alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Cabai Rawit Tempati Ranking 4 Penyumbang Inflasi

RadarBanyuwangi.id – Indeks harga-harga bahan kebutuhan masyarakat di Banyuwangi kembali mengalami peningkatan. Setelah pada Januari dan Februari mengalami inflasi, tren serupa terulang pada periode Maret. Kali ini, inflasi di Banyuwangi tercatat sebesar 0,31 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, inflasi pada Maret dipicu kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya indeks harga tiga kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran dimaksud meliputi kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,66 persen; kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,49 persen; dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,21 persen.

Sedangkan jika dilihat per komoditas, bawang merah memberikan andil terbesar yang memicu inflasi periode Maret. Tepatnya sebesar 0,12 persen. Peringkat kedua ditempati sawi hijau yang menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen, sedangkan terong menduduki ranking tiga penyumbang inflasi, yakni memberikan andil sebesar 0,069 persen.

Menariknya, meski sempat menyedot perhatian banyak warga lantaran harganya naik cukup signifikan beberapa waktu lalu, ternyata cabai rawit ”hanya” menduduki peringkat empat penyumbang inflasi Banyuwangi periode Maret. Komoditas yang satu ini hanya memberikan andil sebesar 0,059 atau tepat berada satu tingkat di atas telur ayam ras yang menyumbang inflasi sebesar 0,032 persen.

Baca Juga :  Jelang Nataru, Harga Cabai Meroket

Kepala Seksi (Kasi) Statistik Distribusi BPS Banyuwangi Mulyono mengatakan, kenaikan harga bawang merah tersebut diduga akibat musim hujan yang menyebabkan berkurangnya hasil panen dan berdampak pada ketersediaan komoditas tersebut. ”Selain bawang merah, tingginya curah hujan juga berdampak pada kenaikan harga beberapa komoditas sayuran, seperti sawi hijau, terong, cabai rawit, dan kangkung,” kata dia.

Di sisi lain, pada periode yang sama empat kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks harga sehingga menekan laju inflasi alias memicu deflasi periode Maret. Empat kelompok pengeluaran pemicu deflasi itu adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,56 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,27 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,07 persen, serta kelompok transportasi dan kelompok kesehatan yang memberikan andil deflasi masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen.

Baca Juga :  Hujan Melanda, Harga Cabai Melonjak

”Sedangkan empat kelompok tidak memberikan andil inflasi maupun deflasi, yakni kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; kelompok pendidikan; kelompok transportasi; dan kelompok kesehatan,” kata Mulyono.

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) di delapan kota di Jatim, berdasar hasil pantauan BPS semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember, yakni 0,45 persen, ranking dua ditempati Banyuwangi dengan tingkat inflasi sebesar 0,31 persen. ”Sedangkan inflasi terendah pada periode Maret terjadi di Surabaya, yakni 0,09 persen,” pungkas Mulyono. 

RadarBanyuwangi.id – Indeks harga-harga bahan kebutuhan masyarakat di Banyuwangi kembali mengalami peningkatan. Setelah pada Januari dan Februari mengalami inflasi, tren serupa terulang pada periode Maret. Kali ini, inflasi di Banyuwangi tercatat sebesar 0,31 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, inflasi pada Maret dipicu kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya indeks harga tiga kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran dimaksud meliputi kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,66 persen; kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,49 persen; dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,21 persen.

Sedangkan jika dilihat per komoditas, bawang merah memberikan andil terbesar yang memicu inflasi periode Maret. Tepatnya sebesar 0,12 persen. Peringkat kedua ditempati sawi hijau yang menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen, sedangkan terong menduduki ranking tiga penyumbang inflasi, yakni memberikan andil sebesar 0,069 persen.

Menariknya, meski sempat menyedot perhatian banyak warga lantaran harganya naik cukup signifikan beberapa waktu lalu, ternyata cabai rawit ”hanya” menduduki peringkat empat penyumbang inflasi Banyuwangi periode Maret. Komoditas yang satu ini hanya memberikan andil sebesar 0,059 atau tepat berada satu tingkat di atas telur ayam ras yang menyumbang inflasi sebesar 0,032 persen.

Baca Juga :  Harga Kebutuhan Pokok Berangsur Turun

Kepala Seksi (Kasi) Statistik Distribusi BPS Banyuwangi Mulyono mengatakan, kenaikan harga bawang merah tersebut diduga akibat musim hujan yang menyebabkan berkurangnya hasil panen dan berdampak pada ketersediaan komoditas tersebut. ”Selain bawang merah, tingginya curah hujan juga berdampak pada kenaikan harga beberapa komoditas sayuran, seperti sawi hijau, terong, cabai rawit, dan kangkung,” kata dia.

Di sisi lain, pada periode yang sama empat kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks harga sehingga menekan laju inflasi alias memicu deflasi periode Maret. Empat kelompok pengeluaran pemicu deflasi itu adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,56 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,27 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,07 persen, serta kelompok transportasi dan kelompok kesehatan yang memberikan andil deflasi masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen.

Baca Juga :  Stok di Petani Melimpah, Harga Bawang Merah Pun Anjlok

”Sedangkan empat kelompok tidak memberikan andil inflasi maupun deflasi, yakni kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; kelompok pendidikan; kelompok transportasi; dan kelompok kesehatan,” kata Mulyono.

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) di delapan kota di Jatim, berdasar hasil pantauan BPS semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember, yakni 0,45 persen, ranking dua ditempati Banyuwangi dengan tingkat inflasi sebesar 0,31 persen. ”Sedangkan inflasi terendah pada periode Maret terjadi di Surabaya, yakni 0,09 persen,” pungkas Mulyono. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/