan untung besar. Sehingga bisa mengembalikan modal tahun lalu yang mereka anggap sepi,” tambahnya.

Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, luasan tanaman cabai besar di Banyuwangi 466 ha. Sementara cabai rawit mencapai 3.215 ha. Dari luasan tanaman cabai tersebut, 313 ha cabai besar dan 3.215 ha cabai kecil yang sudah panen. ”Produksi cabai besar di Banyuwangi mencapai 2.504 ton dan 17.922 ton cabai rawit. Tentu ini memberikan semangat bagi petani dalam menanam cabai. Dinas Pertanian dan Pangan akan terus memberikan perhatian khusus untuk tanaman cabai petani,” terangnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, harga cabai rawit di Banyuwangi berada di kisaran antara Rp 82 ribu hingga Rp 88 ribu per kilogramnya. Salah seorang pedagang cabai di Singojuruh, Sulaikanah mengaku, dia mengambil cabai rawit dari pengepul dengan harga Rp 80 ribu per kilogram. Sedangkan untuk cabai merah besar sekitar Rp 79 ribu.

Sulaikanah mengaku menjual antara Rp 82 ribu hingga Rp 83 ribu. Fluktuasi harga cabai sudah terjadi sejak bulan Ramadan. Harganya terus terkerek jelang Hari Raya Idul Fitri. ”Harga cabai naik-turun, tapi masih mahal. Pernah menyentuh harga Rp 100 ribu, pernah juga Rp 110 ribu. Kalau selisih harga cabai merah dan rawit tipis, paling hanya Rp 1.000,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Kenaikan harga cabai rawit cukup menguntungkan petani yang selama pandemi Covid-19 banyak menanggung rugi. Di pasaran, harga cabai rawit berada di kisaran Rp 85 ribu–Rp 88 ribu. Sebelumnya, harga cabai rawit bahkan sempat menyentuh Rp 100 ribu per kilogramnya.

Kegagalan panen cabai semasa pandemi Covid-19 terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya jatuhnya harga cabai di pasaran dan cuaca ekstrem selama dua tahun belakangan. ”Selama pandemi Covod-19, petani gagal panen. Hampir 90 persen petani merugi. Selain diakibatkan Covid-19, juga faktor cuaca yang ekstrem,” ujar Ketua Asosiasi Agrobis Cabai Indonesia (AACI) Banyuwangi Nanang Triatmoko.

Saat ini harga cabai meningkat tajam. Kenaikan ini sangat dirasakan oleh petani. Harga dari petani ke tingkat pedagang hanya selisih Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu. ”Kondisi ini bisa dirasakan oleh petani. Sebenarnya pedagang cabai suka dengan harga standar karena untungnya sama,” kata Nanang.

Banyuwangi sebagai sentra cabai nasional, menurut Nanang, sudah memiliki tata niaga yang baik bagi para petani. Permainan harga oleh pedagang tidak bisa dilakukan semaunya. ”Tidak bisa semaunya. Misalnya seminggu lalu sekilo harga cabai besar Rp 50 ribu. Kalau di pedagang hanya Rp 53 ribu. Cabai rawit Rp 70 ribu, kalau di pedagang Rp 72 ribu,” tambahnya.

Keuntungan menanam cabai yang dirasakan petani tak lepas dari pembinaan Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi. Pembinaan terus dilakukan dengan cara memberikan informasi tepat tentang rencana musim tanam. ”Dinas Pertanian selalu memberikan pembinaan yang tepat. Ditambah lagi dengan bantuan yang diberikan pada tahun lalu menjadi semangat untuk  merawat cabai,” jelasnya.

Di Jawa Timur terdapat beberapa sentra tanaman cabai. Baik cabai merah besar maupun rawit. Selain Banyuwangi, sentra lainnya yakni Blitar, Kediri, Lamongan, Tuban, Jember, dan Bojonegoro. Sebagian besar di daerah itu mengalami gagal panen. ”Satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak putus menanam cabai ya Banyuwangi. Luas lahan yang ditanami cabai 4.000 hektare (ha). Kalaupun tidak musim tanam, rata-rata per bulan ada 1.000 ha lahan ditanami cabai,” kata Nanang.

Data yang dilansir AACI, rata-rata tanaman cabai di beberapa daerah pemasok cabai antara 500 ha hingga 1.500 ha. Di Jember, musim tanam cabai pada bulan April, Mei, dan Juni dengan luas 1.500 hektare. Kabupaten Kediri pada bulan September dan Oktober luas lahan yang ditanami cabai antara 700 ha hingga 1.000 ha. Kabupaten Gresik pada bulan November dan Desember dengan luas lahan mencapai 700 sampai 1.000 ha. ”Kalau Banyuwangi sepanjang tahun. Luas lahannya 1.000 ha. Kalau yang hampir sama dengan Banyuwangi adalah Bojonegoro. Jumlah luasan tanaman antara 100 ha sampai 200 ha,” tegasnya.

Kepala Bidang Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi Ilham Juanda membenarkan kenaikan harga cabai bisa dinikmati langsung oleh petani. ”Saat ini sebagian besar petani di Banyuwangi mendapatkan untung besar. Sehingga bisa mengembalikan modal tahun lalu yang mereka anggap sepi,” tambahnya.

Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, luasan tanaman cabai besar di Banyuwangi 466 ha. Sementara cabai rawit mencapai 3.215 ha. Dari luasan tanaman cabai tersebut, 313 ha cabai besar dan 3.215 ha cabai kecil yang sudah panen. ”Produksi cabai besar di Banyuwangi mencapai 2.504 ton dan 17.922 ton cabai rawit. Tentu ini memberikan semangat bagi petani dalam menanam cabai. Dinas Pertanian dan Pangan akan terus memberikan perhatian khusus untuk tanaman cabai petani,” terangnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, harga cabai rawit di Banyuwangi berada di kisaran antara Rp 82 ribu hingga Rp 88 ribu per kilogramnya. Salah seorang pedagang cabai di Singojuruh, Sulaikanah mengaku, dia mengambil cabai rawit dari pengepul dengan harga Rp 80 ribu per kilogram. Sedangkan untuk cabai merah besar sekitar Rp 79 ribu.

Sulaikanah mengaku menjual antara Rp 82 ribu hingga Rp 83 ribu. Fluktuasi harga cabai sudah terjadi sejak bulan Ramadan. Harganya terus terkerek jelang Hari Raya Idul Fitri. ”Harga cabai naik-turun, tapi masih mahal. Pernah menyentuh harga Rp 100 ribu, pernah juga Rp 110 ribu. Kalau selisih harga cabai merah dan rawit tipis, paling hanya Rp 1.000,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/