Radarbanyuwangi.id –Hari Minggu pagi yang bingung mau kemana tak perlu bersusah hati. Di jantung kota Banyuwangi terdapat destinasi wisata keluarga yaitu Banyuwangi Creative Market (BCM). Lokasinya berada di Jalan Diponegoro persis sisi barat Taman Blambangan, Banyuwangi.
Ruas jalan sepanjang lebih kurang 500 meter ini akan penuh sesak dengan kemeriahan pelapak Usaha Mikro Kecil dan Memengah (UMKM). Kawasan BCM yang ada saat ini juga sering disebut masyarakat dengan sebutan Car Free Day. Sebab dulunya lokasi ini merupakan bagian ruas jalan yang masuk dalam program bebas asap kendaraan.
Saat datang ke area BCM, pengunjung akan disambut sebuah balon gate berwarna pink. Keberadaannya menjadi penada pintu masuk dan keluar dari zona pelapak disana. Masuk kedalam lebih jauh, pengunjung akan disajikan pemandangan ratusan lapak yang berbaris rapi.
Keberadaan pelapak ini tampak memadati seluruh bagian ruas jalan. Tidak kurang dari 250 pelapak kini menjadi member tetap kegiatan mingguan ini. Hebatnya lagi, tidak hanya pelapak makanan seperti dimsum, cilok, sosis bakar, atau minuman dan lainnya, yang ada di area ini.
Pelaku UMKM khusus seperti fashion dengan ragam koleksi busana bisa menjadi pilihan untuk menambah gaya berpakaian. Bahkan bagi penghobi tanaman hias. Zona BCM ini juga menyediakan tempat khusus bagi mereka untuk bertransaksi dan saling mengais ilmu soal tanaman.
Kehadiran pelapak ini telah dikelompokkan sesuai zonasi yang telah ditetapkan. Terdapat 4 Zona dalam kegiatan BCM yakni Kuliner , tanaman hias dan hewan , komunitas dan fashion . Jadi selama kegiatan, mereka tidak akan tercampur dengan lainnya.
“Pengunjungi bisa saling mengunjungi zona satu dengan lainnya sesuai kebutuhannya disini. Adanya zona wahana permainan membuat BCM ini bisa jadi liburan bersama keluarga,” beber Rachmat Hidayat Ketua BCM Banyuwangi.
Mereka mulai menggelar dagangannya sejak pukul 05.00 hingga 11.00. Kehadiran ratusan pelapak ini semakin membuat sekitaran area Taman Blambangan menjadi lebih hidup. Pengunjung Taman Blambangan tetap menjadi target segmen pasar terbesar mereka.
Kebanyakan dari mereka merupakan pengunjung yang baru saja beraktivitas seperti berolahraga atau bersantai di taman yang dulu bernama Tegal Loji ini. Usai berkeliling Taman Blambangan, pengunjung banyak yang kemudian menyempatkan diri berkunjung dan berkeliling ke bebarapa stan pelapak.
Ada yang sekadar melihat-lihat saja, dan ada juga yang akhirnya tergoda untuk menjajal sajian kuliner yang ditawarkan. Bahkan tidak sedikit juga pengunjung yang memang meniatkan diri untuk datang sekadar untuk kulineran.
Pilihan makanan disini juga beragam, mulai kategori jajanan sampai menu sarapan seperti nasi pecel, nasi kebuli , nasi bebek dan lainnya. Harganya pun cukup aman dan bersahabat. Bukan itu saja, ternyata pelaku UMKM di BCM ini juga melengkapi dirinya dengan kelengkapan administrasi dagangannya.
Mereka telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB). Belum lagi, mereka yang berdagang makanan juga telah bersertifikasi halal. Sebuah sertifikasi yang membuat umat muslim khususnya tidak perlu lagi ragu untuk berbelanja dan kulineran selama gelaran BCM berlangsung.
“Disini enak lokasinya dekat dari mana pun. Habis olahraga bisa langsung kulineran. Banyak pilihannya dan murah,” beber Ayu, salah satu pengunjung BCM asal Singotrunan.
Antusiasme masyarakat setiap pekan yang datang ke arena BCM inilah yang kemudian menjadi alasan banyak pelapak melempar senyum. Apalagi kalau bukan senyum itu menandakan bahwa kehadiran masyarakat membuat omzet mereka menjadi terkatrol.
Usut punya usut dalam bisik-bisik sesama pedagang di sana. Total omzet pelapak yangterkumpul di BCM mampu menembus angka di kisaran Rp 80 juta. Jumlah yang tergolong lumayan untuk sebuah ‘pasar’ yang buka dalam tempo waktu mingguan atau sekali dalam sepekan.
Padahal dulunya sebelum ada BCM, pedagang ini harus kerja keras untuk mencari tempat strategis terutama saat akhir pekan. Rachmat Hidayat masih ingat betul bagaimana mereka ngemper di pinggir jalan bersama pedagang lainnya.
Hasil tak menentu dan yang ada sering diusir oleh Satpol PP karena dianggap berjualan di sembarang tempat. Tapi sejak 2019, kehadiran arena BCM ini menjadi berkah para pedagang. Berdagang di lokasi ini membuat pedagang merasakan efek perputaran roda perekonomian yang sesungguhnya.
Ada pelapak yang mulai bisa memantapkan biaya untuk pendidikan buah hatinya hingga perguruan tinggi, menambah modal usaha, sampai memperbaharui perangkat dagangannya. Belum lagi, keberadaan pelapak UMKM mendapat apresiasi dan acungan acungan jempol dari Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM RI Arif Rahman Hakim.
Dalam kunjungan kerjanya di Banyuwangi pada 18 Februari 2024 lalu, banyak dialog yang terjadi dalam kehadirannya di area BCM. Selain menjajal menu pelapak. Arif Rahman Hakim juga menawarkan kepada pedagang untuk melakukan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Hal tentu yang membuat pelapak menjadi bersemangat.Tak pelak sambutan hangat pun mulai bermunculan dari kalangan pelaku UMKM di Banyuwangi. Bahkan kini pengurus BCM sendiri sampai harus menetapkan daftar tunggu terhadap pelapak yang berminat gabung.
Editor : Niklaas Andries