alexametrics
23.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Gantikan Minyak Goreng, Bawang Merah Jadi Pemicu Utama Inflasi Mei

RADAR BANYUWANGI – Perkembangan harga komoditas secara umum di Banyuwangi kembali mengalami peningkatan. Kali ini, tepatnya pada periode Mei, kabupaten the Sunrise of Java mengalami inflasi sebesar 0,49 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi melansir, inflasi periode Mei terutama dipicu kenaikan harga bawang merah. Komoditas utama penyumbang inflasi tersebut berbeda dibanding dua bulan sebelumnya. Pada Maret dan April pemicu utama inflasi adalah minyak goreng.

Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi mengatakan, bawang merah memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,14 persen. Selain itu, beberapa komoditas makanan lain juga menyumbang inflasi, di antaranya ikan tongkol dan telur ayam ras masing-masing sebesar 0,07 persen, ikan lemuru dan ikan mernying masing-masing sebesar 0,06 persen, dan ayam hidup sebesar 0,04 persen.

”Selain dari kelompok bahan makanan, inflasi pada Mei juga dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara sebagai dampak diperbolehkannya mudik pada Lebaran tahun ini,” ujar Tri.

Sementara itu, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga berpotensi meredam inflasi alias menyumbang deflasi. Komoditas dimaksud antara lain daging ayam ras yang memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen, emas perhiasan sebesar 0,03 persen, dan bawang putih sebesar 0,02 persen.

Menariknya, setelah dua bulan berturut-turut menjadi pemicu utama inflasi, minyak goreng justru menjadi penyumbang deflasi pada periode Mei, yakni sebesar 0,04 persen. ”Penurunan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh harga emas dunia, sedangkan penurunan harga minyak goreng sebagian besar masih dipengaruhi kebijakan pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas harga,” tutur Tri.

Tri menambahkan, dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, seluruhnya mengalami inflasi pada Mei lalu. Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep (1,1 persen), posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati Madiun (0,58 persen) dan Jember (0,52 persen).

Malang menempati urutan keempat kota dengan inflasi tertinggi di Jatim periode Mei, yakni sebesar 0,51 persen. Sedangkan Banyuwangi dan Surabaya sama-sama mengalami inflasi sebesar 0,49 persen. Posisi ketujuh ditempati Probolinggo dengan inflasi sebesar 0,47 persen dan posisi terendah terjadi di Kediri dengan inflasi sebesar 0,08 persen. (sgt/afi/c1)

RADAR BANYUWANGI – Perkembangan harga komoditas secara umum di Banyuwangi kembali mengalami peningkatan. Kali ini, tepatnya pada periode Mei, kabupaten the Sunrise of Java mengalami inflasi sebesar 0,49 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi melansir, inflasi periode Mei terutama dipicu kenaikan harga bawang merah. Komoditas utama penyumbang inflasi tersebut berbeda dibanding dua bulan sebelumnya. Pada Maret dan April pemicu utama inflasi adalah minyak goreng.

Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi mengatakan, bawang merah memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,14 persen. Selain itu, beberapa komoditas makanan lain juga menyumbang inflasi, di antaranya ikan tongkol dan telur ayam ras masing-masing sebesar 0,07 persen, ikan lemuru dan ikan mernying masing-masing sebesar 0,06 persen, dan ayam hidup sebesar 0,04 persen.

”Selain dari kelompok bahan makanan, inflasi pada Mei juga dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara sebagai dampak diperbolehkannya mudik pada Lebaran tahun ini,” ujar Tri.

Sementara itu, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga berpotensi meredam inflasi alias menyumbang deflasi. Komoditas dimaksud antara lain daging ayam ras yang memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen, emas perhiasan sebesar 0,03 persen, dan bawang putih sebesar 0,02 persen.

Menariknya, setelah dua bulan berturut-turut menjadi pemicu utama inflasi, minyak goreng justru menjadi penyumbang deflasi pada periode Mei, yakni sebesar 0,04 persen. ”Penurunan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh harga emas dunia, sedangkan penurunan harga minyak goreng sebagian besar masih dipengaruhi kebijakan pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas harga,” tutur Tri.

Tri menambahkan, dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, seluruhnya mengalami inflasi pada Mei lalu. Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep (1,1 persen), posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati Madiun (0,58 persen) dan Jember (0,52 persen).

Malang menempati urutan keempat kota dengan inflasi tertinggi di Jatim periode Mei, yakni sebesar 0,51 persen. Sedangkan Banyuwangi dan Surabaya sama-sama mengalami inflasi sebesar 0,49 persen. Posisi ketujuh ditempati Probolinggo dengan inflasi sebesar 0,47 persen dan posisi terendah terjadi di Kediri dengan inflasi sebesar 0,08 persen. (sgt/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Ajur Jum….Sekilo Cuma Sewu

Anggota DPRD Hadang Eksekusi

Wajib Kandangkan Mobil Dinas

Artikel Terbaru

/