alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Kerajinan Limbah Kayu Jati Kendit Mampu Ekspor hingga ke Lima Negara

KENDIT, Jawa Pos Radar Situbondo – Kreativitas tanpa batas. itulah motivasi Homaidi, 50, warga Dusun Karanganyar, Desa/Kecamatan Kendit, menekuni profesinya sebagai perajin. Kini produknya pun sudah dikenal hingga ke manca negara.

Suara bising mesin duduk terdengar cukup keras di salah satu rumah warga di Desa/Kecamatan Kendit. Pusat suara itu, ternyata berada di rumah Homaidi, 50 tahun. Sejumlah orang yang berada di rumahnya, cukup disibukkan dengan kayu jati yang sedang ‘disulap’ menjadi bentuk tertentu.

Setidaknya ada 14 orang yang masing-masing dihadapkan dengan mesin putar buatan sendiri. Sembari memegang bongkahan kayu, mereka juga melihat gambar pesanan yang ada di sebelahnya. Pesanannya bervariasi, ada pot bunga, miniatur pesawat, cobek, dan lain-lain. Dalam sehari, satu pekerja bisa memproduksi satu hingga dua produk. “Banyak produk yang sudah dibuat, bahkan ada topi koboy yang terbuat dari kayu. Segala bentuk apapun juga bisa dibuat,” ujar Homaidi.

Usaha tersebut, sudah dilakoni Homaidi selama 24 tahun lalu. Tepatnya pada tahun 1998. “Awalnya iseng, karena melihat banyak limbah kayu jati yang berserakan,” katanya.

Baca Juga :  Wayang Kulit Sukowidi Jadi Simpanan Kolektor di Prancis dan Jerman

Produk awal yang dibuat bapak tiga anak tersebut, berupa pot bunga. Itu langsung dipasarkannya ke Bali. “Saya bawa hasil produknya ke Bali. Ternyata di sana (Bali red.) banyak peminatnya,” cetus Homaidi.

Berhasil menjual produk awalnya, ternyata membuat banyak orderan masuk. Sehingga, harus memperkejakan dua orang warga kampungnya untuk membantu. “Awalnya susah memberikan pembelajaran kepada pekerja, tetapi karena mereka mau belajar, akhirnya bisa membuat produk pot dari kayu,” tuturnya.

Selain memasarkan produknya ke Bali, Homaidi juga belajar membuat segala bentuk produk lainnya berupa garpu, sendok, maupun alat-alat rumah tangga lainnya. Hasilnya kemudian dipasarkan ke sejumlah tempat. Termasuk pasar induk Tegalalang, Gianyar, Bali. “Produk-produk itulah, akhirnya membawa saya harus membuat Usaha Dagang (UD) yang diberi Akar Dewa Jati, dikarenakan kebanjiran order. Serta menyerap tenaga kerja hingga 14 orang,” paparnya.

Baca Juga :  Pasar Cobek Batu Stabil, Bahan Baku Sulit Didapat

Bukan hanya itu, Homaidi juga sukses hingga membuat enam anak cabang usaha yang tersebar di Kabupaten Situbondo. Bahkan, produknya juga sudah eksplor ke lima negara. “Alhamdulillah sudah lima negara yaitu Slovenia, Canada, Myanmar, Prancis dan America. Baru-baru ini, juga sudah ada pesanan masuk dari Jepang,” ungkapnya.

Sejumlah produk kerajinannya yang paling laris, kata Homaidi adalah Cobek. Harganya relatif, mulai dari Rp 50 ribu hingga jutaan. Tergantung tingkat kesulitan produk yang dipesan pembeli. “Mahalnya produknya tersebut dikarenakan terbuat dari limbah akar kayu jati. Sehingga, produknya sangat awet sampai bertahun-tahun,” jelasnya.

