Ekspor ikan sidat saat itu diberangkatkan Dirjen Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Agus Suherman. Ada pula, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Perdana, dan dari pabrik PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk, Banyuwangi. “Memang untuk sidat ini pernah ekspor tahun 2019 lalu sebelum pandemi,” ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, Alief Rachman Kartiono.
Banyuwangi dikenal sebagai daerah penghasil sidat kualitas terbaik di Indonesia. Bahkan Banyuwangi dijadikan pilot project taman technology (technopark) pelatihan budidaya sidat dan sebagai inkubator sidat pertama di Indonesia oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2014.Banyuwangi dijadikan pusat pengembangan sidat karena air bakunya berkualitas.
Kementerian pernah mengadakan riset, bahwa per 25 miligram sampel air di Banyuwangi hanya mengandung 10 ribu koloni bakteri. Angka itu jauh lebih kecil dibanding daerah lainnya yang bisa mencapai ratusan ribu koloni bakteri. Sidat menjadi primadona di sejumlah negara karena kandungan protein dan gizinya yang tinggi yang tidak dimiliki jenis ikan yang lain.
Selain dikembangkan oleh perusahaan, sidat juga mulai dikembangkan oleh pembudidaya rakyat. Beberapa tahun lalu, hanya korporasi yang mengembangkan sidat di Banyuwangi. Namun, melihat potensinya, kini kelompok pembudidaya ikan rakyat mulai tertarik mengembangkannya. Saat ini, sudah ada kelompok pembudidaya sidat yang berkembang di Banyuwangi. Pembudidaya rakyat ini juga sudah melakukan ekspor, meskipun masih dalam skala kecil. “Untuk pengembangan sidat memang butuh treatment khusus. Namun kondisi perairan Banyuwangi sendiri sangat mendukung dan harga sidat lebih menjanjikan dibandingkan komoditas perikanan lainnya,” jelas Alief.
Setiap tahun ada perusahaan di Banyuwangi yang mampu mengekspor 120 ton sidat dengan harga 30 dollar AS per kilogram. Setiap tahun pengiriman ikan yang mempunyai nama latin anguilla sp ini meningkat drastis. Jika sebelumnya hanya 106 ton per tahun pada 2014 menjadi 147 ton pada tahun 2019.
Selain ke Jepang, ikan sidat juga diekspor ke Korea dan Arab. Saat ini, perusahaan yang berlokasi di wilayah Banyuwangi utara tersebut mempunyai lahan seluas 47 hektare di wilayah Banyuwangi dan Situbondo. Berbagai produk olahan perikanan Banyuwangi telah dipasarkan ke berbagai negara di benua Amerika, Eropa, Afrika, dan Asia. Khusus untuk sidat, Banyuwangi dipilih menjadi basis pengembangan karena ekosistem perairannya yang sangat mendukung. “Pengembangan sidat sangat tergantung pada kualitas lingkungan, mengingat benihnya hanya bisa dikembangkan secara alami, termasuk proses restocking-nya,” tandas Alief. (ddy/bay) Editor : Rahman Bayu Saksono