Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Frozen Fruit Banyuwangi Tembus Pasar Jakarta

Ali Sodiqin • Jumat, 25 Juni 2021 | 18:00 WIB
frozen-fruit-banyuwangi-tembus-pasar-jakarta
frozen-fruit-banyuwangi-tembus-pasar-jakarta


RadarBanyuwangi.id – Produk hilir pertanian Banyuwangi semakin mendapat tempat di pasar nasional. Salah satunya adalah buah kupas beku (frozen fruit) produksi Banyuwangi yang telah menembus berbagai kota di Tanah Air.



Seperti dilakoni Sucipto yang membuka usaha frozen fruit di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Buah yang dipilih adalah komoditas yang banyak dijumpai di Bumi Blambangan, yakni sirsak. Berbekal modal awal sebesar Rp 150 ribu, kini dia mampu meraup omzet puluhan juta rupiah per bulan.



Sucipto mengatakan, dirinya merintis usaha tersebut sejak 2014. Ide mendirikan usaha itu bermula ketika dirinya melihat potensi sirsak di Banyuwangi cukup berlimpah namun belum tergarap maksimal. ”Awalnya saya sedih melihat buah sirsak ini tidak dimanfaatkan maksimal. Lalu saya survei, ternyata ada sirsak yang sudah masak lalu dibuang karena masyarakat tidak bisa mengolah. Sayang sekali, padahal buah sirsak sangat bermanfaat untuk kesehatan. Lalu terpikir bagaimana memanfaatkannya,” ujarnya kepada Bupati Ipuk Fiestiandani yang bertandang ke lokasi usahanya tersebut beberapa hari lalu. 



Sucipto lantas tergerak untuk memperpanjang usia sirsak, yakni dengan dibekukan. Bermodal Rp150 ribu, dia bertekad memulai usahanya. Dari modal tersebut, kini omzet penjualannya mencapai Rp 50 juta per bulan. ”Dua tahun saya jatuh bangun, Alhamdulillah 2016 mulai banyak peminatnya. Bahkan, saya sampai kewalahan memenuhi permintaan,” kata Sucipto kepada RadarBanyuwangi.id.



Sirsak beku produksi Sucipto telah dipasok ke sejumlah pabrik dan restoran di berbagai kota, seperti Jakarta, Kota Banjar-Jawa Barat (Jabar), Bali, Surabaya, dan Mataram- Nusa Tenggara Barat (NTB). ”Permintaan untuk Jakarta dan Banjar saja mencapai 1,5 ton per minggu. Itu pun hanya bisa kami penuhi 1 ton karena bahan bakunya terbatas,” kata Sucipto.



Sucipto membanderol produknya dengan harga yang kompetitif. ”Hanya Rp 15 ribu per kemasan isi satu kilogram (kg),” kata dia.  



Sucipto bisa memproses sekitar 3 kuintal sirsak matang menjadi 1,5 kuintal sirsak kupas beku per hari. Proses produksi tersebut dibantu 13 karyawan. ”Bahan bakunya saya ambil hanya dari Banyuwangi. Kalau memang stok di sini menipis, saya baru mengambil dari luar daerah. Itu pun jarang karena pelanggan lebih suka sirsak Banyuwangi. Selain rasanya lebih segar, warna daging buahnya juga lebih putih,” ungkapnya.



Tidak hanya sirsak, Sucipto kini mulai memproduksi buah beku lainnya, seperti stroberi, mangga, nangka, dan kedondong. Juga sari markisa dan air jeruk nipis beku. ”Produk kami asli buah segar tanpa pengawet, gula, maupun bahan campuran lain. Sehingga lebih higienis, aman dikonsumsi,” akunya.



Meski sempat terganggu di awal pandemi Covid-19, Sucipto bersyukur usahanya tetap bertahan. ”Di awal pandemi saat restoran dilarang beroperasi, order yang kami terima menurun drastis. Namun seiring kesadaran orang akan kesehatan tubuh, sirsak beku ini tetap dicari orang,” kata dia. 



Sucipto berharap bisa mendapat pasokan buah sirsak lebih banyak lagi dari Banyuwangi. Dia ingin membantu warga yang memiliki tanaman sirsak tanpa harus mendatangkan sirsak dari kabupaten lain.



Sementara itu, Bupati Ipuk meminta Dinas Pertanian mendampingi warga guna peningkatan produktivitas sirsak. ”Bisnis frozen fruit adalah solusi tepat bagi petani hortikultura saat panen berlimpah. Komoditas yang tidak sempat terjual bisa dibekukan, jadi tidak membusuk percuma. Jadi, usaha ini harus kita dukung,” ujarnya.



Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Arief Setyawan menambahkan, untuk membantu ketersediaan sirsak dan markisa, pihaknya akan melakukan sekolah lapang (good agriculture practices/GAP) untuk petani. Diharapkan, petani bisa membudidayakan kedua komoditas tersebut dengan teknik yang tepat sehingga bisa mendukung ketersediaan sirsak dan markisa di Banyuwangi. ”Selain pelatihan, kami juga akan berikan bantuan bibitnya,” pungkasnya. (sgt/afi/c1)



Editor : Ali Sodiqin
#pertanian