Keberhasilannya Homaidi ternyata bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi, ternyata juga untuk membantu adik kandungnya yang bisa menempuh sarjana di Amerika. “Prinsip awal memang hanya untuk membantu membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Saya memiliki prinsip kreatifitas tanpa batas, agar menjadi semangat dalam diri,” pungkasnya. (rio/pri)

KENDIT, Jawa Pos Radar Situbondo – Kreativitas tanpa batas. itulah motivasi Homaidi, 50, warga Dusun Karanganyar, Desa/Kecamatan Kendit, menekuni profesinya sebagai perajin. Kini produknya pun sudah dikenal hingga ke manca negara.

Suara bising mesin duduk terdengar cukup keras di salah satu rumah warga di Desa/Kecamatan Kendit. Pusat suara itu, ternyata berada di rumah Homaidi, 50 tahun. Sejumlah orang yang berada di rumahnya, cukup disibukkan dengan kayu jati yang sedang ‘disulap’ menjadi bentuk tertentu.

Setidaknya ada 14 orang yang masing-masing dihadapkan dengan mesin putar buatan sendiri. Sembari memegang bongkahan kayu, mereka juga melihat gambar pesanan yang ada di sebelahnya. Pesanannya bervariasi, ada pot bunga, miniatur pesawat, cobek, dan lain-lain. Dalam sehari, satu pekerja bisa memproduksi satu hingga dua produk. “Banyak produk yang sudah dibuat, bahkan ada topi koboy yang terbuat dari kayu. Segala bentuk apapun juga bisa dibuat,” ujar Homaidi.

Usaha tersebut, sudah dilakoni Homaidi selama 24 tahun lalu. Tepatnya pada tahun 1998. “Awalnya iseng, karena melihat banyak limbah kayu jati yang berserakan,” katanya.

Baca Juga :  Usaha Kerajinan Gamelan Laris Manis

Produk awal yang dibuat bapak tiga anak tersebut, berupa pot bunga. Itu langsung dipasarkannya ke Bali. “Saya bawa hasil produknya ke Bali. Ternyata di sana (Bali red.) banyak peminatnya,” cetus Homaidi.

Berhasil menjual produk awalnya, ternyata membuat banyak orderan masuk. Sehingga, harus memperkejakan dua orang warga kampungnya untuk membantu. “Awalnya susah memberikan pembelajaran kepada pekerja, tetapi karena mereka mau belajar, akhirnya bisa membuat produk pot dari kayu,” tuturnya.

Selain memasarkan produknya ke Bali, Homaidi juga belajar membuat segala bentuk produk lainnya berupa garpu, sendok, maupun alat-alat rumah tangga lainnya. Hasilnya kemudian dipasarkan ke sejumlah tempat. Termasuk pasar induk Tegalalang, Gianyar, Bali. “Produk-produk itulah, akhirnya membawa saya harus membuat Usaha Dagang (UD) yang diberi Akar Dewa Jati, dikarenakan kebanjiran order. Serta menyerap tenaga kerja hingga 14 orang,” paparnya.

Baca Juga :  Jual Topeng Barong Tembus Luar Jawa

Bukan hanya itu, Homaidi juga sukses hingga membuat enam anak cabang usaha yang tersebar di Kabupaten Situbondo. Bahkan, produknya juga sudah eksplor ke lima negara. “Alhamdulillah sudah lima negara yaitu Slovenia, Canada, Myanmar, Prancis dan America. Baru-baru ini, juga sudah ada pesanan masuk dari Jepang,” ungkapnya.

Sejumlah produk kerajinannya yang paling laris, kata Homaidi adalah Cobek. Harganya relatif, mulai dari Rp 50 ribu hingga jutaan. Tergantung tingkat kesulitan produk yang dipesan pembeli. “Mahalnya produknya tersebut dikarenakan terbuat dari limbah akar kayu jati. Sehingga, produknya sangat awet sampai bertahun-tahun,” jelasnya.

Keberhasilannya Homaidi ternyata bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi, ternyata juga untuk membantu adik kandungnya yang bisa menempuh sarjana di Amerika. “Prinsip awal memang hanya untuk membantu membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Saya memiliki prinsip kreatifitas tanpa batas, agar menjadi semangat dalam diri,” pungkasnya. (rio/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/