Jumlah tersebut lebih tinggi dari tingkat populasi sapi potong yang mencapai 116.784 ekor berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi.
Kepala Bidang Budidaya dan Usaha Peternakan Dispertan Banyuwangi Abdurrazak mengatakan, tingginya populasi domba dibarengi dengan melejitnya peternakan domba di masyarakat.
Hal ini dipengaruhi oleh menurunnya peternakan sapi potong imbas penyakit PMK (penyakit mulut dan kuku) serta penyakit lumpy skin disease (LSD) yang menyasar ternak tersebut.
“Ternak domba menjadi alternatif pilihan masyarakat. Selain permintaan sangat tinggi, harganya juga stabil,” ujar Zaky, panggilan akrab Abdurrazak.
Saat ini harga domba di pasaran mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per ekor, tergantung bobot dan jenisnya.
“Harga domba juga sangat stabil karena tidak ada kebijakan pemerintah pusat untuk melakukan impor domba dari luar negeri,” kata Zaky.
Selain sapi, saat ini Banyuwangi masih menjadi kabupaten penyuplai domba terbesar di Jawa Timur.
“Domba-domba dari Banyuwangi bahkan ada yang diekspor ke luar negeri. Jadi ada buyer di Jatim mengambil domba dari Banyuwangi dan diekspor ke Malaysia,” katanya.
Untuk mendukung tingkat populasi domba di Banyuwangi, Dispertan mengoptimalkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang tersebar di sejumlah wilayah di Bumi Blambangan.
Di antaranya ada di Kecamatan Cluring, Kalibaru, Rogojampi, dan Muncar. BPP bertugas memberikan melakukan pendampingan pelatihan kepada peternak. Apalagi BPP yang tersebar juga memiliki kandang dan domba sendiri.
“Peternakan kami bukan untuk komersil melainkan untuk mengedukasi masyarakat, pelajar dan peternak secara langsung,” cetusnya. (rio/aif)
Editor : Niklaas Andries